📑 Daftar Isi

Gedung kaca modern dengan logo SpaceX besar di tengah dan latar oranye terang

Analis Peringatkan IPO SpaceX Bisa Jadi Investasi Buruk

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • IPO SpaceX akan berlangsung dalam dua pekan dengan target valuasi USD1,75 triliun
  • Analis Morningstar nilai SpaceX overvalued, valuasi realistis hanya USD780 miliar
  • SpaceX rugi hampir USD5 miliar di 2025 dan USD4 miliar di Q1 2026
  • Merger dengan xAI disebut ancaman material terhadap nilai perusahaan
  • Perusahaan akui riwayat kerugian dan ketidakpastian profitabilitas
  • Investor ritel disarankan wait and see, tidak beli di hari pertama IPO

Telset.id – IPO SpaceX yang akan berlangsung dalam dua pekan ke depan mendapat respons negatif dari analis. Meskipun perusahaan targetkan valuasi hingga USD1,75 triliun, sejumlah pihak menilai harga saham terlalu tinggi dan berpotensi menjadi investasi buruk bagi investor ritel.

SpaceX diprediksi akan melantai di bursa dalam waktu dekat dengan ambisi mengumpulkan dana sebesar USD75 miliar. Perusahaan antariksa milik Elon Musk ini bahkan disebut bisa mendorong valuasinya hingga USD2 triliun, menjadikannya salah satu IPO paling fenomenal dalam sejarah pasar modal global.

Namun di balik euforia tersebut, analis dari Morningstar justru mengeluarkan peringatan keras. Dalam catatan yang dirilis Senin lalu, mereka menyebut SpaceX telah dinilai terlalu tinggi secara signifikan dan investor kemungkinan akan memiliki kesempatan membeli saham di level yang lebih menarik setelah IPO berlangsung.

“Kami pikir perusahaan telah dinilai terlalu tinggi secara signifikan dan investor akan memiliki kesempatan untuk membeli saham di level yang lebih menarik setelah IPO,” tulis analis Morningstar dalam catatan mereka.

Gedung kaca modern dengan logo SpaceX besar berwarna putih di bagian tengah. Sisi kanan gambar menampilkan latar belakang oranye terang dengan pola titik-titik.

Kerugian Besar dan Kekhawatiran Profitabilitas

Salah satu faktor utama yang mendorong kekhawatiran analis adalah kondisi keuangan SpaceX yang masih merugi. Perusahaan mencatatkan kerugian bersih hampir USD5 miliar sepanjang tahun 2025. Lebih mengkhawatirkan lagi, SpaceX sudah membukukan kerugian bersih USD4 miliar hanya pada kuartal pertama tahun ini.

Kondisi ini diperparah dengan merger bersama xAI, startup kecerdasan buatan milik Elon Musk yang disebut-sebut membakar uang dalam jumlah besar. Morningstar menyebut integrasi xAI sebagai “ancaman material terhadap penghancuran nilai” bagi SpaceX.

Perusahaan pun secara terbuka mengakui keterbatasan finansialnya. Dalam dokumen yang diajukan ke Securities and Exchange Commission (SEC) pada 20 Mei lalu, SpaceX menyatakan memiliki “riwayat kerugian bersih dan mungkin tidak mencapai profitabilitas di masa depan.”

Divisi AI yang baru juga disebut bisa membebani upaya meraih profit. SpaceX mencatat bahwa “segmen AI kami padat modal, telah menimbulkan kerugian operasional yang signifikan, dan beroperasi di pasar yang baru lahir dan berkembang pesat di mana potensi AI masih belum pasti.”

Valuasi Realistis versus Valuasi Pasar

Morningstar memperkirakan valuasi yang lebih realistis untuk SpaceX berada di kisaran USD780 miliar. Angka ini sekitar 48 persen lebih rendah dibandingkan valuasi pasar privat perusahaan yang mencapai USD1,5 triliun.

Kesenjangan antara valuasi pasar dan valuasi fundamental menjadi perhatian utama. Meskipun SpaceX telah menjadi pemain kunci dalam upaya NASA untuk kembali ke Bulan, analis menilai hal itu belum cukup untuk membenarkan valuasi setinggi itu.

Namun demikian, antusiasme investor yang terpendam bisa mendorong harga saham SpaceX melambung tinggi, setidaknya dalam jangka pendek. Morningstar menulis bahwa dengan “float awal yang kecil yang didorong oleh hampir semua bank investasi di planet ini, nafsu investor yang kuat untuk tawaran infrastruktur AI, dan jalur yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk masuk ke Indeks Nasdaq 100 hanya 15 hari perdagangan setelah IPO, kami berharap harga saham SpaceX kemungkinan akan bertahan dan bahkan mungkin naik, setidaknya untuk sementara waktu.”

Ketergantungan pada Kontrak Pemerintah

SpaceX juga mengakui bahwa pendapatan perusahaan sangat bergantung pada kontrak pemerintah AS yang tunduk pada proses penawaran kompetitif. Ketergantungan ini menimbulkan risiko tersendiri bagi kelangsungan bisnis jangka panjang.

Dalam konteks ini, investor ritel mulai bersikap hati-hati. Neil Rozenbaum, seorang investor ritel yang menilai SpaceX terlalu hype menjelang IPO, mengatakan kepada Business Insider bahwa ia ingin memiliki saham SpaceX pada akhirnya, tetapi “mungkin tidak pada hari pertama.”

Perbandingan dengan Tesla pun muncul. Analis menilai bahwa kesuksesan Tesla di pasar saham lebih banyak mencerminkan dukungan publik terhadap Elon Musk sebagai CEO yang berubah-ubah, bukan fundamental bisnis yang solid. Pola serupa dikhawatirkan akan terulang pada SpaceX.

“Anda mulai membandingkan berapa banyak pendapatan yang dihasilkan perusahaan, berapa banyak keuntungan, dan kemudian Anda mulai melihat perbedaan besar dan sesuatu tidak masuk akal,” ujar Rozenbaum.

Sejumlah netizen bahkan bercanda untuk melakukan aksi short selling terhadap saham SpaceX. “Short it, no balls,” canda seorang pengguna Reddit. Sementara itu, pengguna lain menulis bahwa Goldman Sachs sebagai lead underwriter “mempersiapkan diri untuk induk dari semua tuntutan hukum pemegang saham ketika lipstik terlepas dari babi ini.”

IPO SpaceX menjadi salah satu momen paling dinantikan di pasar modal tahun ini. Namun dengan kerugian besar, ketidakpastian profitabilitas, dan valuasi yang dianggap terlalu tinggi, investor ritel disarankan untuk berhati-hati sebelum memutuskan berinvestasi di hari pertama perdagangan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan SpaceX, Anda bisa membaca artikel terkait kenaikan harga koneksi Starshield untuk drone militer AS yang menunjukkan dinamika bisnis perusahaan.

Komentar

Belum ada komentar.