Ilmuwan Ungkap Cara Google Search Bantu Perangi Corona

Google Search perangi Corona 

Telset.id, Jakarta  – Ekonom dan pakar data menulis opini di New York Times, Minggu (5/4/2020), bahwa Google Search dapat membantu pejabat kesehatan menentukan titik episentrum virus corona. Dengan begitu, Google Search bisa bantu perangi Corona.

Seth Stephens-Davidowitz, seorang ilmuwan data, menulis bahwa pencarian untuk “Aku tidak bisa mencium” meningkat di negara-negara seperti Louisiana dan New York, dua negara yang paling terpukul virus corona di AS.

{Baca juga: Google Search jadi Guru Les untuk Ajari “Bahasa Gaul”}

Diketahui bahwa kehilangan rasa dan bau adalah indikator utama terinfeksi virus corona. Stephens-Davidowitz menunjukkan bahwa warga Ekuador melakukan lebih banyak pencarian terkait kehilangan penciuman.

“Pencarian untuk ‘no puedo oler (saya tidak bisa mencium)’ sekitar 10 kali lebih tinggi per pencarian Google di Ekuador daripada di Spanyol. Padahal, kasus Covid-19 di Ekuador jauh lebih sedikit daripada Spanyol,” tulisnya.

Seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Selasa (7/4/2020), ia mengunduh data pencarian Google tingkat negara pada minggu sebelumnya untuk lusinan gejala Covid-19. Hasilnya, ia menemukan tiga keluhan yang paling umum.

“Ketiganya adalah kehilangan bau, demam, dan kedinginan. Pencarian keempat yang paling umum berupa sakit mata. ‘Mataku sakit’ adalah pencarian tinggi di Spanyol pada Februari 2020 lalu,” ujar Stephens-Davidowitz.

{Baca juga: Makin Canggih, Google Search Kini Didukung Teknologi BERT}

Namun opini yang menyebutkan pencarian Google bisa membantu perangi corona ini bertolak belakang dengan hasil temuan sebelumnya, yang menyebutkan Google Search memanipulasi hasil pencarian.

Wall Street Journal menemukan beberapa hal tentang Google Search yang berbau manipulasi. Sebagai contoh, seperti dilansir Phone Arena, algoritme Google untuk Search membuat bisnis yang lebih besar lebih disukai daripada yang lebih kecil.

Dikutip Telset.id, Senin (18/11/2019), Google menggunakan algoritma dan daftar hitam untuk mencegah topik kontroversial tertentu muncul di bidang pencarian saat pelengkapan otomatis. Wall Street Journal pun menguji mesin pencarian Google dengan mesin pencari lain.

Wall Street Journal menggunakan DuckDuckGo dan Microsoft Bing. Ketika mengetik kata “Donald Trump adalah…”, Google Search menampilkan definisi “lebih tidak berbahaya”.

{Baca juga: Google Search Manipulasi Hasil Pencarian, Ini Buktinya!}

Berbicara tentang algoritma yang digunakan oleh Google untuk pencarian, seorang mantan karyawan dan direktur Google buka suara. Ia mengatakan, ada gagasan bahwa algoritma pencarian menunjukkan semacam informasi yang salah atau hasil berkualitas rendah.

Bahkan, informasi mengungkapkan, sekitar dua miliar hasil pencarian di Search setiap tahun berisi tentang informasi yang tidak dapat dipercaya. Di Eropa, ditemukan fakta bahwa Google mengubah hasil pencarian untuk mempromosikan produk buatannya sendiri.

Virus corona telah menginfeksi 1,2 juta orang di seluruh dunia dan membunuh sekitar 70.000 orang. Tidak ada obat atau vaksin untuk virus itu sehingga pejabat kesehatan bersikeras bahwa jarak sosial merupakan solusi terjitu. [SN/HBS]

 

SOURCENew York Post
Previous articleNASA Beberkan Rencana Penempatan Pangkalan di Bulan
Next articleController PlayStation 5 Dipamerkan, Desainnya Futuristik!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here