Telset.id ā Roku telah menambahkan empat saluran baru ke koleksi Roku Channel, termasuk Fairground AI, yang menjadi saluran streaming TV pertama di dunia yang didedikasikan khusus untuk konten yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Saluran ini beroperasi 24 jam nonstop dan menandai momen penting dalam distribusi āAI Cinemaā, sebuah bentuk baru bercerita yang menggabungkan nilai produksi sinematik dengan kemungkinan kreatif dari AI.
Fairground Entertainment menyebut peluncuran ini sebagai āmomen pentingā dalam distribusi AI Cinema. CEO Fairground Entertainment, Colin Petrie-Norris, menyatakan bahwa ini adalah momen yang benar-benar inovatif untuk AI Cinema. Namun, tidak semua pihak menyambut antusias. Kritikus menyebut saluran ini sebagai āsabuk konveyor AI slopā yang tidak pernah berhenti, dengan kualitas konten yang dipertanyakan.

Saluran Fairground AI bekerja sama langsung dengan pengguna AI ternama dan akan mempertimbangkan konten yang diunggah oleh siapa pun. Fairground AI bahkan menyatakan akan membayar untuk video yang ditampilkan di saluran tersebut. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para kreator konten AI yang ingin karyanya dilihat oleh khalayak luas melalui platform streaming gratis.
Reaksi Publik terhadap Fairground AI
Reaksi terhadap Fairground AI sangat beragam, tergantung siapa yang berbicara. Di platform X (sebelumnya Twitter), para penggemar dan pendukung AI sangat antusias, terutama karena kesempatan untuk mengunggah video GenAI mereka sendiri dengan harapan bisa ditampilkan di saluran tersebut. Namun, kelompok yang lebih skeptis tidak terkesan.
Seorang pengguna X dengan nama PSYMAGE berkomentar, āSaluran Fairground AI yang baru di Roku itu sangat buruk, sampai-sampai membuat tayangan propaganda Korea Utara terlihat bagus.ā Komentar lain menyebutkan bahwa saluran ini āwajib ditonton untuk sementara waktu, hanya untuk melihat ujung tombak AI slop.ā
Futurism, media teknologi, memberikan kritik yang lebih tajam. Mereka menyebut saluran ini āmenyiarkan keburukan yang dihasilkan AI 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Satu-satunya interupsi dari aliran slop ini adalah iklan yang muncul sesekaliāyang juga dihasilkan oleh AI.ā Futurism bahkan menggambarkannya sebagai ākonsep alat penyiksaan fiksi ilmiahā daripada sumber hiburan yang sesungguhnya.

Meskipun ada beberapa karya menarik dari kreator Fairground, video AI yang dibagikan di X menarik kritik yang sudah umum terlihat pada konten genAI: dialog yang buruk dan penyampaian yang tidak baik, potongan gambar yang tidak koheren, hal-hal aneh yang terjadi di layar, dan visual yang derivatif. Bagi yang tidak menyukai konten genAI, saluran ini jelas tidak akan mengubah pendapat mereka.
Potensi Masalah Hukum di Depan Mata
Ada masalah yang lebih serius yang perlu diperhatikan. Baru-baru ini, platform musik AI Suno kalah dalam gugatan atas penggunaan konten berhak cipta tanpa izin dalam data pelatihan model AI-nya. Dengan memonetisasi video AI generatif yang kemungkinan besar berasal dari model yang dilatih dengan konten yang dirilis secara komersial, Fairground AI mungkin akan menarik perhatian dari sesuatu yang lebih menakutkan daripada monster yang dihasilkan AI: pengacara studio film.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Industri hiburan telah lama mengawasi perkembangan konten AI dan implikasinya terhadap hak cipta. Kasus Suno menunjukkan bahwa pengadilan mulai berpihak pada pemegang hak cipta ketika data pelatihan AI menggunakan konten tanpa izin. Jika Fairground AI menggunakan model yang dilatih dengan konten berhak cipta, risiko tuntutan hukum sangat nyata.

Fairground AI sendiri mengklaim bekerja sama dengan kreator AI ternama dan menerima kiriman video dari publik. Model bisnis ini mirip dengan platform UGC (user-generated content) lainnya, tetapi dengan perbedaan signifikan: konten yang dihasilkan AI sering kali tidak jelas asal-usul data pelatihannya. Ini menjadi celah hukum yang bisa dieksploitasi oleh pemegang hak cipta.

Peluncuran saluran ini juga berpotensi mempengaruhi ekosistem streaming secara lebih luas. Roku sendiri baru-baru ini mengalami perubahan besar, termasuk kehilangan hak siar global Formula E yang kini dipegang Disney+. Sementara itu, harga perangkat streaming Roku juga mengalami kenaikan akibat lonjakan harga RAM global.

Keputusan Roku untuk menambahkan Fairground AI ke platformnya menunjukkan arah baru dalam strategi konten mereka. Namun, langkah ini juga membawa risiko reputasi mengingat banyaknya kritik terhadap kualitas konten AI. Bagi pengguna yang penasaran, saluran ini bisa menjadi tontonan unik, tetapi bagi yang sudah skeptis terhadap AI, saluran ini hanya akan memperkuat pandangan negatif mereka.
Ke depannya, nasib Fairground AI akan sangat bergantung pada dua hal: bagaimana mereka menangani masalah hak cipta, dan apakah kualitas konten bisa meningkat seiring waktu. Jika kedua hal ini tidak teratasi, saluran ini bisa menjadi contoh bagaimana AI generatif masih jauh dari kata siap untuk menjadi hiburan arus utama.





Komentar
Belum ada komentar.