Telset.id ā World Humanoid Robot Games 2026 yang digelar di Beijing, China, pada 22-26 Agustus lalu mencatatkan sejumlah pencapaian luar biasa, termasuk robot humanoid yang berhasil mengalahkan rekor dunia lari 100 meter milik Usain Bolt. Ajang yang diikuti lebih dari 600 tim denganę» 2.000 robot ini menunjukkan bagaimana industri robot humanoid China semakin mendekati aplikasi praktis di dunia nyata.
Robot bernama Tiangong Ultra yang dikembangkan oleh Beijing Humanoid Robot Innovation Center berhasil menuntaskan lari 100 meter dalam waktu 8,86 detik. Catatan waktu ini jauh melampaui rekor dunia manusia yang dipegang Usain Bolt. Sementara itu, robot lain bernama Lightning dari produsen smartphone Honor mencatatkan waktu 9,47 detik beberapa hari sebelumnya. Kedua waktu tersebut sama-sama memecahkan rekor dunia lari 100 meter atas nama atlet asal Jamaika itu.
Selain memecahkan rekor lari, robot Tiangong juga keluar sebagai juara lompat jauh dengan jarak 7,97 meter. Berbagai atraksi lain juga memeriahkan ajang tersebut, mulai dari robot yang bermain tenis meja melawan juara Olimpiade, robot yang saling bertarung, mencetak gol sepak bola, hingga mencoba angkat besi dengan hasil yang kadang kocak.
Momen Dramatis dan Keterbatasan Fisik Robot
Bagian menarik dari ajang ini adalah mudahnya penonton menganggap robot humanoid memiliki sifat seperti manusia, sehingga kegagalan yang terjadi kerap terlihat lucu. Salah satu momen viral adalah robot yang tampak teralihkan perhatiannya oleh pertunjukan cheerleader, lalu jatuh melewati pagar pembatas. Robot-robot yang berlomba juga kesulitan menghentikan laju mereka, bahkan beberapa di antaranya mengalami kerusakan motor akibat dipaksa bekerja di batas kemampuan fisiknya.
Perkembangan robot humanoid dalam beberapa tahun terakhir tidak lepas dari kemajuan motor berdaya tinggi yang kompak, mampu menjaga keseimbangan dinamis robot pada kecepatan tinggi. Unitree, perusahaan yang berdiri di Hangzhou dan baru saja melantai di bursa saham, menjadi terkenal berkat fokusnya pada inovasi semacam ini. Adapun algoritma yang digunakan untuk lari dan melompat dilatih melalui simulasi agar robot tidak mudah jatuh.
Pendekatan ini kemungkinan menjadi alasan mengapa sebagian robot memiliki gaya lari yang tidak lazim seperti manusia. Algoritma menemukan strategi optimal dengan mengeksplorasi berbagai gerakan, yang belum tentu sama dengan cara manusia berevolusi untuk berlari. Stefanie Tellex, ahli robotika dari Brown University, menilai China telah meraih kesuksesan luar biasa dalam membangun perangkat keras robot.
Uji Ketangkasan Manual dan Masa Depan Robot
Sejumlah lomba baru tahun ini memang terlalu sederhana bagi atlet manusia, tetapi dirancang untuk menguji kecerdasan robot sekaligus kekuatannya. Tantangan tersebut mencakup mencolokkan kabel ke soket listrik dan membuang sampah secara perlahan ke tempat sampah di dalam kamar tiruan. Tellex menjelaskan bahwa melatih robot untuk memanipulasi objek dalam lingkungan yang lebih kompleks jauh lebih sulit dibandingkan membuat mereka berlari atau melompat.
Kemampuan manipulasi tingkat lanjut menjadi semacam tujuan suci dalam dunia robotika, dan sebagian perusahaan rintisan di Amerika Serikat mencoba menyelesaikannya dengan AI yang lebih canggih. Keterampilan jari yang rumit sulit dikuasai robot karena melibatkan banyak hal yang sulit diprediksi, seperti gesekan dan selip. Manusia memiliki indra peraba yang tajam, pemahaman fisika bawaan, dan kemampuan beradaptasi dalam skala mikro dengan kecepatan kilatākemampuan yang tidak dimiliki robot.
Tellex menyebut fenomena ini sebagai paradoks Moravec, di mana hal-hal yang tampak mengesankan seperti salto justru lebih mudah dilakukan robot dibandingkan tugas sederhana seperti mencolokkan kabel. Satu catatan penting dari ajang ini adalah sebagian gambar dan video memperlihatkan manusia yang mengoperasikan robot dari jarak jauh, menandakan robot tersebut belum sepenuhnya otonom. Meski demikian, kemampuan tangan robot yang kini cukup cekatan untuk menggenggam objek kecil menggunakan alat, meski masih di bawah kendali manusia, sudah tergolong impresif.
Jadwal lengkap ajang tersebut juga mencantumkan lomba lain yang dirancang menguji ketangkasan manual, seperti membangun balok dan memungut kacang dengan pinset. Tugas-tugas ini tampaknya mencerminkan keinginan China untuk mengotomatisasi pekerjaan di pabrik dan gudang, seperti merangkai kabel di sasis mobil atau merakit komponen elektronik. Perusahaan bernama Galbot ambil bagian dalam beberapa lomba, termasuk Supermarket Scenario Competition yang menuntut robot menata rak di toko ritel.
Galbot memandang ajang ini sebagai cara mendorong kemampuan komersial robot humanoid ke depan. āGalbot akan terus memajukan kemampuan robot humanoid dengan menghadapi skenario yang semakin menantang,ā ujar Yvonne Yuan, perwakilan perusahaan tersebut. āBergerak dari lingkungan terstruktur menuju aplikasi dunia nyata yang lebih terbuka dan tidak terduga, di mana robot perlu memahami, beradaptasi, dan berkolaborasi dengan manusia.ā
Meski banyak aksi yang masih dikendalikan dari jarak jauh, Galbot menunjukkan pencapaian otonomi yang mengesankanārobot yang mampu bermain tenis melawan lawan manusia. Kemampuan ini membutuhkan persepsi tingkat lanjut sekaligus refleks berkecepatan tinggi. Di tengah kekhawatiran AI yang memicu ketakutan akan perpindahan tenaga kerja massal, tujuan terbesar World Humanoid Robot Games adalah membangkitkan antusiasme publik terhadap potensi robotika.
āSaya pikir sangat bagus jika sebuah negara mengekspresikan kegembiraan terhadap sains dan teknik serta memiliki pandangan positif tentang masa depan teknologi,ā kata Chris Atkeson, ahli robotika ternama dari Carnegie Mellon University. āSaya menyesal itu bukan Amerika.ā Ajang ini menjadi bukti nyata bahwa China serius menggarap industri robot humanoid, tidak hanya untuk kompetisi, tetapi juga untuk aplikasi praktis. Dengan semakin matangnya teknologi, bukan tidak mungkin perkembangan industri ini akan berdampak luas pada berbagai sektor di masa mendatang.





Komentar
Belum ada komentar.