šŸ“‘ Daftar Isi

Logo Snorkel AI dengan latar belakang grafis data dan kecerdasan buatan

Snorkel AI Raih Pendanaan Rp5,7 Triliun, Valuasi Tiga Kali Lipat

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Snorkel AI raih pendanaan Seri E US$350 juta dengan valuasi US$3,5 miliar
  • Dipimpin Insight Partners dan S32, diikuti Addition, Lightspeed, Greylock, GV, Wells Fargo
  • Valuasi naik hampir tiga kali lipat dari US$1,3 miliar pada Seri D 17 bulan lalu
  • Annualized revenue run rate capai US$375 juta, tumbuh 18 kali lipat dalam 12 bulan
  • Beralih dari otomasi pelabelan data ke model data-as-a-service
  • Pendekatan hybrid gabungkan perangkat lunak, data sintetis, dan subject matter expert

Telset.id – Snorkel AI, startup yang membantu laboratorium AI dan korporasi membangun dataset pelatihan serta lingkungan simulasi, berhasil mengumpulkan pendanaan Seri E senilai US$350 juta atau sekitar Rp5,7 triliun dengan valuasi US$3,5 miliar. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Insight Partners dan S32, dan menempatkan valuasi Snorkel AI hampir tiga kali lipat dari valuasi US$1,3 miliar yang diraih saat mengumpulkan US$100 juta pada Seri D sekitar 17 bulan lalu.

Lonjakan valuasi Snorkel AI ini menjadi sinyal kuat bahwa permintaan data pelatihan berkualitas tinggi untuk kecerdasan buatan terus melesat. Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat tersebut kini mencatatkan annualized revenue run rate sebesar US$375 juta, atau tumbuh delapan belas kali lipat dibandingkan 12 bulan terakhir. Pertumbuhan itu didorong oleh kebutuhan laboratorium AI akan data pelatihan kelas atas yang tidak menunjukkan tanda-tanda surut.

Investor yang sudah ada sebelumnya, termasuk Addition, Lightspeed, Greylock, GV, dan Wells Fargo, turut berpartisipasi dalam putaran pendanaan terbaru ini. Kehadiran sejumlah nama besar tersebut memperlihatkan tingkat kepercayaan investor terhadap model bisnis yang dijalankan Snorkel AI di tengah persaingan industri data AI yang semakin ketat.

Dari Otomasi Pelabelan Data ke Data-as-a-Service

Snorkel AI pada awalnya menyediakan perangkat lunak untuk otomasi pelabelan data. Namun, pada tahun lalu perusahaan mengubah haluan dengan memberikan dataset lengkap kepada pelanggan, sebuah penawaran yang mereka sebut sebagai data-as-a-service. Pergeseran model bisnis ini menjadi salah satu faktor kunci di balik pertumbuhan pendapatan yang agresif.

Alih-alih beroperasi murni sebagai marketplace ahli manusia, Snorkel AI mengandalkan pendekatan hybrid. Perusahaan menggunakan perangkat lunak dan modelnya untuk menghasilkan data secara sintetis, berdampingan dengan para subject matter expert. Pendekatan ini membedakan Snorkel AI dari sejumlah perusahaan data lain yang lebih bertumpu pada tenaga kerja manusia.

Perbedaan model bisnis tersebut berdampak pada cara perusahaan menghitung pendapatannya. Karena Snorkel AI menjual lingkungan reinforcement learning (RL) dan dataset lengkap, bukan tenaga kerja manusia, pembayaran kepada para ahli manusia dicatat sebagai cost of goods sold, bukan sebagai bagian dari angka annualized revenue. Hal ini berbeda dengan perusahaan data lain yang membayarkan sekitar 60% hingga 70% dari pendapatan top-line mereka langsung kepada spesialis domain yang mengerjakan pekerjaan tersebut.

Snorkel AI sendiri secara komersial diluncurkan pada 2019, setelah empat tahun riset yang dilakukan oleh co-founder sekaligus CEO Alex Ratner bersama timnya di sebuah laboratorium AI Stanford. Perjalanan panjang dari riset akademik hingga menjadi perusahaan dengan valuasi miliaran dolar menunjukkan betapa besarnya peluang di sektor data AI.

Fenomena yang dialami Snorkel AI bukanlah kasus tunggal. Perusahaan data lain yang memposisikan diri sebagai AI data lab juga mencatatkan lonjakan pertumbuhan serupa. Mercor mencatatkan gross annualized revenue yang naik menjadi US$2 miliar, Handshake mencapai tonggak US$1 miliar pada awal tahun ini, dan Micro1 dilaporkan telah berkembang hingga US$500 juta.

Persaingan Ketat di Pasar Data AI

Meski angka pertumbuhan terlihat fantastis, penting untuk mencermati struktur pendapatan di industri ini. Perusahaan-perusahaan data yang membayarkan sebagian besar pendapatan mereka kepada spesialis domain memiliki pendapatan bersih tahunan yang jauh lebih rendah dibandingkan angka gross yang dipublikasikan. Snorkel AI, dengan model data-as-a-service, berada pada posisi berbeda karena tidak menjual tenaga kerja manusia sebagai produk utamanya.

Pertumbuhan industri data AI ini juga tercermin dari berbagai perkembangan teknologi lain yang tengah menjadi sorotan. Isu seputar distilasi model AI misalnya, sempat mencuat ketika AS menuding Moonshot mencuri model AI. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa persaingan di ranah AI tidak hanya soal data, tetapi juga soal bagaimana model dikembangkan dan dilatih.

Di sisi lain, adopsi teknologi AI dan perangkat pintar terus meluas ke berbagai lini. Bahkan perangkat konsumen seperti jam pintar kini dibekali kemampuan yang semakin beragam, sejalan dengan tren inovasi yang juga terjadi di sektor perangkat wearable. Snorkel AI sendiri memilih fokus pada fondasi yang lebih mendasar, yakni penyediaan data pelatihan yang menjadi bahan bakar utama bagi model AI modern.

Dengan pendanaan segar senilai US$350 juta dan valuasi US$3,5 miliar, Snorkel AI berada di posisi yang kuat untuk memperluas kapasitasnya dalam melayani kebutuhan laboratorium AI dan korporasi. Pertumbuhan pendapatan delapan belas kali lipat dalam 12 bulan terakhir menjadi indikator bahwa permintaan terhadap dataset pelatihan dan lingkungan reinforcement learning masih akan menjadi salah satu segmen paling panas di industri AI.

Ke depan, tantangan utama bagi Snorkel AI dan pemain sejenis adalah menjaga kualitas data sekaligus menskalakan produksi untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. Model hybrid yang menggabungkan perangkat lunak, model sintetis, dan keahlian manusia tampaknya menjadi pendekatan yang dipilih Snorkel AI untuk menjawab tantangan tersebut.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.