Telset.id – GoPro, perusahaan kamera aksi asal California, mengumumkan bahwa mereka telah menyewa bank investasi Houlihan Lokey untuk mengevaluasi “potensi penjualan dan alternatif strategis lainnya.” Langkah ini diambil setelah rencana perusahaan untuk merambah sektor pertahanan dan aerospace tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
Pengumuman tersebut muncul pada Kamis waktu setempat, menyusul lonjakan harga saham GoPro yang sempat hampir dua kali lipat setelah perusahaan mengumumkan eksplorasi pasar pertahanan pada bulan lalu. Namun, kenaikan itu hanya bertahan beberapa hari sebelum akhirnya kembali turun. Dewan direksi GoPro menyatakan bahwa mereka baru-baru ini menerima “beberapa pertanyaan strategis yang tidak diminta dari berbagai pihak di berbagai sektor termasuk pertahanan, konsumen, dan keuangan.”
Ini bukan pertama kalinya GoPro mempertimbangkan untuk dijual. Pendiri sekaligus CEO Nick Woodman pernah mengatakan bahwa opsi tersebut sempat dibahas pada tahun 2018. Namun, situasi keuangan perusahaan saat ini jauh lebih genting.
Kinerja Keuangan Memburuk
Data dari laporan keuangan GoPro menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Penjualan perusahaan menurun, kerugian meningkat, dan harga sahamnya sempat stagnan di sekitar USD 1 dua tahun lalu. Kondisi ini memaksa perusahaan untuk mengambil langkah drastis.
Bulan lalu, GoPro mengumumkan akan memberhentikan seperempat dari total tenaga kerjanya. Jumlah karyawan perusahaan saat ini telah menyusut menjadi kurang dari 600 orang, padahal sebelumnya pernah mempekerjakan hingga 1.500 orang. PHK massal ini menjadi indikasi paling jelas bahwa perusahaan sedang berjuang keras untuk bertahan.
Strategi Pivot ke Pertahanan Gagal
Keputusan GoPro untuk beralih ke sektor pertahanan sebenarnya masuk akal. Perusahaan ini dikenal memproduksi kamera dengan kualitas gambar terbaik yang juga cukup tahan banting untuk bertahan dari kecelakaan sepeda motor atau bahkan jatuh dari luar angkasa. Di tengah membengkaknya anggaran Pentagon, kontrak pemerintah tampak seperti jalan yang viable untuk keluar dari kesulitan.
Namun, strategi tersebut ternyata tidak cukup ampuh. Harga saham GoPro yang sempat melonjak setelah pengumuman pivot pada bulan lalu kini telah kembali jatuh. “Tampaknya ide ‘pivot ke pertahanan’ tidak sekokoh kamera GoPro,” tulis laporan TechCrunch.
Baca Juga:
Masa Depan GoPro di Tanda Tanya
GoPro pernah menjadi primadona teknologi 15 tahun lalu. Perusahaan yang menciptakan kategori kamera aksi ini berhasil bertahan dari berbagai gempuran pesaing yang dijuluki “GoPro killer,” mulai dari kamera aksi TomTom hingga Google Clips. Namun, bertahan tidak selalu berarti sukses.
Keputusan untuk menyewa Houlihan Lokey menunjukkan bahwa GoPro kini serius mencari jalan keluar. Dengan kondisi keuangan yang memburuk, PHK massal, dan strategi diversifikasi yang gagal, opsi penjualan menjadi semakin realistis. Pasar akan menunggu apakah ada pembeli yang tertarik mengakuisisi perusahaan yang pernah menjadi ikon teknologi konsumen ini.
Bagi penggemar kamera aksi, situasi ini mungkin mengecewakan. GoPro telah menjadi pemimpin pasar selama bertahun-tahun dengan produk-produk andalannya. Namun, persaingan dari merek seperti Insta360 X4 yang menawarkan resolusi 72MP dan inovasi lainnya terus menggerus pangsa pasar GoPro.
Ke depannya, keputusan dewan direksi akan sangat menentukan nasib perusahaan. Apakah GoPro akan diakuisisi oleh perusahaan pertahanan, raksasa teknologi, atau justru pemain baru di industri kamera? Jawabannya masih belum jelas, tetapi satu hal yang pasti: GoPro sedang berada di persimpangan jalan yang paling kritis dalam sejarahnya.





Komentar
Belum ada komentar.