šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi lebah di dekat bunga yang melambangkan dampak AI pada penyerbukan

Dampak AI pada Lebah: Risiko Pemanasan Global dan Kenaikan Harga Pangan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Studi University of Sydney ungkap hubungan AI dengan penurunan populasi lebah
  • Konsumsi listrik besar untuk AI bisa percepat pemanasan global
  • Pemanasan global mengancam kemampuan reproduksi dan kelangsungan hidup lebah
  • Penurunan populasi lebah berdampak pada hasil panen dan kenaikan harga pangan
  • Solusi meliputi penggunaan energi terbarukan dan model AI yang lebih efisien

Telset.id – Pertumbuhan kecerdasan buatan (AI) yang pesat ternyata tidak hanya berdampak pada dunia teknologi, tetapi juga mengancam populasi lebah, salah satu penyerbuk paling penting di bumi. Sebuah studi dari University of Sydney mengungkapkan bahwa konsumsi listrik yang besar dari AI dapat mempercepat perubahan iklim dan membahayakan kelangsungan hidup lebah.

Penelitian ini menyoroti bagaimana setiap permintaan AI membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih besar dibandingkan pencarian internet biasa. Akibatnya, permintaan listrik untuk pusat data meningkat drastis. Jika listrik tersebut berasal dari bahan bakar fosil, emisi yang dihasilkan akan berkontribusi pada pemanasan global yang mengancam populasi lebah.

Para peneliti memodelkan bagaimana emisi dari penggunaan listrik terkait AI dapat menyebabkan peningkatan suhu global. Perkiraan mereka menunjukkan bahwa pemanasan tambahan ini cukup untuk membuat jutaan lebah mengalami tekanan panas yang lebih tinggi setiap tahunnya.

Badan Energi Internasional (IEA) juga memproyeksikan bahwa konsumsi listrik dari pusat data akan lebih dari dua kali lipat pada akhir dekade ini, dengan AI diperkirakan menyumbang sebagian besar pertumbuhan tersebut. Namun, dampak lingkungannya sangat tergantung pada sumber energi yang digunakan. Pusat data yang menggunakan energi terbarukan memiliki jejak karbon yang jauh lebih kecil dibandingkan yang bergantung pada batu bara atau gas alam.

Mengapa Lebah Rentan terhadap AI?

Lebah ternyata sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Peningkatan suhu rata-rata yang relatif kecil pun dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk bereproduksi, bertahan hidup, dan menyerbuki tanaman. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tekanan panas dapat mengurangi viabilitas sperma pada lebah jantan, meningkatkan kematian selama perkembangan, dan membuat koloni lebih rentan terhadap parasit dan penyakit.

Studi dari University of Sydney ini melihat efek kumulatif dari miliaran permintaan AI, perluasan infrastruktur pusat data, dan emisi yang terkait dengan pengoperasian sistem tersebut dari waktu ke waktu. Semakin banyak permintaan AI yang diproses, semakin besar energi yang dibutuhkan, dan semakin besar pula dampaknya terhadap lingkungan.

Dampak pada Dompet dan Piring Makan Anda

Lebah menyerbuki banyak buah, sayuran, dan kacang-kacangan yang kita konsumsi setiap hari. Ketika populasi lebah menurun, pertanian menjadi lebih rentan. Tingkat penyerbukan yang lebih rendah dapat mengurangi hasil panen, meningkatkan harga pangan, dan mengganggu ekosistem yang bergantung pada populasi penyerbuk yang sehat.

Para peneliti memperkirakan bahwa penyerbuk menyumbang miliaran dolar nilai pertanian setiap tahunnya, menjadikan kesehatan mereka sebagai masalah lingkungan dan ekonomi yang penting. Dengan kata lain, semakin sedikit lebah, semakin mahal harga makanan.

Para peneliti berpendapat bahwa masalah yang lebih besar bukanlah AI itu sendiri, melainkan bagaimana AI ditenagai. Banyak perusahaan teknologi terbesar di dunia berinvestasi besar-besaran dalam pusat data bertenaga energi terbarukan, penyimpanan baterai canggih, dan sistem pendingin yang lebih efisien untuk mengurangi emisi.

Pada saat yang sama, produsen chip terus meningkatkan efisiensi energi perangkat keras AI, memungkinkan sistem yang lebih baru untuk melakukan lebih banyak pekerjaan dengan menggunakan lebih sedikit listrik. Ada juga minat yang berkembang pada model AI yang lebih kecil yang dapat berjalan langsung di laptop atau smartphone, mengurangi kebutuhan akan sumber daya komputasi terpusat yang besar untuk beberapa tugas.

Perubahan-perubahan ini tidak akan menghilangkan jejak lingkungan AI, tetapi dapat secara signifikan menguranginya seiring waktu. Pengembangan model AI yang lebih cerdas dan ramah lingkungan menjadi kunci untuk masa depan yang berkelanjutan. Perusahaan seperti Google juga terus mengembangkan Fitur Terbaru untuk mengurangi dampak lingkungan dari teknologi mereka.

Bagi kebanyakan orang, dampak lingkungan dari satu permintaan AI sangat kecil. Para peneliti tidak menyarankan konsumen untuk berhenti menggunakan AI sama sekali. Namun, ini adalah kisah peringatan. Studi ini menyoroti tantangan yang lebih luas yang dihadapi industri teknologi: memastikan infrastruktur yang mendukung AI tumbuh dengan cara yang berkelanjutan.

Seiring AI terintegrasi ke dalam segala hal mulai dari mesin pencari hingga smartphone, biaya lingkungan akan semakin tergantung pada keputusan yang dibuat oleh perusahaan teknologi, penyedia energi, dan pembuat kebijakan. Masa depan AI bergantung pada pembangunan model yang lebih cerdas sambil juga memberdayakannya secara bertanggung jawab. Beberapa vendor seperti OnePlus juga mulai merilis perangkat dengan Spesifikasi Lengkap yang lebih efisien energi.

Pesan utamanya adalah bahwa masa depan AI tergantung pada pembangunan model yang lebih cerdas sambil juga memberdayakannya secara bertanggung jawab. Dengan kata lain, inovasi AI harus diimbangi dengan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Jika tidak, kemajuan teknologi yang kita nikmati saat ini bisa datang dengan harga yang sangat mahal bagi planet ini dan penghuninya, termasuk lebah yang tampaknya tidak terkait.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.