📑 Daftar Isi

Ilustrasi protes insinyur Amazon terhadap pembangunan data center di Seattle

Insinyur Amazon Protes Data Center di Seattle

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Dua insinyur Amazon, Liesl Wigand dan Patrick Schloesser, secara terbuka menentang pembangunan data center di Seattle.
  • Mereka menyerukan regulasi ketat dari pemerintah kota terkait energi terbarukan dan dampak lingkungan.
  • Schloesser meminta pusat data memasok lebih banyak energi terbarukan dan pajak baru bagi perusahaan teknologi.
  • Keduanya anggota Amazon Employees for Climate Justice yang mengadvokasi dampak lingkungan bisnis Amazon.
  • Seattle mempertimbangkan moratorium satu tahun izin pembangunan data center untuk menyusun regulasi.

Telset.id – Dua insinyur perangkat lunak Amazon secara terbuka menentang pembangunan pusat data besar-besaran di Seattle, menyerukan regulasi ketat dari pemerintah kota. Dalam sebuah sidang komite kota, Liesl Wigand, insinyur senior Amazon, menyatakan bahwa pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan komunitas harus menentukan persyaratan pembangunan pusat data. Ia memperingatkan agar “Big Tech tidak membakar Seattle untuk memenangkan perlombaan AI.”

Pernyataan ini, bersama dengan komentar dari insinyur Amazon lainnya, Patrick Schloesser, menandai eskalasi signifikan dalam gerakan protes di AS terhadap pembangunan pusat data yang cepat. Para pekerja di beberapa perusahaan teknologi besar sebelumnya telah mengeluhkan dampak negatif pusat data, tetapi belum ada yang melakukannya secara terbuka dan eksplisit seperti yang dilakukan kedua insinyur ini.

Kritik Terhadap Pembangunan Data Center

Schloesser, yang telah bekerja di Amazon selama hampir enam tahun, mengkritik kebijakan perusahaan terkait konsumsi energi. Ia menegaskan bahwa pusat data harus memasok lebih banyak energi terbarukan daripada yang mereka konsumsi dan menyediakan penyimpanan daya untuk mendukung jaringan listrik secara keseluruhan. Selain itu, Schloesser juga menyerukan pajak baru bagi perusahaan teknologi dan pembentukan “komite keselamatan yang dipimpin pekerja yang melapor ke kota” tentang alat AI yang “menjadi risiko” bagi Seattle.

Kedua insinyur tersebut adalah anggota dari kelompok pekerja yang dikenal sebagai Amazon Employees for Climate Justice. Kelompok ini telah lama mengadvokasi agar perusahaan lebih baik dalam mengatasi dampak lingkungan dari bisnisnya. Anggota kelompok lainnya diperkirakan akan berbicara di sidang kota lainnya mengenai moratorium satu tahun untuk izin pembangunan pusat data.

“Perusahaan teknologi sangat ingin membangun pusat data, memberi Seattle pengaruh untuk mendapatkan konsesi dari mereka,” ujar Schloesser. Ia menambahkan bahwa kota memiliki posisi tawar yang kuat untuk memaksakan aturan yang lebih ketat.

Dalam konteks yang lebih luas, perusahaan teknologi dan pengembang real estat telah mengumumkan rencana untuk menghabiskan ratusan miliar dolar guna membangun puluhan pusat data di seluruh AS. Langkah ini didorong oleh permintaan yang melonjak untuk chatbot kecerdasan buatan dan teknologi AI generatif lainnya. Komunitas di hampir setiap negara bagian telah mengorganisir protes terhadap proyek-proyek ini, dengan kekhawatiran utama meliputi penggunaan listrik dan air, limbah beracun, emisi berbahaya, kebisingan, keringanan pajak, dan apakah AI layak untuk dikembangkan.

Regulasi dan Dampak Lingkungan

Di Seattle, pejabat kota sedang mempertimbangkan moratorium satu tahun untuk menerbitkan izin pembangunan pusat data. Langkah ini bertujuan memberikan waktu untuk menetapkan regulasi yang tepat. Saat ini, Seattle tidak memiliki aturan khusus yang mengatur pusat data. Kota tersebut mengakui memiliki beberapa pusat data skala kecil, tetapi beberapa perusahaan telah menyatakan minat untuk mendirikan proyek “skala besar.”

Kedatangan pusat data besar dapat mendorong kenaikan harga air dan listrik bagi warga lainnya serta meningkatkan emisi karbon. Saat ini, kota memiliki kewenangan minimal untuk melakukan intervensi. Para pekerja Amazon yang berbicara dalam sidang tidak secara eksplisit mendukung moratorium tersebut, tetapi menjelaskan manfaat dari penetapan aturan yang lebih luas bagi industri.

Ketidakpuasan pekerja terhadap fokus perusahaan pada pengembangan AI juga meluas ke perusahaan teknologi besar lainnya. Tahun lalu, lebih dari 1.000 karyawan Amazon secara anonim menandatangani surat terbuka yang memperingatkan bahaya dari pendekatan pengembangan AI yang “membenarkan segala biaya dan kecepatan tinggi.” Karyawan Microsoft juga telah lama menyuarakan kekhawatiran tentang AI yang mendorong produksi minyak dan gas. Baru-baru ini, karyawan Meta mengajukan petisi menentang pelacakan perangkat lunak di laptop mereka untuk melatih sistem AI.

Di Inggris, karyawan Google tahun ini membentuk serikat pekerja, sebagian besar karena oposisi terhadap sistem AI perusahaan yang dikontrak untuk penggunaan militer yang dianggap mengkhawatirkan. Namun, penyelenggara Amazon Employees for Climate Justice percaya bahwa belum ada pekerja di perusahaan mana pun yang secara terbuka mengadvokasi regulasi pusat data atas nama mereka sendiri.

Seorang mantan manajer Amazon yang tinggal di Seattle mempertanyakan perlunya menempatkan pusat data di daerah perkotaan, mengingat teknologi yang ada memungkinkan fasilitas tersebut dibangun jauh dari pusat populasi. Ia juga mempertanyakan perlunya regulasi yang dapat memperlambat kemajuan industri, tetapi mendukung hak pekerja untuk berbicara tanpa pembalasan dari Amazon.

Insiden ini menyoroti ketegangan yang semakin besar antara perusahaan teknologi besar, pekerja mereka, dan komunitas lokal. Sementara perusahaan berlomba membangun infrastruktur AI, kekhawatiran tentang dampak lingkungan dan sosial semakin mengemuka. Wajah Baru Amazon Fire TV mungkin menarik perhatian konsumen, tetapi protes internal ini menunjukkan bahwa ada harga yang harus dibayar untuk kemajuan teknologi.

Perkembangan ini masih berlangsung. Sidang lanjutan diharapkan akan membahas lebih detail tentang moratorium dan regulasi pusat data di Seattle. Sikap tegas para insinyur Amazon ini bisa menjadi preseden bagi pekerja teknologi lainnya untuk menyuarakan keprihatinan mereka secara lebih terbuka.

Amazon belum memberikan komentar resmi atas pernyataan karyawannya. Namun, tekanan publik dan internal ini dapat memaksa perusahaan untuk mempertimbangkan kembali strategi pembangunan pusat data mereka, terutama di daerah perkotaan seperti Seattle.

Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap inovasi AI, terdapat perdebatan sengit tentang dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Para insinyur yang membangun teknologi ini justru menjadi yang paling vokal dalam menuntut pertanggungjawaban.

Komentar

Belum ada komentar.