Ilustrasi reaktor nuklir Natrium TerraPower untuk data center AI

TerraPower Siap Bangun Proyek Data Center Bertenaga Nuklir Pertama

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • TerraPower, perusahaan energi nuklir Bill Gates, akan mengumumkan proyek data center pertamanya tahun ini
  • Proyek dijadwalkan groundbreaking pada 2027 sebagai pembangkit listrik kedua perusahaan
  • Meta telah sepakat membeli delapan unit pembangkit Natrium pada Januari lalu
  • Reaktor Natrium 345 MW menggunakan teknologi penyimpanan panas natrium cair
  • Sistem ini memungkinkan reaktor tetap beroperasi penuh sambil menyimpan panas berlebih untuk kebutuhan saat permintaan listrik melonjak
  • Keunggulan ini menjawab tantangan fluktuasi beban listrik data center AI yang ekstrem
  • Reaktor nuklir konvensional hanya mampu merespons 5% output per menit, sedangkan SMR sekitar 10%

Telset.id – TerraPower, perusahaan energi nuklir yang didirikan Bill Gates, berencana mengumumkan proyek data center pertamanya tahun ini. Langkah ini menegaskan posisi perusahaan dalam perlombaan menyediakan pasokan listrik yang selalu tersedia untuk kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat.

Proyek data center tersebut dijadwalkan memulai konstruksi pada 2027 dan akan menjadi pembangkit listrik kedua TerraPower. Pembangkit pertama perusahaan saat ini sudah dalam tahap pembangunan di Wyoming. Meski demikian, TerraPower belum mengungkapkan identitas pelanggan untuk proyek data center ini. Sebelumnya pada Januari lalu, Meta telah sepakat membeli delapan unit pembangkit listrik Natrium milik TerraPower.

Keunggulan utama TerraPower dibandingkan pesaingnya adalah teknologi penyimpanan energi. Tidak semua reaktor nuklir cocok untuk melayani kebutuhan data center, namun desain reaktor TerraPower dirancang khusus untuk mengatasi tantangan fluktuasi beban listrik yang ekstrem.

Reaktor nuklir bekerja paling optimal saat beroperasi pada kapasitas penuh. Di Amerika Serikat, reaktor nuklir memiliki faktor kapasitas tertinggi di antara semua jenis pembangkit listrik, mencapai 92,5% dari waktu operasionalnya. Namun, reaktor yang sudah ada saat ini lambat dalam merespons perubahan permintaan, hanya mampu menaikkan atau menurunkan output sekitar 5% dari total kapasitas per menit, menurut National Laboratory of the Rockies.

Sementara itu, reaktor modular kecil atau small modular reactors (SMR) yang tengah dikembangkan banyak startup dapat merespons lebih cepat, sekitar 10% dari output nominal per menit. Meski demikian, beroperasi pada kapasitas berkurang bukanlah kondisi ideal karena sulit menghasilkan keuntungan ketika produksi listrik tidak maksimal.

Data center, terutama yang mengandalkan pasokan listrik di belakang meteran (behind-the-meter), menghadapi tantangan besar karena beban listriknya dapat naik dan turun dengan cepat seiring aktivitas pelatihan AI atau respons terhadap prompt. Fluktuasi ini begitu ekstrem hingga turbin gas alam pun dikabarkan mengalami kerusakan akibat tekanan tersebut. Solusi umum yang digunakan adalah bank baterai berkapasitas besar, namun pendekatan ini menambah biaya operasional secara signifikan.

TerraPower merancang reaktor berpendingin garam cair berkapasitas 345 megawatt untuk mengatasi tantangan tersebut. Salah satu pertimbangan utama dalam desainnya adalah memastikan reaktor dapat melengkapi sumber listrik intermiten seperti angin dan surya. Ketika merancang rencana awal, TerraPower sebenarnya memikirkan energi terbarukan, bukan data center. Namun, pola beban keduanya serupa, hanya berbeda sisi dari persamaan.

Cara kerja sistem ini cukup unik. TerraPower tidak menaikkan atau menurunkan output daya reaktornya saat permintaan berubah. Sebaliknya, reaktor terus membelah atom, dan panas berlebih disimpan dalam tangki raksasa berisi natrium cair. Ketika permintaan listrik melonjak, pembangkit dapat memanfaatkan reservoir panas tersebut untuk menghasilkan uap tambahan guna memutar turbin.

Pendekatan ini memungkinkan peralatan mahal tetap bekerja meskipun permintaan sedang rendah. Dengan begitu, TerraPower dapat mengamortisasi investasinya dalam jam operasional yang lebih banyak. Strategi ini menggabungkan keunggulan tenaga nuklir berupa faktor kapasitas tinggi dengan teknologi penyimpanan energi yang memungkinkan pembangkit beradaptasi dengan baik di jaringan listrik yang didominasi energi terbarukan atau saat terhubung dengan data center.

Dari sisi ekonomi, pendekatan TerraPower menjawab masalah utama pembangkit nuklir, yaitu biaya modal yang sangat tinggi. Startup di sektor ini mengakui bahwa pembangkit listrik tahap awal akan mahal. Oleh karena itu, mengoperasikan pembangkit pada kapasitas puncak sesering mungkin menjadi kunci kelayakan finansial. Meskipun produksi massal SMR diharapkan dapat menurunkan biaya modal, hal tersebut belum terbukti dan jika berhasil pun butuh waktu satu dekade atau lebih untuk menuai manfaatnya.

Fleksibilitas desain TerraPower ini berpotensi menjadi keunggulan kompetitif yang signifikan dalam perlombaan menyediakan daya untuk AI. Dengan kemampuan menyimpan energi panas dan melepaskannya saat dibutuhkan, TerraPower menawarkan solusi yang lebih andal dibandingkan pembangkit konvensional yang kesulitan mengikuti fluktuasi beban data center. Minat Meta terhadap delapan unit pembangkit Natrium menjadi indikasi bahwa pasar mulai melirik teknologi ini sebagai solusi serius untuk kebutuhan energi AI.

Perkembangan ini juga menarik untuk dicermati mengingat sektor energi nuklir tengah mendapat perhatian besar. Valar Atomics misalnya, berhasil mengumpulkan pendanaan hingga US$1 miliar untuk produksi SMR massal. Sementara itu, startup lain bahkan menjual paket obat nuklir dengan sistem cicilan. Di sisi lain, militer AS juga mulai mengeksplorasi pemanfaatan AI untuk menyatukan data rudal, menunjukkan bahwa teknologi canggih semakin bergantung pada infrastruktur energi yang andal.

Keputusan TerraPower untuk mengumumkan proyek data center pertamanya tahun ini akan menjadi tonggak penting bagi industri energi nuklir dan komputasi AI. Keberhasilan proyek ini dapat membuka jalan bagi adopsi teknologi serupa di masa depan, sekaligus membuktikan bahwa tenaga nuklir dapat menjadi mitra yang andal bagi pusat data modern yang membutuhkan pasokan listrik stabil dan bebas emisi karbon.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.