Darurat Corona, Peneliti Produksi Swab Hidung Pakai Cetak 3D

Swab Hidung

Telset.id, Jakarta  – Pencetakan 3D digunakan untuk memproduksi barang-barang yang dibutuhkan untuk membantu secara cepat mengatasi pandemi virus corona, termasuk swab hidung.

Northwell Health, misalnya, telah membuat swab hidung cetak 3D untuk digunakan dalam sistem kesehatan. Di Amerika Serikat, alat tersebut dipakai oleh medis untuk menguji Covid-19.

{Baca juga: Malaysia Bikin APD untuk Petugas Medis Pakai Printer 3D}

“Saat ini, penyeka hampir habis. Produsen utamanya berbasis di Italia,” jelas Northwell Health dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Selasa (31/3/2020).

Untuk mengatasi kekurangan itu, Northwell Health bermitra dengan University of South Florida, Tampa General Hospital, dan spesialis pencetakan 3D Formlabs di Somerville, Mass.

Mereka sekarang merancang dan memproduksi swab dengan jumlah antara 2.000 hingga 3.000 sehari. Mereka bahkan membuat desain swab untuk tersedia secara online.

Northwell Health melanjutkan, teknologi pencetakan 3D juga digunakan untuk memproduksi barang-barang lain guna penanganan wabah virus corona. Sebut saja komponen untuk masker.

Budmen Industries, sebuah perusahaan percetakan 3D kecil di Onondaga County, New York, telah membagikan template untuk mencetak masker dan alat pendukung untuk tenaga medis.

{Baca juga: Katup Pernapasan 3D Dipakai untuk Perawatan Pasien Corona}

Pakar di AS memanfaatkan pencetakan 3D untuk menghasilkan komponen pelindung wajah. Para peneliti di Northwestern University sanggup menghasilkan 1.000 komponen masker per hari.

Sebelumnya, sekelompok sukarelawan di Italia dikabarkan menciptakan secara massal katup pernapasan 3D yang dibuat menggunakan mesin cetak 3D. Harganya cukup murah dan bisa dibuat dalam jumlah banyak.

Informasi menyebut, setiap katup pernapasan cetak 3D berharga sekitar USD 1 atau lebih kurang Rp 15.400. Harga tersebut jauh lebih murah ketimbang produk serupa dari produsen alat kesehatan yang dibanderol USD 11.000 atau Rp 170 jutaan.

Para sukarelawan awalnya meminta kepada produsen untuk memberi akses cetak biru katup pernapasan. Namun, permintaan itu ditolak. Bahkan, mereka diancam oleh produsen dengan gugatan pelanggaran hak paten produk.

Supaya hal tersebut tak lanjut menjadi polemik, para sukarelawan menegaskan bahwa upaya itu bertujuan untuk membantu menyelamatkan nyawa. Mereka menyatakan tidak berniat membagikan gambar atau mendapat untung dari pembuatannya. [SN/HBS]

 

 

SOURCENew York Post
Previous articleYeayy! Candy Crush Saga Bagikan “Nyawa” Tak Terbatas
Next articleSerius, Tak Ada Lelucon April Mop ala Google di Tahun Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here