Telset.id – Di tengah demam kecerdasan buatan yang melanda industri teknologi, Steve Wozniak, salah satu pendiri Apple, justru memilih nada berbeda saat menjadi pembicara wisuda. Alih-alih memuji AI, ia melontarkan sindiran halus yang disambut sorak gembira para wisudawan.
Dalam pidatonya di upacara kelulusan Grand Valley State University, awal bulan ini, Wozniak berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan oleh banyak pembicara wisuda lain: membaca situasi. Di tengah kecemasan generasi muda tentang bagaimana AI akan mengubah perekonomian, ia menawarkan pandangan yang menyegarkan.
“Kita punya AI hari ini? Kalian semua memiliki AI — kecerdasan yang sesungguhnya,” kata Wozniak, yang langsung disambut sorak tawa dan tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Wozniak kemudian membandingkan pembangunan AI dengan proses meniru otak manusia. “Saya pernah bekerja di perusahaan di mana para insinyur tahu cara membuat otak,” lanjutnya. “Ya, butuh waktu sembilan bulan.”

Sikap Wozniak ini kontras dengan para pembicara wisuda lain di Amerika Serikat yang belajar dengan cara sulit bahwa generasi muda saat ini tidak terlalu menyukai AI. Mereka bahkan lebih tidak suka jika dikuliahi soal teknologi tersebut.
Dibuat, Para Eksekutif Menuai Cemoohan
Situasi serupa terjadi di University of Central Florida. Ketika pengusaha Gloria Caulfield mencoba memuji teknologi AI pekan lalu, para mahasiswa langsung mencemoohnya begitu keras hingga ia terpaksa menghentikan pidatonya dan berucap, “Apa yang terjadi?”
Caulfield berusaha beralih dengan mengatakan, “hanya beberapa tahun lalu, AI belum menjadi faktor dalam hidup kita,” tetapi ia kembali terpotong — oleh sorakan nyaring dari para mahasiswa.
Tidak mengherankan, CEO Big Machine Records, Scott Borchetta, juga gagal menarik simpati ketika ia menegur mahasiswa di Middle Tennessee State University karena tidak serta-merta menerima AI. “Hadapi saja. Seperti yang saya katakan, ini adalah alat,” ujarnya. Saat cemoohan semakin keras, ia menantang: “Lakukan sesuatu. Ini alat. Buat ia bekerja untukmu.”
Namun, reaksi paling brutal mungkin dialami mantan CEO Google, Eric Schmidt. Saat ia menyoroti bagaimana majalah Time memilih “arsitek AI” sebagai “Person of the Year,” ia langsung disambut gemuruh ejekan saat pidato di University of Arizona, dan situasi semakin memburuk.
AI “akan menyentuh setiap profesi, setiap ruang kelas, setiap rumah sakit, setiap laboratorium, setiap orang, dan setiap hubungan yang kalian miliki,” kata Schmidt, saat lebih banyak cemoohan terdengar. Suara itu semakin keras ketika Schmidt mengaku memahami perasaan para mahasiswa, memaksanya untuk berhenti sejenak.
Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan ekspektasi yang besar antara para pemimpin industri teknologi dan generasi muda yang akan memasuki pasar kerja. Sementara itu, tren serupa juga terjadi di berbagai sektor. Misalnya, aturan drone hobi yang semakin ketat juga menuai pro dan kontra di kalangan penggemar teknologi.
Di sisi lain, beberapa institusi pendidikan justru mencoba pendekatan unik untuk mengatur penggunaan teknologi. Sebuah universitas menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang mau “puasa HP,” sebuah langkah yang menarik perhatian publik.
Baca Juga:
Pelajaran dari Sang Pendiri Apple
Di tengah kegagalan para eksekutif teknologi yang terobsesi dengan tren AI, Wozniak justru memberikan pesan yang lebih manusiawi. “Pentingnya dirimu bagi dunia,” katanya kepada para wisudawan, “adalah dirimu sendiri. Kalian harus selalu berusaha untuk berpikir berbeda.”
Pidato Wozniak ini menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk perkembangan AI, nilai-nilai fundamental seperti kecerdasan dan kreativitas manusia tetap tak tergantikan. Para lulusan yang akan memasuki dunia kerja justru membutuhkan afirmasi, bukan kuliah tentang teknologi yang membuat mereka cemas.
Pendekatan yang lebih bijak dalam menyikapi teknologi juga terlihat dari berbagai inisiatif lain. Misalnya, rekomendasi laptop Core i5 yang terjangkau bisa menjadi pilihan tepat bagi mahasiswa yang ingin produktif tanpa harus bergantung pada perangkat termahal.
Fenomena penolakan terhadap narasi AI yang dipaksakan ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak anti-teknologi. Mereka hanya menolak cara penyampaian yang terkesan menggurui dan tidak peka terhadap kekhawatiran mereka tentang masa depan pekerjaan.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Wozniak adalah sebuah pelajaran berharga bagi para pemimpin industri: untuk bisa terhubung dengan generasi muda, mereka harus bisa “membaca ruangan” dan memberikan pesan yang relevan, bukan sekadar mengulang narasi tren yang sedang populer.





Komentar
Belum ada komentar.