📑 Daftar Isi

Ilustrasi AI untuk menyaring lamaran kerja dengan seseorang mengetik di laptop dan menggunakan tablet

Survei: 64% Warga Inggris Tolak AI untuk Filter Lamaran Kerja

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • 64% warga Inggris menilai penggunaan AI untuk menyaring lamaran kerja tidak dapat diterima
  • 70% responden lebih memilih wawancara tatap muka dibandingkan video call
  • Survei YouGov melibatkan 4.926 orang dewasa di Inggris Raya pada 30 Juli 2026
  • 30% rumah tangga kelas menengah menganggap AI untuk filter lamaran dapat diterima, hanya 20% di kelas pekerja
  • PM Andy Burnham menyebut rekrutmen era pasca-pandemi tidak menjadi lebih adil
  • Burnham mengkritik budaya wawancara via Zoom atau Teams yang merugikan kandidat muda
  • Preferensi wawancara tatap muka konsisten di semua wilayah: 60% di London, 73% di Skotlandia
  • Maxine Bligh dari REC menyarankan "digital di tempat yang penting, manusia di tempat yang dihitung"

Telset.id – Sebanyak 64% warga Inggris menilai penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menyaring lamaran kerja sebagai praktik yang tidak dapat diterima. Temuan ini berasal dari jajak pendapat terbaru yang dilakukan YouGov, yang juga mengungkapkan bahwa lebih dari dua pertiga responden lebih memilih wawancara tatap muka dibandingkan melalui panggilan video.

Jajak pendapat tersebut dirilis di tengah meningkatnya polarisasi opini publik terhadap penggunaan AI dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk proses rekrutmen. Data ini sekaligus memperkuat pernyataan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham yang sebelumnya mengkritik praktik rekrutmen modern yang dinilai kurang adil di era pasca-pandemi.

YouGov melakukan survei terhadap 4.926 orang dewasa di Inggris Raya pada 30 Juli 2026. Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan latar belakang sosial-ekonomi. Sekitar 30% rumah tangga kelas menengah menganggap penggunaan AI untuk menyaring pelamar dapat diterima, sementara angka tersebut hanya 20% di kalangan rumah tangga kelas pekerja.

Penolakan terhadap praktik rekrutmen modern ini muncul ketika sentimen publik terhadap AI semakin terbelah. Meski sebagian masyarakat mulai menerima AI untuk tugas-tugas sehari-hari yang monoton, penerapannya dalam proses rekrutmen dinilai sebagai langkah yang terlalu jauh.

Komentar Perdana Menteri Andy Burnham

Perdana Menteri Andy Burnham memberikan tanggapannya terhadap hasil jajak pendapat YouGov. Dalam laporan resmi poll tersebut, Burnham menyatakan, “AI dalam hal CV dan penyaringan lamaran. Menurut saya, rekrutmen di era pasca-pandemi tidak menjadi lebih adil.”

Sejak menjabat, Andy Burnham memang aktif menyuarakan pandangannya di berbagai platform, mulai dari konferensi pers, TikTok, hingga podcast. Pernyataannya soal rekrutmen ini juga senada dengan komentarnya di podcast karir berjudul Jimmy’s Jobs of the Future.

Andy Burnham: The 45 Day Plan to Fix UK Jobs System - YouTube

Dalam podcast tersebut, Burnham mengungkapkan kekhawatirannya terhadap budaya wawancara via Zoom atau Teams yang semakin marak. “Satu hal yang sangat saya tidak sukai adalah budaya wawancara via Zoom atau Teams saat ini. Bagaimana seorang anak muda bisa bersinar dalam situasi seperti itu?” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sistem seperti ini justru merugikan kandidat yang memiliki karakter menonjol, sementara menguntungkan mereka yang hanya memberikan jawaban formulaik.

Preferensi Wawancara Tatap Muka

Hasil jajak pendapat YouGov menunjukkan konsistensi preferensi terhadap wawancara tatap muka di berbagai wilayah Inggris. Di London, 60% responden memilih wawancara tatap muka. Angka ini lebih tinggi di wilayah lain: 73% di selatan Inggris, 69% di Midlands dan Wales, serta 73% di Skotlandia.

Data ini menunjukkan bahwa kenyamanan kandidat terhadap wawancara tatap muka tidak banyak dipengaruhi oleh faktor regional. Jika kandidat merasa lebih nyaman dengan wawancara langsung, pernyataan Burnham berpotensi memengaruhi praktik rekrutmen di masa depan.

Menanggapi temuan ini, Maxine Bligh dari Recruitment and Employment Confederation menyampaikan pesan penting kepada para perekrut. “Pesan kunci dari kami kepada perekrut adalah gunakan digital di tempat yang penting dan gunakan manusia di tempat yang dihitung.”

Bligh menegaskan bahwa alat AI memang membantu, bahkan esensial, ketika menangani volume lamaran yang besar. Namun, ia menekankan bahwa dibutuhkan keterampilan dan profesionalisme untuk membuat keputusan yang tepat.

Pertanyaan apakah AI pernah berhasil merekrut orang yang tepat masih menjadi perdebatan. Namun, data dari survei ini menunjukkan bahwa membuat kandidat nyaman dan mampu berkomunikasi dengan baik tampaknya membutuhkan peran manusia, bukan mesin.

Kekhawatiran terhadap dampak AI di dunia kerja memang terus meningkat. Survei ADP 2026 sebelumnya mengungkapkan bahwa hanya 22% pekerja global yang yakin pekerjaannya aman dari AI. Sementara itu, Polar AI Browser baru saja mengumpulkan dana untuk otomasi pekerjaan, menunjukkan bahwa adopsi AI di tempat kerja terus berlanjut.

Di sisi lain, resistensi terhadap otomatisasi juga muncul di sektor industri. Buruh Hyundai bahkan mengancam akan melakukan mogok massal untuk menolak kehadiran robot humanoid di pabrik mereka.

Hasil jajak pendapat YouGov ini menjadi sinyal penting bagi perusahaan dan perekrut bahwa kandidat tetap menghargai sentuhan manusia dalam proses rekrutmen. Meskipun AI menawarkan efisiensi dalam menangani volume lamaran yang besar, kenyamanan dan keadilan bagi kandidat tetap menjadi prioritas utama.

Pernyataan Perdana Menteri Andy Burnham yang didukung data survei ini berpotensi mendorong perubahan kebijakan atau praktik rekrutmen di Inggris. Para perekrut kini dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan kebutuhan humanis dalam proses seleksi karyawan.

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang mengadopsi AI untuk berbagai keperluan, termasuk keputusan bisnis besar, penting bagi industri rekrutmen untuk tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi hubungan kerja yang sehat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.