Telset.id – Huawei P10, Oppo F3+, LG G6, iPhone 7 Plus, Coolpad Cool Dual, Vivo V5 Plus, Nubia M2, Infinix S2 pro, semua smartphone tersebut hadir dengan konfigurasi dual camera. Mulai dari kelas smartphone hi-end sampai mid-end sekarang sedang berlomba-lomba mengusung teknologi dual camera pada smartphone mereka, baik disematkan pada main camera di belakang, atau pada kamera selfie di depan.
Teknologi dual camera sekarang dianggap sebagai jawaban atas tuntutan pengguna smartphone yang terus menginginkan hasil kamera smartphone sebaik mungkin, karena sekarang ini sebagian besar foto digital yang dihasilkan di Internet terutama di sosial media, diambil melalui smartphone. Sementara keterbatasan bentuk, ruang, dan ukuran smartphone, tidak memungkinkan teknologi kamera smartphone dibuat seperti kamera profesional pada umumnya.
Awalnya dual camera pada smartphone ada pada smartphone hi-end dan digunakan untuk kamera utama, tetapi ketenarannya segera dibawa kepada smartphone mid-end, bahkan sebagian digunakan untuk kamera selfie. Pengguna smartphone untuk selfie tidak bisa dianggap remeh, karena sebagian besar foto selfie atau wefie yang beredar, diambil menggunakan kamera smartphone. Bahkan tujuan kamera depan yang pada awalnya dibuat lebih untuk video call, dengan besar megapixel seadanya untuk ukuran data video yang kompak, sekarang sudah benar-benar berubah menjadi kamera untuk selfie.
Sebenarnya bagaimana teknologi dual camera bekerja, sehingga bisa menjadi trend seperti sekarang dan masih akan terus berkembang? Secara umum kerja kamera pada smartphone dan kamera DSLR digital mirip dalam proses pengambilan gambarnya, hanya perbedaan mencolok adalah di ukuran lensa dan ukuran sensor kamera diantara keduanya.

Prinsip dasar dari kamera atau fotografi adalah “menangkap” cahaya. Setiap benda atau objek yang kita foto sebenarnya memantulkan cahaya, menjadi bentuk berwarna yang bisa kita lihat. Pantulan cahaya ini yang kita coba tangkap menjadi sebuah foto.
Pertama cahaya masuk melalui lensa kamera, dimana lensa kamera jika mendukung autofocus, lensanya akan bergerak untuk mendapatkan fokus yang diinginkan. Autofocus ini bisa secara otomatis, atau kita tap pada layar untuk lebih fokus ke objek tertentu. Setelah fokus didapat, cahaya diterima oleh sensor kamera, sesuai panjang gelombang cahaya yang menentukan warna benda dan melewati filter warna, hasilnya direkam pada setiap pixel sensor kamera.

Semakin besar ukuran setiap pixel sensor kamera /photo diode (bukan ukuran megapixel kamera) , semakin banyak cahaya bisa ditangkap. Data yang diterima sensor kamera akan diolah oleh ISP (Image Signal Processing) yang biasanya sudah menjadi satu kesatuan dari SoC (System on Chip), atau yang sering kita sederhanakan dengan istilah prosesor. Seberapa bagusnya ISP ini akan sangat berpengaruh terhadap hasil gambar dasar.
ISP ini “menebak” setiap tangkapan cahaya disetiap pixel sensor kamera ini berwarna apa, dan apa warna pixel di sebelahnya. Demikian terus menerus dan menterjemahkannya dalam data digital, yang setelah melewati post processing algoritma dari software kamera akan menjadi hasil foto yang kita lihat.
Semakin cepat dan baik kerja ISP, semakin cepat juga shutter kamera bisa bekerja. ISP ini juga yang menentukan autofocus, autowhitebalance, autoexposure. Jadi jika kamera smartphone kita bekerja cepat atau lambat, bisa jadi bukan karena pengaruh brand smartphone kita, tetapi bergantung pada type SoC apa yang digunakan smartphone tersebut.
Keterbatasan ruang pada smartphone membuat lensa kamera dan sensor kamera smartphone cenderung jauh lebih kecil dibanding kamera profesional seperti DSLR. Sensor kamera DSLR yang besar, akan memiliki pixel yang besar yang mampu menangkap detail cahaya lebih baik. Sensor kamera DSLR ukurannya bisa 50x lebih besar dibanding ukuran sensor kamera smartphone, sementara setiap pixel sensornya yang berukuran sangat kecil dengan satuan micron, bisa berukuran 6 kali lebih besar dibanding ukuran pixel sensor kamera smartphone.

Karena ukuran pixel sensor kamera ini sangat berperan dalam menangkap jumlah cahaya, sebenarnya bisa mematahkan anggapan kebanyakan orang bahwa kamera smartphone dengan megapixel yang besar berarti akan memiliki hasil foto yang lebih baik. Dengan ukuran sensor yang cenderung kecil, untuk memiliki pixel sensor berukuran besar dan bisa menangkap cahaya dengan lebih baik, berarti ada ukuran megapixel kamera yang harus dikorbankan, atau dianggap optimal.
Makanya kamera-kamera hi-end sekarang yang menempati jajaran kamera smartphone dengan hasil terbaik, biasanya ukuran megapixel kameranya tidak berlebihan, sekitar 12-16 MP. Mereka memilih keseimbangan antara ukuran pixel sensor kamera (photo diode) dengan ukuran megapixel kamera.

Jika ingin menangkap megapixel kamera yang besar, maka setiap pixel sensor kamera harus dibuat lebih kecil ukurannya, agar dalam ukuran sensor yang sama, bisa menampung pixel yang lebih banyak, dan pixel kamera yang kecil cenderung lebih sedikit menangkap cahaya, kurang bisa bekerja optimal untuk foto di tempat yang temaram, dan cenderung mudah noise.
Dengan keterbatasan ukuran sensor kamera tersebut, akhirnya harus dicari cara supaya kamera smartphone sebisa mungkin menangkap gambar yang lebih tajam, dan lahirlah salah satu cara dengan menggunakan dual camera. Sebenarnya dual camera ini bukan teknologi yang benar-benar baru, beberapa tahun lalu teknologi ini sudah dicoba untuk pendekatan lain, misalnya HTC mencobanya untuk menghasilkan gambar 3D tanpa harus menggunakan kacamata pada produk Evo 3D, atau menghasilkan foto bokeh dengan dual camera di HTC M8.

Tetapi ternyata seringkali bukan yang pertama mencoba yang berhasil membuat trend. Trend dual camera baru berkembang setelah Huawei dan Apple menggunakannya, dan tidak hanya merembet untuk digunakan pada smartphone hi-end, tetapi juga digunakan untuk smartphone mid-end.
Smartphone hi-end menggunakan teknologi dual camera ini untuk berusaha memberikan hasil foto yang lebih prima, sementara smartphone mid-end masih lebih banyak menawarkan teknologi ini sebagai marketing trend. Keberadaan trend dual camera juga dipicu dengan SoC prosesor yang memang sudah mendukung dual ISP, yang memungkinakan pada saat bersamaan bisa memproses gambar dari dua lensa dan sensor yang berbeda.
Teknologi dual camera yang digunakan masing-masing vendor memiliki pendekatan yang berbeda. Ada pendekatan dengan teknologi yang baru dan terintegrasi, ada pendekatan dengan sekedar menggunakan dua macam lensa saja. Teknologi dengan pendekatan yang lebih baru dan terintegrasi misalnya dilakukan oleh Apple dan Huawei. Apple pada iPhone 7plus menggunakan dual kamera pada kamera utama dengan perbedaan focal length lensa, satu lensa wide dengan focal length equivalent 28mm, dan satu lagi lensa telephoto equivalent 56mm.
Pada lensa 56mm ini, area yang dicakup foto sempit, tetapi objek menjadi terlihat lebih dekat 2x dibanding lensa yang wide. Jadi teknologi zoom yang dimiliki iPhone 7plus bukan zoom karena lensa bisa maju mundur seperti pada kamera DSLR yang biasa kita lihat, tetapi karena sifat lensanya sendiri.

Yang sebenarnya menarik dari teknologi dual camera pada iPhone 7 Plus adalah foto potrait bokeh. Pada kamera DSLR, ukuran dan panjang lensa yang bisa diatur sanggup membuat foto-foto bokeh yang bagus, dimana objek sangat fokus, tetapi backgroundnya blur, menampilkan foto yang terasa efek kedalamannya, sementara pada smartphone karena baik objek dan background sama-sama fokus, foto terlihat flat.
iPhone 7 Plus menggunakan ke dua kamera untuk mendapatkan pemisahan yang jelas mana objek di depan dan mana objek di belakang, terbantu oleh focal length lensa yang berbeda sehingga bisa membuat foto potrait dengan background blur lebih baik. Tetapi fungsi ini kan sudah digunakan sejak lama? Ternyata kelebihan di foto potrait iPhone 7plus adalah penggunaan AI atau artificial intelligence untuk memberikan tampilan bokeh semirip mungkin dengan kamera DSLR. Machine learning (AI) membuat algoritma proses penggabungan foto belajar dari banyak data contoh, bagaimana hasil foto potrait bokeh yang bagus.

Pada smartphone Huawei, misal di P9 atau P10, menggunakan pendekatan dual camera lain, lensa dengan sensor kamera monokrom dipadu dengan lensa standar RGB (berwarna). Sensor monokrom ini tidak menggunakan filter warna untuk memisahkan warna pada pixel sensor, tetapi hanya mengejar kontras, seberapa terang cahaya masuk dan seberapa gelap bagian yang lain, sehingga hasilnya foto hitam putih.
Sensor kamera tanpa filter warna ini menghasilkan foto dengan terang gelap yang jelas dan tajam. Kemudian hasilnya dipadukan dengan gambar yang sama dengan sensor RGB, sehingga diharapkan mendapatkan foto berwarna dengan ketajaman yang lebih dan kontras yang bagus, termasuk foto-fota saat kondisi temaram.

Pendekatan LG dengan G5 atau G6 berbeda, satu dari lensa dual cam menggunakan lensa wide angle atau sudut lebar. Alasannya praktis, untuk jarak pemotretan standar misal di dalam ruang, seringkali kamera dengan lensa standar tidak cukup lebar untuk menangkap objek foto, atau ketika akan memotret gedung-gedung, perlu menjauh dari objek untuk kamera dapat meng-cover keseluruhan gedung.
Rata-rata kamera standar memiliki field of view horisontal sekitar 70 derajat. Pada LG G6 digunakan kamera lensa sudut lebar dengan fov horisontal 125 deratjat. Dengan lensa sudut lebar ini, dari jarak yang lebih dekat ke objek, bisa mendapatkan foto yang lebih luas.

Pola yang sama juga digunakan Oppo, tetapi untuk kamera selfie, tujuannya dalam jangkauan terbatas jarak tangan, dengan lensa sudut lebar bisa didapat foto selfie dengan background yang luas atau foto wefie, foto selfie dalam grup. Lensa sudut lebar ini bukan tidak ada kelemahannya, salah satu kelemahan utamanya adalah proporsi antara objek dan background juga gambar akan terdistorsi terutama pada bagian ujung.
Untuk itu perlu algoritma software yang bisa menkompensasi suapaya foto akhir yang dihasilkan memiliki proporsi yang lebih baik antara objek dengan background dan tidak memiliki gambar yang terlalu melengkung di sudut-sudut.
Beberapa brand mid-end melihat peluang marketing dual camera ini dan mengutamakan meletakkan dual camera pada kamera selfie, karena memang pasar kamera selfie ini cukup menjanjikan. Ada yang menggunakan dual kamera dengan lensa keduanya sama, hanya mengejar untuk membuat foto selfie dengan background blur, atau kebalikannya.
Teknologi dual camera tidak akan berhenti dengan beberapa konfigurasi yang sudah disebutkan di atas, ke depan, teknologi ini masih akan memungkinkan memberikan kombinasi yang lebih beragam. Paten Samsung memperlihatkan dual camera bisa menggunakan satu kamera untuk selalu fokus kepada objek yang bergerak dan satu kamera lagi untuk objek diam dibelakangnya.
Bisa saja nantinya teknologi dual kamera ini menangkap gambar bergerak dengan fokus yang sangat baik, dimana sekarang ini objek yang cenderung mudah bergerak seperti anak kecil, binatang peliharaan, sulit difoto dengan ketajaman jelas.
Teknologi dual camera ini juga sudah didukung dengan kehadiran ISP (Image Signal Processor) yang semakin mumpuni, misalnya dual spectra ISP milik Qualcomm yang bisa digunakan untuk 1 kamera hingga 32MP, atau dual camera masing-masing hingga 16MP.
Google sendiri sudah memanfaatkan 3 – 4 buah kamera untuk Project Tango-nya, menjadikan tablet dan smartphone dengan konfigurasi tersebut bisa digunakan untuk memetakan ruangan, mengetahui posisi objek terhadap kamera, mengetahui jarak, lebar, tinggi, baik objek maupun ruangan, yang bisa digunakan untuk keperluan engineering seperti pekerjaan sipil atau arsitektur.
Bahkan teknologi terkini, AR – Augmented Reality, menyatukan objek asli dengan objek rekaan atau buatan, misal mengisi ruangan dengan furniture, menampilkan mobil di garasi, hingga berbagai tipe dinosaurus yang sesuai dengan skala ruang.





