Telset.id – Masayoshi Son, CEO SoftBank, dengan tegas membantah kekhawatiran yang menyebut industri kecerdasan buatan atau AI tengah berada dalam gelembung finansial. Dalam konferensi tahunan perusahaan di Tokyo, ia menyebut anggapan tersebut sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan menunjukkan ketidakpahaman terhadap potensi AI.
Son menyatakan kesiapannya untuk menggelontorkan dana triliunan dolar setiap tahun selama beberapa dekade demi mewujudkan visinya. “Bertanya apakah AI adalah gelembung adalah hal yang tidak masuk akal. Saya rasa orang yang menanyakan itu tidak tahu apa itu AI,” ujar Son di hadapan peserta konferensi, seperti dikutip Reuters.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran publik, terutama di Amerika Serikat, bahwa investasi besar-besaran di sektor teknologi telah menciptakan gelembung AI yang berpotensi membahayakan perekonomian. Jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas masyarakat Amerika setuju dengan kekhawatiran tersebut.
Meskipun demikian, Son tetap pada pendiriannya. Ia bahkan pernah menyebut bahwa meragukan AI adalah sebuah “penistaan.” Keyakinan ini telah mendorong SoftBank untuk melakukan investasi yang sangat agresif, terutama kepada OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT.
SoftBank tercatat telah mengucurkan dana hampir USD 65 miliar kepada OpenAI. Besarnya investasi ini memaksa lembaga pemeringkat kredit utama, S&P Global, untuk menurunkan peringkat SoftBank dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam laporan kreditnya pada Maret lalu, S&P Global mengubah prospek SoftBank dari “netral” menjadi “negatif.” Analis S&P menulis bahwa “likuiditas portofolio investasi SoftBank Group akan memburuk karena OpenAI kini menyumbang porsi yang lebih besar di dalamnya.”
Mereka juga memperingatkan bahwa “investasi tambahan akan semakin mengurangi kapasitas keuangan SoftBank Group.” Diperkirakan, investasi pada OpenAI akan menaikkan rasio pinjaman terhadap nilai aset perusahaan hampir empat poin persentase.
Peringatan dari lembaga kredit tersebut tidak menggoyahkan keyakinan SoftBank CEO. Son justru memperpanjang prediksinya tentang kapan AI akan benar-benar memberikan keuntungan finansial. Sebelumnya, ia memperkirakan kecerdasan super AI akan ada pada 2035. Kini, ia menambahkan lima tahun lagi.
“Model bisnisnya akan layak pada tahun 2040,” kata Son. Ia menambahkan, “Jika pendapatan AI mencapai 20 persen dari PDB global, menghabiskan 800 triliun yen per tahun hanyalah kesalahan pembulatan.”

Visi Son tentang masa depan AI sangatlah ambisius. Ia membayangkan AI akan menjadi tulang punggung perekonomian global, menggantikan atau melengkapi sebagian besar sektor industri saat ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk terus berinvestasi tanpa ragu.
Namun, langkah SoftBank ini mendapat sorotan tajam. Banyak analis mempertanyakan apakah investasi sebesar itu akan membuahkan hasil atau justru menjerumuskan perusahaan ke dalam krisis finansial. Penurunan peringkat dari S&P Global menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Pasar modal pun bereaksi terhadap perkembangan ini. Saham SoftBank mengalami fluktuasi seiring dengan berita tentang investasi besar-besaran pada OpenAI. Para investor tampaknya terbelah antara optimisme terhadap masa depan AI dan kekhawatiran akan risiko finansial yang diambil.
Di sisi lain, OpenAI sendiri terus mengembangkan model-model AI baru yang semakin canggih. Produk seperti ChatGPT telah merevolusi cara orang berinteraksi dengan teknologi. Namun, jalan untuk mencapai profitabilitas yang berkelanjutan masih panjang dan penuh tantangan.
Perdebatan tentang gelembung AI ini bukanlah hal baru. Dalam sejarah teknologi, setiap gelombang inovasi besar selalu diiringi oleh investasi yang berlebihan dan spekulasi. Era dot-com di akhir 1990-an adalah contoh paling klasik, di mana banyak perusahaan internet bangkrut setelah gelembung pecah.
Perbedaan kali ini adalah skala investasi yang jauh lebih besar dan keterlibatan pemain-pemain dominan seperti SoftBank. Keputusan Son untuk terus mengucurkan dana, meskipun ada peringatan, menunjukkan keyakinannya yang luar biasa kuat.
Son dikenal sebagai investor yang berani mengambil risiko besar. Keberhasilannya di masa lalu, seperti investasi awal di Alibaba, memberinya modal kepercayaan diri yang besar. Namun, kekalahan telak seperti investasi di WeWork juga menjadi pelajaran bahwa tidak semua risiko terbayar.
Kini, ia mempertaruhkan reputasi dan masa depan SoftBank pada satu taruhan besar: AI. Apakah ia akan menjadi pahlawan yang melihat masa depan lebih awal, atau justru korban dari gelembung terbesar dalam sejarah, hanya waktu yang bisa menjawab.
Pernyataan Son di konferensi Tokyo ini juga menyoroti adanya kesenjangan persepsi antara para pemimpin industri dan publik. Para eksekutif teknologi cenderung sangat optimis, sementara masyarakat umum dan regulator lebih khawatir tentang dampak negatif AI.
Kekhawatiran tersebut mencakup hilangnya lapangan kerja, penyebaran informasi palsu, hingga risiko keamanan dan privasi. Son tampaknya mengabaikan kekhawatiran ini dan fokus pada potensi ekonomi jangka panjang yang sangat besar.
SoftBank sendiri memiliki sejarah panjang dalam berinvestasi di teknologi mutakhir. Perusahaan ini tidak hanya fokus pada AI, tetapi juga pada robotika, telekomunikasi, dan startup di berbagai bidang. SoftBank Siapkan Rp 67,1 Triliun untuk berbagai proyek strategisnya.
Baca Juga:
Keputusan Son untuk terus berinvestasi di OpenAI, meskipun ada tekanan dari pasar dan lembaga kredit, menunjukkan bahwa ia bermain untuk jangka panjang. Ia yakin bahwa pada tahun 2040, investasinya saat ini akan terlihat sangat murah.
“Setiap tahun USD 5 triliun, atau 800 triliun yen, Anda mungkin berpikir itu bohong, tapi saya yakin itulah biayanya,” tegas Son. Kalimat ini menjadi penegas bahwa ia tidak akan mundur dari ambisinya.
Bagi para pengamat industri, pernyataan Son ini adalah sinyal bahwa perang investasi AI masih akan terus berlangsung panas. SoftBank, dengan modalnya yang sangat besar, akan menjadi salah satu pemain kunci yang menentukan arah perkembangan teknologi ini ke depannya.
Pertanyaan besarnya adalah: apakah model bisnis yang diyakini Son akan terwujud? Atau akankah gelembung AI yang dikhawatirkan banyak pihak benar-benar terjadi dan menghancurkan investasi yang telah ditanamkan?
Hingga saat ini, belum ada jawaban pasti. Yang jelas, langkah berani Masayoshi Son ini akan terus menjadi sorotan dan perdebatan di kalangan pelaku industri teknologi dan finansial global.





Komentar
Belum ada komentar.