
JAKARTA – Seorang murid MacArthur High School, Texas, AS, bernama Ahmed Mohamed digelandang pihak kepolisian karena diduga membawa bom ke sekolah. Namun nyatanya, setelah diperiksa, benda yang dicurigai itu hanyalah sebuah jam digital hasil rakitannya sendiri. Ahmed pun dibebaskan dari semua tuduhan.
Dallas Morning News melaporkan bahwa Ahmed membuat jam tersebut di rumahnya pada malam Minggu. Ahmed kemudian membawa hasil karyanya itu ke sekolah dan ingin ditunjukan kepda guru tekniknya. Setelah melihat jam digital tersebut, guru itu lalu melarang Ahmed menunjukkan jam tersebut pada guru-guru lain.
Sayangnya, saat Ahmed sedang berada di kelas bahasa Inggris, jam buatannya terus berbunyi, yang menimbulkan kecurigaan sang guru. Selanjutnya Ahmed dipaksa oleh guru bahasa Inggris itu untuk menunjukkan barang yang menyebabkan bunyi tersebut. Saat Ahmed menunjukkan jam buatannya, sang guru lalu menyita jam itu.
Seperti yang dilansir dari Gizmodo, di jam keenam, kepala sekolah tiba di kelas Ahmed bersama seorang polisi. Ahmed lalu ditangkap. Ahmed menyatakan bahwa dia diinterogasi oleh 5 polisi yang berbeda.
Kelima polisi itu bertanya padanya kenapa dia berusaha untuk membuat sebuah bom. Ahmed juga berkata bahwa kepala sekolah mengancam akan mengeluarkannya dari sekolah. Sidik jarinya juga sempat diambil oleh polisi.
Setelah diselidiki, ternyata ada 3 orang guru dari MacArthur High School yang mengirimkan laporan ke polisi. Ketiga guru tersebut berpikir bahwa Ahmed sedang berusaha untuk membuat bom.
Polisi sempat membawa jam buatan Ahmed saat mereka sedang menanyai remaja tersebut. Dalam pernyataan resmi yang dirilis polisi, mereka menyatakan bahwa Ahmed terus berkata bahwa jam buatannya hanyalah sebuah jam dan tidak memberikan keterangan lebih lanjut.

Dalam pernyataan yang sama, polisi membela diri dengan berkata bahwa jam buatan Ahmed dengan mudah dikira sebagai sebuah perangkat jika ditinggal di kamar mandi atau di bawah mobil. Pihak polisi Irving malah berencana akan menuntut Ahmed dengan tuduhan membuat “bom palsu.”
Tidak diketahui alasan mengapa polisi begitu “parno” dengan bocah kutu buku yang tidak bersalah itu. Ahmed sendiri tercatat pernah menjadi anggota dari klub robotik saat dia SMP. Dalam sebuah foto penangkapan Ahmed yang diambil oleh saudara perempuannya, Ahmed terlihat kebingungan saat kedua tangannya diborgol polisi.
Next page
Sementara itu, Mohamed Elhassan Mohamed, ayah Ahmed, dalam konferensi pers mengatakan bahwa ia merasa bangga dengan kemampuan teknik putranya. Menurut dia, Ahmed yang suka memperbaiki ponsel, mobil hingga komputer miliknya.
Mohamed merasa kejadian ini terjadi karena adanya prasangka negatif atas ras tertentu. “Karena namanya Mohamed dan karena kejadian 11 September, saya rasa karena itulah anak saya diperlakukan dengan salah,” kata Mohamed pada Dallas Morning News.
Ia juga menambahkan bahwa peristiwa yang menimpa anaknya ini baru pertama kali terjadi. Padahal dia sudah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari 30 tahun. “Tindakan itu bukan AS,” cetusnya kesal karena melihat anaknya diborgol seperti seorang teroris yang berbahaya.
Saat ini Ahmed sudah dibebaskan dari semua tuduhan, tapi sayangnya sampai sekarang dia masih diskors dari sekolah. Ahmed mengaku sedih karena gara-gara jam digital rakitannya telah mengakibatkan reaksi seperti yang dialaminya. [HBS]



