📑 Daftar Isi

Ilustrasi ekspresi tidak suka dan skeptis seorang wanita muda Generasi Z saat melihat layar smartphone

Gen Z Makin Sinis, Survei Ungkap Sikap Negatif Terhadap AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Generasi Z menunjukkan sikap yang semakin skeptis dan negatif terhadap kecerdasan buatan (AI). Survei terbaru dari Gallup, GSV Ventures, dan Walton Family Foundation mengungkapkan bahwa 48 persen kaum muda percaya risiko AI di dunia kerja lebih besar daripada manfaatnya, sementara 80 persen menyatakan bahwa penggunaan AI sebagai jalan pintas justru mempersulit proses belajar.

Data survei menunjukkan tren yang memburuk dari tahun ke tahun. Antusiasme Gen Z terhadap AI turun 14 persen sejak tahun lalu, sementara rasa harapan anjlok sembilan persen. Yang lebih mengkhawatirkan, proporsi anak muda yang merasakan “kemarahan terbuka” terhadap teknologi ini melonjak dari 22 persen tahun lalu menjadi 31 persen tahun ini.

“Di balik skeptisisme yang tumbuh ini adalah kekhawatiran tentang dampak AI terhadap keterampilan kognitif dan profesional inti,” tulis para penulis survei. “Gen Z tetap tidak yakin bahwa AI meningkatkan kreativitas, berpikir kritis, atau bahkan efisiensi. Mayoritas percaya bahwa efisiensi yang digerakkan AI mungkin datang dengan biaya, khususnya terhadap pembelajaran.”

Ekspresi tidak suka seorang wanita Gen Z terhadap teknologi di smartphone

Penolakan generasi muda ini menjadi tantangan besar bagi industri teknologi yang saat ini mengandalkan AI sebagai penggerak utama. Secara tradisional, adopsi dan antusiasme kaum muda menjadi penentu kesuksesan sebuah teknologi baru di masyarakat dan tempat kerja.

Dampak dan Resistensi di Dunia Kerja

Ketidakpuasan Gen Z terhadap AI tidak hanya berupa sikap, tetapi juga tindakan. Sebuah survei terpisah mengungkapkan bahwa 44 persen pekerja Gen Z mengaku telah menyabotase penerapan AI oleh perusahaan mereka sebagai bentuk pemberontakan. Alasan penolakan mereka beragam, mulai dari ketakutan akan penggantian pekerjaan, kekhawatiran atas celah keamanan sistem, hingga kenyataan bahwa model AI justru seringkali menambah beban kerja mereka.

Kekhawatiran ini diperparah oleh narasi yang terus berkembang bahwa Gen Z berisiko menjadi bagian dari kelas bawah permanen dalam ekonomi yang didominasi AI. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan keputusasaan di kalangan pemuda.

Sebuah insiden ekstrem terjadi pekan lalu, ketika seorang pria berusia 20 tahun asal Texas melemparkan bom molotov ke rumah CEO OpenAI, Sam Altman. Pelaku dilaporkan menulis bahwa ia khawatir dengan risiko yang dapat ditimbulkan AI terhadap kemanusiaan, sebuah sentimen yang selaras dengan temuan survei Gallup.

Survei tersebut menegaskan bahwa ambivalensi Gen Z terhadap AI merupakan angin penolakan yang signifikan bagi masa depan teknologi ini. Jika AI sudah meninggalkan kesan buruk di kalangan pemuda sejak dini, maka jalan ke depan bagi industri teknologi akan jauh lebih menantang.