šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi kebijakan baru YouTube tentang konten AI dan monetisasi kreator

YouTube Perketat Aturan Konten AI di Program Monetisasi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • YouTube mengubah istilah kebijakan dari "repetitious content" menjadi "inauthentic content" di YouTube Partner Program
  • Tiga jenis konten AI yang dilarang: video generik repetitif, konten meresahkan seperti hewan dalam bahaya, dan AI personas yang memberi nasihat topik serius
  • Matt Halprin, VP of Trust & Safety YouTube, menegaskan platform tetap agnostik terhadap alat pembuatan konten
  • Hanya 26 persen responden survei yang memiliki pandangan positif terhadap AI
  • YouTube telah memperkenalkan deteksi AI otomatis namun beberapa video masih bisa lolos
  • Tips mengenali video AI: perhatikan durasi, kualitas, penampilan terlalu sempurna, serta kesalahan perspektif dan fisika

Telset.id – YouTube kini memberlakukan aturan lebih ketat terhadap konten AI di dalam YouTube Partner Program (YPP). Kebijakan terbaru ini menegaskan bahwa kreator yang menghasilkan konten AI generik dan berkualitas rendah tidak akan mendapatkan monetisasi dari platform berbagi video tersebut.

Keputusan ini diumumkan langsung oleh Matt Halprin, VP of Trust & Safety YouTube, dalam wawancara terbaru untuk Creator Insider. Halprin menjelaskan bahwa perubahan kebijakan ini merupakan respons atas meningkatnya jumlah konten AI yang membanjiri platform. Data dari The Guardian tahun lalu bahkan mencatat bahwa sekitar satu dari 10 kanal YouTube dengan pertumbuhan tercepat berpusat pada konten AI.

Meski demikian, minat publik terhadap konten AI justru menurun. Berdasarkan survei yang dilaporkan Fortune, hanya 26 persen responden yang memiliki pandangan positif terhadap AI. Kondisi ini mendorong YouTube untuk mengambil langkah tegas demi menjaga kualitas konten di platformnya.

Aturan Baru Konten AI di YouTube

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah YouTube benar-benar melarang konten AI sepenuhnya. Jawabannya tidak. Dalam wawancaranya, Halprin menegaskan bahwa YouTube bersikap ā€œagnostikā€ terhadap alat yang digunakan kreator untuk membuat konten. Artinya, kreator tetap bebas menggunakan AI selama konten yang dihasilkan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

Perubahan mendasar terletak pada perubahan istilah dalam kebijakan YPP, dari ā€œrepetitious contentā€ menjadi ā€œinauthentic contentā€. Perubahan ini menekankan bahwa setiap kreator dalam Partner Program, termasuk mereka yang menggunakan AI, harus menunjukkan usaha dan kreativitas dalam membuat video.

Seseorang mengakses YouTube melalui laptop

Kebijakan baru ini secara spesifik menyebut tiga jenis konten AI yang akan dihapus dari YouTube. Pertama, video generik dan repetitif yang jelas merupakan hasil content farming. Kedua, konten yang tidak menyenangkan dan meresahkan, seperti hewan dalam bahaya. Ketiga, apa yang disebut Halprin sebagai ā€œAI personasā€ yang memberikan nasihat tentang masalah serius seperti keuangan.

Penting untuk dicatat bahwa aturan ini terpisah dari pedoman komunitas umum yang berlaku untuk semua pengunggah, seperti larangan konten nudity atau ujaran kebencian. Perubahan kebijakan ini hanya memengaruhi kreator yang ingin memonetisasi video yang dibuat dengan AI.

Langkah YouTube ini sejalan dengan upaya platform tersebut dalam memperketat aturan monetisasi secara keseluruhan. Sebelumnya, YouTube juga telah memperketat aturan monetisasi untuk konten AI dan konten berkualitas rendah.

Cara Mengenali Video AI

Meskipun YouTube telah memperkenalkan deteksi AI otomatis, masih ada kemungkinan beberapa video lolos dari pengawasan. Dengan teknologi AI yang semakin maju dan sulit dikenali, beranda YouTube bisa terasa seperti ladang ranjau bagi pengguna.

Beberapa video AI memang mudah dikenali karena terlihat sangat tidak realistis, seperti video bayi yang menyelamatkan anak anjing dari kebakaran. Namun tidak semua konten AI semudah itu dikenali. Ada beberapa indikator yang bisa membantu pengguna mengidentifikasi video buatan AI.

Durasi video bisa menjadi petunjuk awal. Semakin panjang video, semakin tinggi kemungkinan AI membuat kesalahan yang bisa dikenali. Karena alasan ini, banyak kreator AI memilih membuat video pendek untuk meminimalkan risiko kesalahan.

Kualitas video juga bisa menjadi tanda peringatan. Video yang sengaja dibuat terlihat diambil dari jarak jauh atau dengan kamera berkualitas rendah sering digunakan kreator AI untuk menyembunyikan ketidakkonsistenan. Sebaliknya, video yang terlihat terlalu hiper-realistis dengan orang-orang berambut rapi sempurna, kulit mulus, dan wajah simetris juga bisa menjadi tanda bahaya, terutama jika penampilan tersebut tidak masuk akal dalam konteksnya.

Aspek teknis seperti perspektif dan fisika juga sering menjadi kelemahan AI. Bayangan yang tidak masuk akal atau tidak ada, perhiasan yang menggantung secara aneh, dan pantulan yang kacau bisa menjadi petunjuk bahwa sebuah video dibuat oleh AI.

Bagi pengguna yang ingin menghindari konten AI, tips-tips ini bisa membantu mengenali video buatan mesin. Sementara itu, YouTube diharapkan segera meluncurkan fitur untuk menyaring video AI dari feed pengguna secara otomatis.

Kebijakan baru YouTube ini juga berdampak pada ekosistem kreator secara lebih luas. Platform tersebut sebelumnya telah mengambil langkah tegas terkait dukungan perangkat lama dan terus memperbarui layanannya, termasuk layanan premium terbaru.

Dengan kebijakan baru ini, YouTube berupaya menjaga keseimbangan antara mendorong kreativitas dengan AI dan melindungi pengalaman menonton pengguna dari konten yang dianggap tidak autentik dan berkualitas rendah.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.