DPR Gerah Operator Seluler Dikuasai Asing

Rudiantara Menkominfo prescon
Menkominfo, Rudiantara

JAKARTA – Tumbuhnya industri telekomunikasi di Indonesia tidak sepenuhnya disambut positif oleh para wakil rakyat di Senayan. Banyaknya perusahaan asing yang menguasai industri telekomunikasi Indonesia menjadi sorotan Komisi I DPR RI.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RPD) Komisi I DPR dengan Menkominfo Rudiantara, Kamis (29/1/2015), para anggota Komisi I DPR RI menanyakan soal begitu dominannya kepemilikan asing di perusahaan telekomunikasi.

Anggota Komisi I mempermasalahkan uang yang dikeruk para operator dari bisnisnya di Indonesia. Mereka mendesak Menkominfo Rudiantara memasang revenue meteran agar bisa memantau uang yang masuk ke operator secara real time.

“Operator seluler di Indonesia 90% dikuasai asing, tapi mereka memakai frekuensi kita yang terbatas untuk menyedot uang rakyat,” kata Anggota Komisi I DPR Bobby Aditya Rizaldi dalam RDP perdana bersama Menkominfo di Senayan, Jakarta.

Pemerintah, dalam hal ini diwakili Kementerian Kominfo, diminta untuk menjaga kedaulatan negara dalam pemanfaaan sumber daya alam berupa frekuensi yang dimanfaatkan operator.

“Soalnya perang ke depan adalah soal informasi. Apalagi Telkomsel yang katanya paling Indonesia saja ternyata menggunakan Amdocs. Itu kan punya Israel, database mereka ada di Tel Aviv,” tambah Bobby.

Sementara itu, anggota Komisi I, Fayakun Andriadi mengusulkan pemerintah membuat sebuah sistem monitoring dibawa pengawasan Kementerian Kominfo agar regulator bisa mengetahui secara real time kinerja keuangan dari operator.

“Kami ingin bisa memantau langsung berapa pendapatan yang diterima operator dalam satu hari atau kondisi layanannya. Menurut saya ini gampang saja untuk membuatnya, masalahnya Kominfo mau atau tidak. Itu saja. Kami minta paling lambat akhir tahun nanti sudah bisa,” tegas Fayakun.

Menanggapi ‘serangan’ para anggota Komisi I DPR itu, Rudiantara nampak sedikit kebingungan. Namun menteri yang akrab dengan panggilan chief RA ini segera bisa menguasai keadaan. Pemerintah, kata Rudiantara, saat ini posisinya memang harus di atas operator.

“Kalau regulatornya kedodoran, bagaimana mau mengatur industri. Kalau soal mengetahui kinerja operator ada mekanismenya. Umumnya semua operator itu kan tercatat di bursa saham. Dari situ kita bisa lihat berapa revenue yang dihasilkan,” kata Rudiantara.

Namun jawaban Menkominfo tadi belum membuat kedua anggota dewan tadi merasa puas. Keuanya masih terus mencecar sang menteru soal pemasangan sistem revenue monitoring.

“Apa susahnya sih memasang revenue meteran. Ini cuma political will saja, apakah Menkominfo mau atau tidak. Kalau cuma dari laporan keuangan kan bisa saja dibuat-buat. Tapi kita tidak tahu berapa uang sesungguhnya yang mereka sedot dari rakyat,” sembur Fayakun.

Dikuasai Asing

Pembangunan infrastruktur dan penciptaan pasar di industri telekomunikasi membutuhkan investasi yang tidak sedikit, sedangkan pemodal lokal kurang bisa menanggungnya, maka wajar, berkat kekuatan modal yang dimiliki, kini hampir semua operator seluler, baik Telkomsel, Indosat, XL, dan Tri dikuasai oleh asing.

Bahkan, dengan penguasaan asing yang besar, Telkomsel kini juga tak bisa lagi bisa mengklaim sebagai paling merah putih. Berdasarkan laporan keuangan operator, saat ini nilai kapitalisasi pasar Telkomsel mencapai USD24 miliar atau sekitar Rp 240 triliun. Artinya, dengan menguasai 35 persen saham Telkomsel, nilai kapitalisasi saham Singtel mencapai USD 8 miliar atau Rp 80 triliun.

Di luar Telkomsel, nilai investasi Axiata Berhad yang memiliki 66 persen saham XL Axiata juga cukup besar. Dengan kapitalisasi saham XL sekitar Rp 43 triliun, nilai saham Axiata di perusahaan ini mencapai sekitar Rp 28 triliun.

Sementara Indosat dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 35 triliun sebesar 65 persen atau Rp 23 triliun dimiliki oleh Ooredoo, investor asal Qatar.

Pemilik asing di tiga operator besar juga menguasai pelanggan telekomunikasi di Indonesia, yang mana bila digabungkan menguasai hampir 90 persen pangsa pasar.

Telkomsel saat ini telah mencatat jumlah pelanggan terbesar dengan mencapai 140 juta pelanggan, Indosat dengan 59 juta pelanggan, diikuti XL Axiata 65 juta pelanggan, dan PT Hutchison CP Telecommunications (Tri).[HBS]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here