INTERNET

Alibaba China Milik Taipan Jack Ma Terancam Bangkrut?

Sigit Nugraha
Share

Telset.id, Jakarta – Alibaba China milik Jack Ma adalah satu dari ratusan perusahaan yang terancam delisting atau tidak lagi tercatat di bursa efek. Akibatnya, perusahaan e-commerce raksasa Chine itu bisa terancam bangkrut.

Alibaba China terancam delisting, yang biasanya disebabkan penghentian operasi, bangkrut, terjadi merger, atau sydah tak memenuhi persyaratan.

Komisi sekuritas dan nursa mengatakan, saham raksasa e-commerce China tersebut turun sekitar 10 persen pada perdagangan akhir pekan kemarin.

Alibaba adalah satu di antara lebih dari 270 perusahaan China yang terdaftar di New York, Amerika Serikat, yang diidentifikasi berisiko delisting.

BACA JUGA:

Mereka di bawah Holding Foreign Companies Accountable Act. Mereka menghadapi perselisihan atas kepatuhan audit perusahaan China di AS.

Regulator AS telah menuntut akses penuh untuk mengaudit kertas kerja perusahaan China yang terdaftar di New York, yang disimpan di China.

Seperti Telset kutip dari New York Post, Senin (1/8/2022), Washington dan Beijing kabarnya sedang mencoba menyelesaikan perselisihan tersebut.

Operator KFC Yum China Holdings, biotek BeiGene, Weibo, dan JD.Com termasuk perusahaan China yang dapat menghadapi ancaman delisting.

SEC tidak akan mengirim inspektur akuntan publik ke China atau Hong Kong, kecuali Washington dan Beijing memang menyetujui akses audit lengkap.

Ketua SEC, Gary Gensler, mengatakan, dewan pengawas akuntansi perusahaan publik harus mampu akuntabel dalam audit perusahaan asing di Wall Street.

Alibaba China milik Jack Ma memiliki waktu hingga 19 Agustus 2022 mendatang untuk menyerahkan bukti yang memperdebatkan mengenai identifikasi.

Perusahaan tidak ber komentar. Ma berencana menyerahkan kendali keuangan Ant Group saat Ant siap restrukturisasi menjadi perusahaan induk keuangan.

Saham Alibaba yang terdaftar di Hong Kong anjlok 49 persen pada  awal Agustus 2022. Di New York, sahamnya diperdagangkan sebesar USD 89,37.

BACA JUGA:

Kedua set saham yang terdaftar mengalami penurunan hampir 25 persen sepanjang tahun ini karena perusahaan memerangi ancaman delisting.

Analis di Jefferies menyebut, penurunan harga saham Alibaba China sebagai reaksi spontan terhadap berita potensi tak lagi terdaftar di bursa efek. [SN/HBS]

 

Leave a Comment