Telset.id – CEO SoftBank, Masayoshi Son, dengan tegas membantah kekhawatiran akan terbentuknya gelembung (bubble) di industri kecerdasan buatan (AI). Dalam pernyataan kontroversialnya, Son menyebut anggapan tersebut sebagai bentuk penistaan terhadap AI.
Son menyampaikan pernyataan ini di tengah gejolak pasar yang kembali memicu ketakutan investor akan potensi keruntuhan ekonomi akibat valuasi perusahaan AI yang melambung tinggi. Meskipun aksi jual besar-besaran (sell-off) di sektor teknologi terjadi, Son tetap optimis dan menyebut pesta AI baru saja dimulai.
“Saya pikir itu adalah penistaan terhadap AI jika Anda mengatakan itu adalah gelembung,” ujar Son dalam rapat umum tahunan perusahaannya pekan ini, seperti dikutip dari Reuters. “Ini baru permulaan. Potensi AI akan terbuka.”
Keyakinan Son ini muncul di saat yang kontras dengan kekhawatiran banyak pihak. Selama setahun terakhir, gelombang AI telah mendorong valuasi perusahaan di sektor ini ke level yang spektakuler. Namun, aksi jual besar-besaran di pasar teknologi baru-baru ini kembali memicu kekhawatiran akan adanya gelembung AI yang siap pecah.
Pendukung AI, seperti Son, berpendapat bahwa pembangunan proyek pusat data AI dalam skala besar pada akhirnya akan sepadan. Namun, para kritikus berpendapat sebaliknya. Mereka menilai investasi ini adalah jalan buntu dan merupakan salah alokasi sumber daya yang sangat besar, yang sudah terbukti menyebabkan kelangkaan air, kenaikan harga listrik, dan polusi yang masif.
Son sendiri berada di kubu pro-AI. SoftBank telah berkomitmen untuk berinvestasi lebih dari 64 miliar dolar AS di OpenAI, menjadikannya investor terbesar. Jumlah investasi ini bahkan melampaui komitmen awal SoftBank di proyek infrastruktur AI Stargate yang diumumkan pada awal 2025 lalu.
Sebelumnya, pada awal bulan ini, Son membuat gebrakan dengan menyatakan bahwa revolusi AI saat ini “lebih dari 10 kali, mungkin 50 kali lebih besar dari dot-com,” merujuk pada gelembung pasar saham di akhir 1990-an yang akhirnya runtuh. Meski demikian, Son tidak menutup kemungkinan akan adanya koreksi pasar.
“Sekarang, jika Anda melihat sejarah, elektronik dan motorisasi jatuh pada tahun 1929, tetapi naik selama bertahun-tahun, selama 100 tahun setelahnya,” kata Son saat itu. “Jadi mungkin akan ada koreksi, tapi itu akan menjadi peluang investasi terbaik bagi saya.”
Keyakinan Son yang tak tergoyahkan ini kontras dengan kekhawatiran yang muncul dari dalam tubuh SoftBank sendiri. Sebuah laporan eksklusif dari Bloomberg pada bulan lalu mengungkapkan bahwa sejumlah orang dalam (insider) SoftBank merasa gusar dengan keputusan Son yang mengucurkan lebih dari 60 miliar dolar AS ke OpenAI milik Sam Altman.
Para insider ini menilai Son seperti terpesona (star-struck) dan sedang dimanfaatkan, serta memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut bisa berakhir buruk. Pasalnya, OpenAI disebut-sebut membakar uang tunai dengan laju yang mengkhawatirkan dan juga berjuang untuk mengimbangi persaingan.
Meskipun Son berhasil memimpin SoftBank melewati krisis dot-com dan pandemi COVID-19, rekam jejaknya tidaklah sempurna. SoftBank pernah melakukan investasi besar-besaran di WeWork, sebuah startup ruang kerja bersama yang kolaps pada 2019. Kekhawatiran pun muncul bahwa investasi besar-besaran Son di AI bisa bernasib serupa.
Baca Juga:
SoftBank, di bawah kepemimpinan Son, telah lama bertaruh besar pada AI. Pada awal 2025, perusahaan ini menjadi bagian dari proyek infrastruktur AI Stargate senilai 500 miliar dolar AS yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump. Kini, dengan investasi puluhan miliar dolar di OpenAI, taruhan Son semakin besar.
Pernyataan Son yang menyebut kekhawatiran gelembung AI sebagai “penistaan” menunjukkan keyakinannya yang absolut. Ia melihat potensi AI yang belum tergarap sepenuhnya dan siap untuk terus berinvestasi, terlepas dari risiko yang diingatkan oleh banyak pihak, termasuk oleh para investor SoftBank sendiri.
Perdebatan tentang apakah AI sedang berada dalam gelembung atau tidak kemungkinan akan terus berlanjut. Di satu sisi, valuasi perusahaan AI memang melonjak drastis. Di sisi lain, potensi transformasi teknologi AI di berbagai sektor diyakini masih sangat besar. Keputusan berani Son untuk terus “all-in” pada AI akan menjadi salah satu kisah paling menarik untuk disaksikan di tahun-tahun mendatang.
Untuk diketahui, SoftBank juga memiliki sejarah panjang dalam investasi teknologi di Asia, termasuk di Indonesia. Sebelum fokus besar pada AI, SoftBank pernah memilih Nokia dan Ericsson dibanding Huawei untuk jaringan 5G mereka.
Terlepas dari kontroversi dan kekhawatiran yang ada, satu hal yang jelas: Masayoshi Son tidak akan mundur dari keyakinannya. Ia melihat masa depan yang cerah di depan AI dan siap untuk menjadi pemain utamanya, apa pun risikonya.
Pernyataan Son ini menambah daftar panjang pernyataan kontroversial para eksekutif teknologi papan atas. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah keyakinan Son ini adalah sebuah visi brilian atau sebuah kesalahan besar yang akan dikenang dalam sejarah bisnis.





Komentar
Belum ada komentar.