📑 Daftar Isi

Ilustrasi peringatan keamanan pada laptop Windows dengan dua kerentanan kritis yang belum ditambal

Dua Celah Keamanan Windows Kritis Belum Diperbaiki Microsoft

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Dua celah keamanan Windows kritis ditemukan: ShieldBreak (zero-day) dan Plug and Pwn (serangan USB)
  • ShieldBreak menembus patch RoguePlanet dan memberikan akses system privileges pada Windows 10, 11, dan Server
  • Plug and Pwn mengeksploitasi co-installer Windows untuk menginstal paket berbahaya sebagai akun System
  • Belum ada patch resmi dari Microsoft untuk kedua kerentanan ini
  • Mitigasi ShieldBreak: nonaktifkan Microsoft Defender atau gunakan deteksi dari Kevin Beaumont
  • Mitigasi Plug and Pwn: aktifkan nilai registri DisableCoInstallers dan batasi instalasi perangkat
  • Serangan jarak jauh Plug and Pwn bekerja pada sistem dengan USB redirection aktif, umum di lingkungan VDI

Telset.id – Dua celah keamanan Windows yang berbeda telah terungkap, dan keduanya memiliki satu benang merah yang mengkhawatirkan: memungkinkan penyerang mendapatkan hak akses sistem (system privileges) pada perangkat Windows, dan belum ada satupun yang ditambal oleh Microsoft. Kerentanan ini terdiri dari sebuah zero-day yang dijuluki ShieldBreak serta serangan baru bernama “Plug and Pwn” yang meniru perangkat USB.

Kedua kerentanan ini menyerang komputer dari sudut yang berbeda, namun sama-sama berbahaya. ShieldBreak adalah celah zero-day yang mampu mengelabui patch RoguePlanet sebelumnya, sementara Plug and Pwn mengeksploitasi cara Windows mengidentifikasi dan menghubungkan perangkat keras USB. Bagi pengguna Windows 10, Windows 11, dan Windows Server, situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra.

ShieldBreak: Zero-Day yang Menembus Patch Sebelumnya

Kerentanan zero-day ini ditemukan oleh Nightmare Eclipse, seorang pemburu bug yang dikenal memiliki konflik dengan Microsoft dan kerap membagikan temuan kerentanan terbaru sebelum patch resmi dirilis. ShieldBreak, nama yang diberikan untuk celah ini, dilaporkan mampu menembus patch RoguePlanet dan memberikan penyerang akses system privileges pada sistem Windows 10, Windows 11, dan Windows Server yang sudah dipatch.

Menurut laporan The Register, eksploitasi ini telah diuji oleh peneliti keamanan lain dan hasilnya terkonfirmasi. ShieldBreak menggunakan “user-mode callback hook” untuk mengubah isi file selama pemindaian Defender cloud-hydration melalui cfapi (Cloud Filter API), seperti yang dijelaskan oleh peneliti keamanan Kevin Beaumont.

Secara sederhana, kerentanan ini memanfaatkan Microsoft Defender jika fitur tersebut aktif dan sedang melakukan pemindaian. Celah tersebut kemudian dapat dieksploitasi untuk memberikan hak System privileges kepada penyerang. Peneliti lain, Will Dormann, menambahkan bahwa Defender harus dalam keadaan aktif agar eksploitasi ini dapat bekerja.

Cara Melindungi Diri dari ShieldBreak

Hingga Microsoft merilis patch resmi, salah satu cara untuk tetap aman adalah dengan menonaktifkan Microsoft Defender. Jika Anda merasa sistem Anda mungkin rentan, Kevin Beaumont telah menerbitkan tiga deteksi yang dirancang untuk menangkap aktivitas ShieldBreak. Bagi pengguna yang memiliki pengetahuan teknis, deteksi tersebut dapat dijalankan sebagai langkah pencegahan.

Plug and Pwn: Serangan yang Meniru Perangkat USB

Celah keamanan kedua adalah serangan baru bernama “Plug and Pwn” yang diungkapkan oleh peneliti keamanan Alejandro Hernando dan Borja Martinez melalui Bleeping Computer. Temuan ini dipresentasikan dalam konferensi peretasan DEF CON 34. Kerentanan ini mengeksploitasi cara Windows mengidentifikasi dan otomatis terhubung dengan perangkat keras USB, menemukan paket driver yang cocok, lalu menginstal perangkat lunak sebagai akun Authority/System.

Secara sederhana, celah ini meniru perangkat USB dan dapat digunakan untuk memaksa Windows menginstal paket vendor dengan komponen yang dapat dieksploitasi untuk mendapatkan system privileges pada perangkat Windows. Yang lebih mengkhawatirkan, dalam beberapa serangan, tidak diperlukan interaksi pengguna atau bahkan perangkat keras USB fisik untuk mendapatkan akses.

Hal ini dimungkinkan karena Windows menggunakan sesuatu yang disebut co-installer, yang secara otomatis mengunduh dan menginstal perangkat lunak serta driver saat perangkat USB baru dicolokkan ke komputer. Versi serangan ini berbeda dari versi sebelumnya karena mengikuti jalur instalasi Windows, bukan berasal dari vendor tertentu.

Perlu dicatat, serangan jarak jauh hanya tampaknya berhasil pada sistem yang mengaktifkan USB redirection, yang menurut Alejandro Hernando umum digunakan di lingkungan desktop virtual.

Cara Melindungi Diri dari Serangan USB

Jika Anda khawatir dengan jenis serangan ini, Anda dapat mengaktifkan nilai registri ‘DisableCoInstallers’. Ini akan mencegah paket driver menggunakan co-installer selama instalasi perangkat. Caranya dengan mencari di menu Start atau menggunakan pintasan keyboard Windows key + R, lalu menavigasi ke Registry Key. Tambahkan nilai DWORD-32 bernama DisableCoInstallers dan atur nilainya menjadi 1.

Meskipun langkah ini tidak sepenuhnya menghilangkan serangan Plug and Pwn, langkah ini dapat memutus sebagian rantai serangan. Hernando juga menyarankan untuk menggabungkannya dengan pembatasan instalasi perangkat atau daftar izin hardware-ID, serta mematikan redirection perangkat PnP pada host RDP dan VDI yang tidak membutuhkannya melalui `fDisablePNPRedir`.

A Windows 11 laptop displaying a large warning sign

Implikasi bagi Pengguna Windows

Kedua kerentanan ini menjadi pengingat penting tentang risiko keamanan yang terus berkembang pada ekosistem Windows. Belum adanya patch dari Microsoft untuk kedua celah ini membuat pengguna harus lebih proaktif dalam melindungi sistem mereka. Menonaktifkan Defender atau mengatur nilai registri memang solusi sementara, namun keduanya memiliki trade-off tersendiri.

Bagi pengguna yang menggunakan perangkat Windows untuk pekerjaan sensitif, kombinasi pembatasan instalasi perangkat dan kebijakan keamanan yang ketat menjadi sangat penting. Sementara itu, pengguna rumahan disarankan untuk tetap waspada terhadap perangkat USB yang digunakan dan memastikan perangkat lunak hanya diunduh dari sumber resmi.

Situasi ini juga menyoroti pentingnya menjaga sistem tetap aman di tengah siklus patch yang belum tentu segera hadir. Sementara Microsoft belum mengumumkan jadwal perbaikan untuk kedua kerentanan ini, pengguna Windows diharapkan mengambil langkah-langkah mitigasi yang tersedia untuk mengurangi risiko eksploitasi.

Hands typing on a laptop with a digital shield and lock icon, symbolizing cybersecurity. Surrounded by binary code and glowing elements.

Perkembangan ini tentu menjadi perhatian serius mengingat Windows masih menjadi sistem operasi yang paling banyak digunakan di dunia. Dengan belum adanya patch resmi, jendela kerentanan ini menjadi peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk mengeksploitasi sistem yang belum dilindungi.

Bagi pengguna yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang perkembangan ekosistem Windows, termasuk perubahan harga lisensi yang mempengaruhi pasar, Anda dapat membaca artikel tentang biaya lisensi Windows yang mengalami kenaikan. Sementara itu, bagi pengguna yang tertarik dengan inovasi di platform Windows, ada kabar menarik tentang Word for Windows 1.1a yang kini dapat berjalan native di Windows 11.

Keamanan sistem operasi adalah tanggung jawab bersama antara vendor dan pengguna. Sambil menunggu patch resmi dari Microsoft, langkah-langkah mitigasi yang disebutkan di atas adalah yang terbaik yang dapat dilakukan saat ini untuk melindungi perangkat dari dua ancaman serius ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.