Telset.id ā Meta dikabarkan membatalkan rencana restrukturisasi berbasis AI yang akan memangkas ribuan karyawan. Rencana yang dikenal sebagai Project OT (Organization Transformation) ini dihentikan setelah teknologi AI internal perusahaan tidak menunjukkan hasil yang diharapkan.
Reuters melaporkan bahwa Meta menghabiskan sebagian besar tahun ini untuk menguji rencana di mana AI akan mengambil alih banyak tugas harian karyawan. Proyek ini menghubungkan dua peristiwa besar: pengurangan tenaga kerja sebesar 10 persen dan program yang melacak pergerakan mouse serta ketukan keyboard karyawan.
Eksekutif Meta terpengaruh oleh startup, termasuk beberapa yang mereka amati di Asia, yang telah membangun struktur perusahaan mereka di sekitar AI. Pada retret kepemimpinan tahunan bulan Januari di properti Mark Zuckerberg di Hawaii, para eksekutif memaparkan visi āAI nativeā untuk perusahaan.
Dalam visi tersebut, agen AI akan diawasi oleh āpodā kecil karyawan manusia. Insinyur, desainer, manajer produk, dan spesialis lainnya akan bertransisi menjadi peran ābuilderā serba guna. Lapisan manajemen menengah akan menyusut, dan āanalisis berbantuan agenā akan membantu menentukan prioritas harian.
Para eksekutif sempat mempertimbangkan pengurangan jumlah karyawan hingga 60 persen di beberapa tim. PHK akan menjadi bagian dari pengurangan tersebut, bersama dengan menghilangkan posisi terbuka dan mengeluarkan pekerja yang dianggap berkinerja rendah. Satu eksekutif HR memperkirakan pengurangan tersebut setidaknya sebesar pemotongan tahun 2023 yang memangkas 25 persen tenaga kerja.
Dalam bentuk aslinya, Project OT dilaporkan mencakup gelombang PHK kedua pada bulan November. CEO Mark Zuckerberg akhirnya membatalkan atau setidaknya menunda bagian rencana tersebut, meskipun Reuters tidak menemukan alasan pasti di balik keputusan itu.
Meta mengakui bahwa awalnya ada rencana kedua, namun membingkai pemotongan yang lebih agresif sebagai skenario yang hanya dipertimbangkan.
Kinerja AI Meta Tidak Sesuai Harapan
Salah satu alasan perubahan sikap ini mungkin karena dorongan AI internal Meta tidak berjalan mulus. Di satu sisi, data perusahaan menunjukkan perubahan kode pada platform dan infrastruktur perangkat lunak AI Meta naik 220 persen dari tahun ke tahun.
Namun hal itu tidak menghasilkan peningkatan produktivitas yang dramatis. Fitur baru atau yang ditingkatkan yang benar-benar mencapai pengguna hanya naik 36 persen. Kemajuan di area tersebut juga diimbangi di tempat lain, karena jumlah insiden teknis dan keamanan naik 40 persen.
Waktu yang dihabiskan karyawan untuk masalah tersebut tumbuh 70 persen. Pada bulan Juli, Zuckerberg muncul di town hall perusahaan dan mengakui bahwa dia melebih-lebihkan seberapa cepat teknologi akan berkembang.
Dia memberi tahu staf bahwa ātrajektori pengembangan agentic selama setidaknya empat bulan terakhir belum benar-benar berakselerasi seperti yang kami harapkan,ā dan bahwa investasi perusahaan dalam agen AI belum āmembuahkan hasil.ā

Sementara itu, ada perangkat lunak pelacakan yang dipasang perusahaan di komputer karyawan AS. Menangkap pergerakan mouse dan ketukan keyboard karyawan untuk melatih pengganti agen AI mereka ternyata tidak diterima dengan baik.
Keluhan membanjiri jaringan komunikasi internal Meta, skor sentimen karyawan turun 19 poin, dan upaya pengorganisasian buruh meningkat. Kombinasi hasil AI yang lebih lemah dari yang diharapkan dengan reaksi balik pekerja mungkin menjadi alasan mengapa Zuckerberg menarik rencana gelombang PHK kedua.
Meski demikian, Reuters menyatakan bahwa Meta belum tentu meninggalkan rencana yang lebih luas. Pesan Zuckerberg tentang PHK lebih lanjut hanya meyakinkan karyawan bahwa pemotongan ādi seluruh perusahaanā tidak akan terjadi ātahun ini,ā memicu kekhawatiran internal tentang pengurangan yang lebih kecil tahun ini atau yang lebih luas pada tahun 2027.
Tim berbantuan AI yang lebih kecil tetap digunakan di sebagian perusahaan, dan Meta terus membelanjakan banyak dana untuk infrastruktur AI. Dengan investor yang bertanya-tanya kapan investasi tersebut akan membuahkan hasil, Zuckerberg akan berada di bawah tekanan untuk menunjukkan keuntungan nyata yang terkait dengannya.
Baca Juga:
Keputusan Meta untuk membatalkan PHK massal ini menunjukkan bahwa bahkan raksasa teknologi pun harus realistis terhadap kemampuan AI saat ini. Meskipun investasi besar telah dilakukan, teknologi AI belum siap menggantikan tenaga kerja manusia secara massal.
Perusahaan tetap berkomitmen pada arah AI-nya, namun dengan pendekatan yang lebih hati-hati. Meta terus menggunakan tim berbantuan AI di beberapa bagian perusahaan dan tetap berinvestasi besar dalam infrastruktur AI.
Kisah ini menjadi pelajaran penting bagi industri teknologi bahwa adopsi AI harus mempertimbangkan kesiapan teknologi dan dampaknya terhadap karyawan. Produk Meta lainnya juga menghadapi berbagai tantangan di pasar.
Pengalaman Meta dengan Project OT menunjukkan bahwa transformasi berbasis AI tidak bisa dipaksakan. Perusahaan harus menyeimbangkan ambisi teknologi dengan realitas operasional dan moral karyawan.
Zuckerberg kini menghadapi tekanan untuk menunjukkan hasil nyata dari investasi AI-nya. Keputusan untuk menunda PHK massal mungkin merupakan langkah bijak, namun pertanyaan tentang masa depan tenaga kerja di era AI tetap belum terjawab.





Komentar
Belum ada komentar.