Telset.id – Setelah hampir satu dekade berjuang dan hanya berhasil menjual 15 atau 16 unit mobil, Faraday Future kini beralih ke bisnis robotik. Perusahaan rintisan mobil listrik asal Amerika Serikat itu resmi menjual robot humanoid seharga USD 89.900, atau sekitar Rp1,5 miliar, sebagai bagian dari strategi penyelamatan bisnisnya.
Faraday Future mungkin tidak asing bagi pengamat industri otomotif. Perusahaan yang sempat menjadi pusat perhatian setelah memamerkan mobil produksi pertamanya di CES 2017 ini kini berada di persimpangan jalan. Dalam hampir satu dekade terakhir, perusahaan dan pendirinya, YT Jia, mengalami gejolak keuangan yang cukup parah. Ditambah dengan sekitar selusin gugatan hukum, kekacauan internal, PHK massal, dan kebingungan soal pendanaan, banyak rencana Faraday Future terpaksa ditunda.
Pada Januari 2025, Faraday Future mengaku telah menjual “15 atau 16” kendaraan. Angka yang sangat kecil untuk sebuah perusahaan yang pernah digadang-gadang sebagai pesaing Tesla. Namun, di CES 2025, perusahaan kembali muncul dengan janji minivan listrik baru dan “awal yang baru.” Kembalinya pendiri YT Jia sebagai CEO global tunggal pada Mei 2026 sebagai bagian dari perombakan eksekutif yang lebih besar mungkin berarti definisi “baru” yang longgar.
Perusahaan masih melanjutkan strategi EV-nya, dengan model pra-produksi pertama dari MPV FX Super One yang selesai pada Desember 2025. Namun, kini tampaknya Faraday Future mengambil halaman dari buku Tesla dan mengarahkan lebih banyak energi ke robotik. Langkah ini menjadi sorotan utama mengingat sejarah perusahaan yang penuh kontroversi.
Bulan ini, Faraday Future membagikan detail baru tentang lini produk robotiknya. Ada model quadruped bernama Navi yang tampaknya ditargetkan untuk anak-anak guna mempelajari kecerdasan buatan tertanam (embodied AI). Robot itu dibanderol mulai dari harga di bawah USD 2.000, tetapi pembeli mungkin harus membayar ekstra untuk memberikan kepala anjing cetak 3D.
Perusahaan juga memiliki versi baru dari model humanoidnya yang disebut Futurist. Robot setinggi 5 kaki 8 inci ini dilengkapi dengan sistem kontrol gerakan seluruh tubuh NVIDIA Sonic dan dijual dengan harga hampir USD 90.000. Selain itu, Faraday Future juga menjual lengan robot kelas industri yang disebut sebagai “produk manipulator bergerak.” Tidak ada harga publik untuk produk ini, yang kemungkinan merupakan kode untuk sangat mahal, bahkan untuk pelanggan bisnis.
Terlepas dari banderol harga yang besar dan sejarah yang bisa disebut paling sopan sebagai “bermasalah,” perusahaan tampaknya mengandalkan setidaknya beberapa penjualan. Menurut siaran pers terbarunya, Faraday Future mengklaim pengiriman lebih dari 100 unit robotik pada Juni 2026. Total pengiriman untuk enam bulan pertama tahun ini “diperkirakan melampaui target awal kami sebanyak 220 unit.”
Strategi diversifikasi ini tentu menarik perhatian. Faraday Future yang sebelumnya hanya dikenal sebagai produsen mobil listrik kini merambah ke segmen robotik yang kompetitif. Apakah langkah ini akan menyelamatkan perusahaan atau justru menjadi babak baru dalam kisah panjang kegagalannya? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Bagi konsumen yang tertarik dengan robot humanoid, harga USD 89.900 tentu bukan angka yang murah. Namun, jika dibandingkan dengan produk sejenis dari kompetitor seperti Tesla Optimus atau Boston Dynamics, harga tersebut mungkin masih kompetitif. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Faraday Future memiliki kapasitas produksi dan layanan purna jual yang memadai?
Sejarah menunjukkan bahwa Faraday Future sering kali gagal memenuhi janji. Dari target produksi yang muluk hingga masalah kualitas, perusahaan ini telah melalui berbagai rintangan. Kini, dengan fokus baru pada robotik, mereka harus membuktikan bahwa mereka bisa belajar dari kesalahan masa lalu.
Salah satu tantangan terbesar adalah membangun kepercayaan konsumen. Setelah bertahun-tahun berita negatif, mulai dari tuntutan hukum hingga masalah keuangan, Faraday Future harus bekerja keras untuk meyakinkan pasar bahwa mereka serius dengan bisnis robotik. Kehadiran YT Jia sebagai CEO mungkin menjadi faktor penentu, tetapi rekam jejaknya juga tidak sepenuhnya bersih.
Di sisi lain, pasar robotik global diperkirakan akan terus tumbuh. Dengan adopsi AI dan otomatisasi yang semakin meluas, permintaan untuk robot humanoid dan industri diprediksi akan meningkat. Jika Faraday Future bisa memanfaatkan momentum ini, bukan tidak mungkin mereka bisa bangkit dari keterpurukan.
Baca Juga:
Namun, skeptisisme tetap ada. Banyak analis yang meragukan kemampuan Faraday Future untuk bersaing di pasar robotik. Dengan sumber daya yang terbatas dan reputasi yang buruk, perusahaan ini harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan. Apalagi, produk robotik membutuhkan investasi besar dalam riset dan pengembangan, serta layanan aftersales yang handal.
Faraday Future mengklaim telah menyelesaikan model pra-produksi pertama dari MPV FX Super One pada Desember 2025. Ini menunjukkan bahwa perusahaan masih berkomitmen pada bisnis mobil listrik, meskipun kini juga merambah robotik. Namun, dengan penjualan mobil yang sangat rendah, fokus pada robotik mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk bertahan.
Perusahaan juga menghadapi persaingan ketat dari pemain mapan seperti Tesla, Boston Dynamics, dan startup robotik lainnya. Masing-masing memiliki keunggulan dalam teknologi, pendanaan, dan basis pelanggan. Faraday Future harus menemukan ceruk pasar yang unik untuk bisa bersaing.
Dari segi harga, robot humanoid Futurist yang dibanderol USD 89.900 menempatkannya di segmen premium. Ini bisa menjadi strategi untuk menargetkan pelanggan korporat dan institusi riset yang membutuhkan robot canggih untuk berbagai aplikasi. Namun, tanpa track record yang solid, meyakinkan pelanggan untuk mengeluarkan uang sebanyak itu bukanlah tugas mudah.
Robot quadruped Navi yang lebih murah, dengan harga di bawah USD 2.000, mungkin lebih mudah dijangkau oleh konsumen individu. Namun, target pasarnya yang spesifik, yaitu anak-anak untuk belajar AI, mungkin membatasi potensi penjualannya. Ditambah lagi, harus membayar ekstra untuk kepala anjing cetak 3D bisa menjadi faktor penghambat.
Faraday Future juga menawarkan lengan robot industri yang disebut “mobile manipulator product.” Produk ini tampaknya ditujukan untuk pasar bisnis, tetapi tidak ada informasi harga yang jelas. Ini bisa menjadi produk unggulan jika berhasil, tetapi juga berisiko tinggi mengingat investasi yang diperlukan.
Satu hal yang menarik adalah klaim pengiriman lebih dari 100 unit robotik pada Juni 2026. Jika ini benar, maka Faraday Future berhasil menjual lebih banyak robot dalam satu bulan dibandingkan mobil dalam satu dekade. Namun, angka ini perlu diverifikasi mengingat sejarah perusahaan yang kerap melebih-lebihkan pencapaian.
Total pengiriman untuk enam bulan pertama tahun 2026 yang diperkirakan melampaui 220 unit juga menjadi indikator positif. Namun, pertanyaannya adalah, apakah target ini realistis? Apakah Faraday Future memiliki kapasitas produksi yang memadai? Dan yang paling penting, apakah ada permintaan pasar yang cukup untuk produk-produk ini?
Kembalinya YT Jia sebagai CEO tunggal pada Mei 2026 menjadi titik balik yang signifikan. Sebagai pendiri, ia memiliki visi dan dedikasi yang kuat untuk perusahaan. Namun, ia juga memiliki rekam jejak yang kontroversial, termasuk masalah hukum dan keuangan di masa lalu. Apakah ia bisa membawa Faraday Future ke arah yang lebih baik?
Faraday Future telah melalui banyak perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Dari perusahaan rintisan yang ambisius hingga hampir bangkrut, dan kini mencoba bangkit kembali dengan fokus baru. Perjalanan ini penuh dengan lika-liku dan pelajaran berharga. Kini, dengan robotik sebagai andalan baru, mereka harus membuktikan bahwa mereka bisa berubah.
Bagi konsumen dan investor, langkah Faraday Future ke robotik adalah sinyal bahwa perusahaan berusaha beradaptasi dengan tren pasar. Namun, tanpa fundamental bisnis yang kuat, diversifikasi ini mungkin hanya akan menjadi cerita lain dalam kisah panjang kegagalan. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah strategi baru ini akan berhasil.
Faraday Future kini berada di persimpangan jalan. Robotik mungkin menjadi jalan keluar, atau justru menjadi jalan buntu. Yang jelas, perusahaan harus segera membuktikan diri jika ingin bertahan di industri yang kompetitif ini. Dengan harga robot yang fantastis dan sejarah yang bermasalah, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan.
Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan kisah Faraday Future. Apakah robotik akan menjadi penyelamat atau justru memperburuk keadaan? Yang pasti, dunia akan terus mengawasi langkah selanjutnya dari perusahaan yang penuh kontroversi ini.
Di tengah semua ketidakpastian, satu hal yang pasti: Faraday Future tidak menyerah. Meskipun telah gagal di mobil listrik, mereka mencoba peruntungan di robotik. Ini adalah contoh kegigihan yang patut diacungi jempol, meskipun hasilnya masih belum jelas.
Apakah Anda tertarik untuk membeli robot dari Faraday Future? Atau Anda lebih percaya pada produsen robot lain yang lebih mapan? Pilihan ada di tangan Anda. Yang pasti, pasar robotik akan semakin menarik dengan kehadiran pemain baru seperti Faraday Future.
Faraday Future telah membuktikan bahwa mereka tidak mudah menyerah. Meskipun menghadapi berbagai rintangan, mereka terus berinovasi dan mencoba hal baru. Robotik adalah langkah berani yang bisa mengubah nasib perusahaan. Atau justru sebaliknya.
Kita akan melihat apakah Faraday Future bisa sukses di bisnis robotik. Atau apakah ini hanya akan menjadi cerita lain dalam sejarah panjang kegagalan perusahaan. Yang jelas, kita semua akan terus mengawasi.
Dari segi teknologi, robot humanoid Futurist yang dilengkapi NVIDIA Sonic terdengar menjanjikan. Namun, tanpa pengujian dan ulasan independen, sulit untuk menilai kualitas sebenarnya. Konsumen harus berhati-hati sebelum memutuskan untuk membeli.
Faraday Future harus membangun ekosistem yang mendukung produk robotiknya. Mulai dari produksi, distribusi, hingga layanan purna jual. Semua ini membutuhkan investasi besar dan manajemen yang baik. Apakah Faraday Future siap?
Sebagai penutup, langkah Faraday Future ke robotik adalah langkah yang berani dan menarik. Namun, seperti biasa, eksekusi adalah kuncinya. Tanpa eksekusi yang baik, strategi terbaik sekalipun akan sia-sia. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutannya.






Komentar
Belum ada komentar.