📑 Daftar Isi

Ilustrasi pria dan robot menunggu sesi wawancara kerja

Wawancara Kerja Pakai AI Bikin Pelamar Kabur, Siapa Dirugikan?

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • 29% pelamar yang sudah bekerja mundur dari proses rekrutmen berwawancara AI, hanya 14% dari pelamar yang belum bekerja
  • 58% yang tetap ikut wawancara AI meski keberatan akan menolak jika ada pekerjaan lain
  • Pola serupa muncul di Inggris, AS, Kanada, Uni Eropa, dan Amerika Latin dari 6.731 responden survei Use.AI
  • Perusahaan dinilai perlu menawarkan rute wawancara ke manusia untuk menguji dampak format AI
  • Wawancara AI dinilai tak mampu membangun rapport seperti wawancara tatap muka

Telset.id – Wawancara kerja berbasis AI (artificial intelligence) mulai menjadi masalah bagi perusahaan. Survei Use.AI terhadap pencari kerja di Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Uni Eropa, dan Amerika Latin menemukan hampir sepertiga (29%) responden yang sudah memiliki pekerjaan menarik diri dari proses rekrutmen yang melibatkan wawancara AI. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding pelamar yang belum bekerja, yang hanya 14% memilih mundur.

Temuan ini menunjukkan bahwa kesediaan kandidat mengikuti wawancara AI sangat bergantung pada kondisi keuangan dan pilihan lain yang mereka miliki. Bagi pelamar yang belum punya pekerjaan, kebutuhan untuk segera mendapatkan penghasilan membuat mereka lebih bertahan menghadapi proses otomatis. Sebaliknya, mereka yang sudah bekerja punya kemewahan untuk menolak format yang tidak mereka sukai.

Yang menarik, survei Use.AI terhadap 6.731 responden ini menemukan pola yang konsisten di semua wilayah. Meski angka spesifiknya berbeda di tiap kawasan, jurang antara pelamar yang sudah bekerja dan yang belum tetap terlihat. Ini memperkuat indikasi bahwa keputusan mundur dari proses rekrutmen bukan soal teknis semata, melainkan soal daya tawar kandidat.

Man and robot waiting for an interview

Wawancara AI Jadi Titik Gesek

Data Use.AI juga mengungkap bahwa 58% orang yang tetap mengikuti wawancara AI meski punya keberatan akan menolak format tersebut jika sudah ada pekerjaan lain yang menanti. Angka ini menegaskan bahwa wawancara AI bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi sudah menjadi faktor yang memengaruhi keputusan kandidat untuk lanjut atau mundur dari sebuah proses rekrutmen.

Praktik rekrutmen otomatis sendiri kini makin lazim. Sebagian besar lowongan yang diiklankan hari ini sudah memakai penyaringan AI untuk menentukan kandidat terbaik. Sejumlah perusahaan bahkan melangkah lebih jauh dengan melepas proses wawancara dari tangan manusia. Tidak hanya perusahaan, beberapa agensi rekrutmen juga memakai pewawancara AI.

Managing Director Use.AI, Matthew Freire, menyoroti bahwa perusahaan selama ini fokus memeriksa apakah sistem penyaringan mereka menilai kandidat secara adil. Menurut dia, perhatian serupa seharusnya diberikan pada siapa yang memutuskan untuk masuk ke sistem itu sejak awal. “Employers spend considerable effort checking whether their screening systems evaluate candidates fairly. They should be equally interested in who decides to enter those systems in the first place,” ujarnya.

Freire menambahkan bahwa menawarkan rute alternatif ke pewawancara manusia akan memungkinkan perusahaan memeriksa apakah format wawancara itu sendiri memengaruhi siapa yang tetap tersedia untuk dipertimbangkan. “Offering applicants an alternative route to a human interviewer would allow companies to examine whether the format itself is influencing who remains available for consideration,” katanya.

Hands typing on a keyboard, with digital text and symbols superimposed on top showing a conversation with a chatbot

Rapport Manusia Tak Tergantikan

Selain soal angka, ada persoalan mendasar yang membuat wawancara AI sulit diterima sebagian pencari kerja. Proses melamar kerja kini makin menantang, terutama bagi orang yang mengandalkan bahasa tubuh dan sinyal wajah. Berhasil dalam wawancara sering kali berarti membangun kedekatan dengan orang di seberang meja atau layar, dan hal itu tidak mungkin dilakukan ketika pewawancara bukan manusia.

Representasi grafis dari LLM yang terprogram mungkin tampak pintar dan menarik, dan pertanyaannya memang tersedia untuk diajukan. Namun pada akhirnya, format itu dinilai sebagai pengisian formulir yang rumit yang tidak menunjukkan kemampuan seseorang membangun kedekatan instan dan menerjemahkannya menjadi hubungan kerja.

Dampak ekonominya juga nyata. Menggantikan ahli rekrutmen dan orang yang memahami pekerjaan sebagai pewawancara mungkin menghemat waktu dan biaya dalam jangka pendek. Tetapi jika tidak ada yang mau direkrut oleh perusahaan yang bergantung pada wawancara AI, produktivitas ikut hilang, dan bersama itu pula keuntungan perusahaan.

Rejected Resume

Bagi pencari kerja, temuan ini menjadi pengingat bahwa proses rekrutmen otomatis punya batas. Perusahaan yang ingin mempertahankan kandidat terbaik, terutama mereka yang sudah bekerja dan punya pilihan lain, perlu mempertimbangkan kembali ketergantungan pada wawancara AI. Sebab ketika kandidat memilih mundur, perusahaanlah yang kehilangan talenta, bukan sebaliknya.

[SKIP]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.