📑 Daftar Isi

Tampilan aplikasi Uber di ponsel pintar

Uber PHK 10% Tim CS karena Adopsi AI dan AI Agents

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Uber melakukan PHK 10 persen dari tim layanan pelanggan (Community Operations) karena adopsi AI
  • Alasan resmi: menyederhanakan operasi, memperkuat kolaborasi tatap muka, dan merangkul AI
  • Megha Yethadka, VP global community operations, mengatakan organisasi terlalu kompleks dan terisolasi
  • Uber juga memberlakukan mandat kembali ke kantor bagi karyawan remote
  • Bergabung dengan Oracle (PHK 21.000), Snap (PHK 1.000), dan Meta (PHK 8.000) yang PHK karena AI
  • AI agents dan Voice AI disebut semakin canggih dalam menangani layanan pelanggan

Telset.id – Uber melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 10 persen dari tim layanan pelanggannya. Perusahaan secara terbuka menyebut kecerdasan buatan atau AI sebagai alasan utama di balik langkah tersebut.

Menurut laporan Bloomberg, langkah ini diambil untuk menyederhanakan operasional perusahaan yang dinilai terlalu kompleks. Seorang juru bicara Uber menyatakan bahwa PHK ini dilakukan “untuk menyederhanakan operasi, memperkuat kolaborasi tatap muka, dan terus merangkul AI.” Divisi yang terdampak adalah Community Operations, jaringan dukungan pelanggan global Uber yang mencakup berbagai bisnis dan bahasa.

Divisi ini memiliki tim khusus untuk masing-masing wilayah dan negara yang bekerja sama erat dengan bisnis lokal serta mitra pengemudi. Megha Yethadka, wakil presiden global community operations Uber, mengakui dalam memo internal bahwa organisasi mereka “menjadi terlalu kompleks dan terisolasi.” Ia menambahkan bahwa divisinya telah membuat kemajuan dalam penggunaan AI, namun untuk bisa memperluas penggunaannya, dibutuhkan “organisasi yang efektif untuk melapisi AI.”

Laporan Bloomberg tidak menyebutkan secara spesifik untuk apa Uber akan menggunakan generative AI dalam organisasi yang membuat PHK ini diperlukan. Namun, perkembangan AI agents untuk layanan pelanggan telah menunjukkan kemajuan pesat belakangan ini. Voice AI kini semakin mahir berkomunikasi secara alami dengan pelanggan, memahami kebutuhan mereka, serta merespons keluhan dengan lebih baik.

Selain pengumuman PHK, Uber juga meminta karyawan yang bekerja dari jarak jauh untuk pindah ke kantor pusat sebagai bagian dari mandat kembali ke kantor. Sebelumnya, perusahaan telah menyatakan bahwa mereka memperlambat perekrutan karena penggunaan AI.

Gelombang PHK akibat AI Makin Meluas

Uber bergabung dengan daftar perusahaan yang terus bertambah yang menyebut AI sebagai alasan PHK. Pada Juni lalu, Oracle memangkas 21.000 peran di seluruh dunia dengan alasan “adopsi dan penerapan teknologi AI.” Snap melakukan PHK terhadap sekitar 1.000 pekerja pada April, yang tampaknya untuk digantikan oleh AI. Meta baru-baru ini juga mengurangi 10 persen tenaga kerjanya, sebuah langkah yang mempengaruhi 8.000 pekerjaan, dan kemudian memindahkan 7.000 personel ke organisasi baru yang berfokus pada pembangunan alat AI.

Keputusan Uber ini menandai perubahan signifikan dalam strategi operasional perusahaan. Dengan mengandalkan AI untuk menangani layanan pelanggan, Uber berharap dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya operasional dalam jangka panjang. Ekspansi Uber ke berbagai sektor, termasuk hotel dan AV Labs, juga menunjukkan komitmen perusahaan terhadap teknologi AI.

Langkah Uber ini juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan pekerjaan di era AI. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang mengadopsi AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas yang sebelumnya dilakukan manusia, pekerja di sektor layanan pelanggan menjadi salah satu yang paling rentan terkena dampak. Regulasi Robotaxi yang didorong Uber juga menunjukkan bagaimana perusahaan ini terus beradaptasi dengan teknologi baru.

Meskipun AI agents telah menunjukkan kemampuan yang mengesankan dalam menangani pertanyaan dan keluhan pelanggan, masih ada kekhawatiran tentang kemampuan mereka untuk menangani situasi yang kompleks atau emosional. Namun, perusahaan seperti Uber tampaknya yakin bahwa manfaat efisiensi dan penghematan biaya lebih besar daripada risiko potensial.

PHK ini juga berdampak pada karyawan yang bekerja dari jarak jauh. Uber meminta mereka untuk pindah ke kantor pusat, yang mungkin menjadi tantangan bagi mereka yang telah menetap di lokasi lain. Mandat kembali ke kantor ini menunjukkan bahwa Uber ingin memperkuat kolaborasi tatap muka di tengah adopsi AI yang semakin meluas.

Dengan langkah ini, Uber bergabung dengan tren industri yang lebih luas di mana perusahaan-perusahaan teknologi besar menggunakan AI sebagai alasan untuk merestrukturisasi tenaga kerja mereka. Oracle, Snap, dan Meta adalah contoh terbaru dari perusahaan yang melakukan hal serupa.

Keputusan Uber untuk melakukan PHK 10 persen dari tim layanan pelanggannya karena AI menunjukkan bahwa teknologi ini semakin terintegrasi ke dalam operasi bisnis. Meskipun hal ini dapat meningkatkan efisiensi, dampaknya terhadap pekerja dan masyarakat masih menjadi perdebatan. Ekspansi Uber ke Eropa yang ditunda juga menunjukkan bahwa perusahaan sedang fokus pada restrukturisasi internal.

Ke depannya, akan menarik untuk melihat bagaimana Uber dan perusahaan lain menyeimbangkan antara adopsi AI dan tanggung jawab mereka terhadap karyawan. Sementara AI dapat membawa efisiensi dan inovasi, penting untuk mempertimbangkan dampak sosial dari perubahan ini.

PHK ini juga menyoroti pentingnya pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan bagi pekerja yang terkena dampak otomatisasi. Pemerintah dan perusahaan perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa pekerja memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk berkembang di era AI.

Dengan adopsi AI yang semakin meluas, masa depan pekerjaan di sektor layanan pelanggan mungkin akan sangat berbeda. Perusahaan seperti Uber memimpin dalam perubahan ini, dan keputusan mereka akan menjadi preseden bagi perusahaan lain.

Langkah Uber ini juga menimbulkan pertanyaan tentang etika penggunaan AI dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi mata pencaharian orang. Sementara AI dapat membantu perusahaan menjadi lebih efisien, penting untuk memastikan bahwa penggunaannya tidak merugikan pekerja secara tidak adil.

Dengan PHK 10 persen dari tim layanan pelanggannya, Uber telah membuat pernyataan yang jelas tentang komitmennya terhadap AI. Perusahaan ini jelas melihat AI sebagai kunci untuk masa depan bisnisnya, meskipun hal itu berarti harus mengurangi tenaga kerja manusia.

Keputusan ini juga menunjukkan bahwa perusahaan bersedia menghadapi potensi reaksi negatif dari publik dan karyawan demi mengejar efisiensi dan inovasi. Apakah langkah ini akan terbukti berhasil dalam jangka panjang masih harus dilihat.

Yang jelas, PHK ini menandai babak baru dalam hubungan antara manusia dan mesin di tempat kerja. Dengan AI yang semakin canggih, batas antara pekerjaan yang dapat dilakukan oleh manusia dan mesin semakin kabur.

Bagi para pekerja di industri teknologi, PHK ini menjadi pengingat bahwa tidak ada pekerjaan yang aman dari otomatisasi. Penting bagi setiap individu untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Dengan adopsi AI yang semakin meluas, masa depan pekerjaan mungkin akan lebih fleksibel dan dinamis. Perusahaan seperti Uber berada di garis depan perubahan ini, dan keputusan mereka akan membentuk masa depan pekerjaan bagi jutaan orang.

PHK 10 persen tim layanan pelanggan Uber karena AI adalah langkah berani yang mencerminkan keyakinan perusahaan pada teknologi. Namun, dampak jangka panjang dari keputusan ini terhadap bisnis, karyawan, dan masyarakat masih harus dilihat.

Yang pasti, era AI telah tiba, dan perusahaan seperti Uber siap untuk merangkulnya sepenuhnya, meskipun itu berarti harus meninggalkan beberapa praktik tradisional.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.