Dua raksasa kecerdasan buatan, OpenAI dan Anthropic, sedang berperang diam-diam di kampus-kampus. Bukan dengan senjata atau strategi militer, melainkan dengan tawaran fitur AI gratis untuk mahasiswa. Pertarungan ini bukan sekadar persaingan bisnis biasa—ini adalah pertarungan untuk menentukan siapa yang akan menjadi “wajah AI” bagi generasi berikutnya.
Perang Pengumuman: Saling Mendahului di Kampus
Seperti dua siswa yang saling pamer nilai ujian, Anthropic dan OpenAI berlomba mengumumkan inisiatif pendidikan mereka pekan ini. Anthropic memulai dengan peluncuran Claude for Education pada Rabu pagi, disusul OpenAI yang merespons dengan tawaran serupa tepat 24 jam kemudian. Pola ini semakin mengukuhkan dinamika persaingan ketat di antara keduanya.
Bagi Anthropic, ini merupakan langkah besar pertama mereka di dunia akademik. Mereka tidak hanya meluncurkan versi khusus chatbot Claude untuk universitas, tetapi juga menjalin kemitraan dengan:
- Northeastern University
- London School of Economics (LSE)
- Champlain College
Kolaborasi dengan Internet2 dan Instructure (pembuat platform Canvas) juga menjadi bagian dari strategi mereka untuk meningkatkan akses terhadap alat-alat AI di lingkungan kampus.
Mode Belajar: Bukan Sekadar Memberi Jawaban
Anthropic membawa pendekatan unik melalui fitur Learning Mode yang dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Alih-alih langsung memberikan jawaban, Claude akan memandu dengan pertanyaan-pertanyaan Sokrates seperti:
- “Bagaimana Anda akan mendekati masalah ini?”
- “Bukti apa yang mendukung kesimpulan Anda?”
Presiden LSE, Larry Kramer, menyambut positif inisiatif ini: “Sebagai ilmuwan sosial, kami berada di posisi unik untuk memahami dan membentuk bagaimana AI dapat mentransformasi pendidikan secara positif.”
OpenAI Tak Mau Kalah: Dari ChatGPT Edu Hingga Akses Gratis
OpenAI bukanlah pendatang baru di dunia pendidikan. Sejak Mei 2024, mereka telah meluncurkan ChatGPT Edu dan membentuk NextGenAI Consortium dengan komitmen dana $50 juta untuk penelitian AI di 15 perguruan tinggi. Februari lalu, mereka juga bekerja sama dengan California State University untuk menyebarkan ChatGPT Edu di semua kampus CSU.
Tanggapan terbaru OpenAI? Mereka menawarkan ChatGPT Plus—yang biasanya berbayar $20 per bulan—secara gratis untuk semua mahasiswa di AS dan Kanada hingga Mei. Fitur premium seperti unggahan file besar, Deep Research, dan kemampuan voice canggih kini bisa dinikmati tanpa biaya.
“Mahasiswa saat ini menghadapi tekanan besar untuk belajar lebih cepat, menyelesaikan masalah lebih rumit, dan memasuki dunia kerja yang semakin dipengaruhi AI,” kata Leah Belsky, Wakil Presiden Pendidikan OpenAI.
Mengapa Mahasiswa Jadi Rebutan?
Persaingan sengit ini mengungkapkan nilai strategis mahasiswa sebagai calon profesional masa depan. Perusahaan-perusahaan AI tidak hanya ingin membantu proses belajar—mereka ingin membentuk kebiasaan penggunaan AI sejak dini. Siapa pun yang berhasil menjadi alat utama di kampus hari ini, besar kemungkinan akan mendominasi pasar kerja besok.
Pertanyaannya sekarang: Akankah pendekatan pembelajaran aktif Anthropic lebih memikat dibandingkan fitur-fitur canggih OpenAI? Atau justru akses gratis ChatGPT Plus yang akan memenangkan hati mahasiswa? Jawabannya mungkin akan menentukan masa depan industri AI dalam dekade mendatang.