📑 Daftar Isi

Ilustrasi AI agent Shopify berbelanja dari katalog lebih dari satu miliar listing dengan checkout Shop Pay

Shopify Buka Belanja via AI Agent, Lebih dari 1 Miliar Listing

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Shopify membuka akses AI agent untuk belanja dari katalog lebih dari 1 miliar listing
  • Shopper dapat memakai agent apa pun tanpa integrasi kemitraan khusus
  • Agent dihubungkan ke akun Shop, checkout lewat Shop Pay satu klik
  • Pembeli bisa menetapkan batas anggaran dan wajib menyetujui tiap pembelian
  • Pesanan dialirkan kembali ke aplikasi Shop
  • Persaingan agentic commerce melibatkan Google, Amazon, Perplexity, dan Meta

Telset.id – Shopify resmi membuka akses bagi lebih banyak AI agent untuk menjelajah dan membeli produk dari katalognya yang berisi lebih dari satu miliar listing. Perusahaan mengumumkan pada Selasa bahwa para shopper kini dapat mengonfigurasi AI agent mereka untuk melakukan pembelian atas nama mereka, sehingga agent apa pun bisa digunakan tanpa perlu integrasi kemitraan khusus. Langkah ini menandai perluasan ambisi Shopify di ranah agentic commerce, sekaligus menegaskan posisi e-commerce sebagai salah satu medan pertempuran utama di era AI.

Katalog yang dapat diakses agent tersebut mencakup item yang dijual di storefront Shopify maupun di luar Shopify. Sebelumnya, pada September, Shopify mengumumkan kemitraan dengan Meta untuk memungkinkan agent Muse milik Meta menjelajah dan membeli barang atas nama manusia. Kini, shopper tidak lagi terbatas pada agent hasil kemitraan resmi. Fitur baru ini memperluas siapa saja yang bisa bertransaksi lewat katalog Shopify, sejalan dengan langkah perusahaan yang sebelumnya juga izinkan AI agent menyelesaikan checkout di semua toko online.

Untuk mengaktifkan fitur ini, pelanggan perlu menghubungkan sebuah agent dengan akun mereka di Shop, platform milik Shopify yang berfungsi mengonsolidasikan pesanan, melacak paket, dan merekomendasikan produk. Proses checkout memanfaatkan fitur satu klik Shop Pay, sama seperti yang digunakan pada kemitraan dengan Muse. Artinya, transaksi diselesaikan langsung di dalam percakapan dengan agent, tanpa harus berpindah aplikasi atau halaman pembayaran terpisah.

Cara Kerja Belanja lewat AI Agent dan Aturan yang Ditetapkan Pembeli

Pesanan yang dilakukan melalui agent akan dialirkan kembali ke aplikasi Shop. Shopify memasarkan fitur ini sebagai “personal shopper” yang bisa diberi aturan oleh manusia, misalnya menetapkan batas anggaran atau hanya menampilkan produk dengan pengiriman cepat. Selain itu, pembeli tetap harus menyetujui setiap pembelian yang dilakukan agent. Dengan begitu, kendali akhir atas transaksi tetap berada di tangan pengguna, meski proses pencarian dan pemilihan produk dilakukan secara otomatis.

Kemampuan agent untuk menjelajah dan membeli dari lebih dari satu miliar listing ini memperkuat posisi Shopify sebagai salah satu pemain besar yang serius menggarap belanja berbasis AI. Langkah tersebut juga menyusul capaian perusahaan yang disebut raup cuan besar dari AI search, di mana trafik dilaporkan melonjak hingga tiga kali lipat. Kombinasi antara akses katalog raksasa dan mekanisme checkout satu klik menjadi fondasi bagi Shopify untuk mendorong transaksi yang dimediasi agent.

Baca Juga:

Persaingan Agentic Commerce dan Ketegangan dengan Amazon

E-commerce menjadi salah satu medan pertempuran di era AI. Bukan kebetulan jika banyak demo alat agentic berakhir dengan sebuah transaksi, entah itu membeli pakaian, memesan penerbangan, atau memesan makanan atas nama manusia. Industri teknologi, termasuk pemain commerce besar seperti Google dan Amazon, tengah berinvestasi pada alat belanja berbasis AI dengan tujuan akhir seorang “agent” yang membeli barang untuk pengguna manusia.

Perkembangan ini juga menjadi dasar perseteruan yang masih berlangsung antara Amazon dan perusahaan AI seperti Perplexity, dan baru-baru ini dengan Muse milik Meta. Pokok persoalannya adalah apakah agent seharusnya diizinkan berbelanja atas nama pelanggan. Ketegangan tersebut menunjukkan bahwa adopsi agentic commerce tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal aturan main antara platform commerce dan penyedia agent.

Di sisi lain, langkah Shopify untuk membuka akses agent tanpa integrasi kemitraan menempatkan perusahaan pada posisi yang berbeda dari pemain yang masih memperdebatkan batas-batas belanja oleh agent. Dengan membiarkan shopper menghubungkan agent pilihan mereka sendiri ke akun Shop, Shopify memperluas permukaan transaksi yang bisa dijangkau agent, sekaligus mempertahankan Shop Pay sebagai jalur pembayaran utama. Bagi pelaku usaha, terutama yang mengandalkan kanal online, keterbukaan ini berpotensi memperbesar peluang produk mereka ditemukan dan dibeli lewat percakapan dengan agent.

Perluasan fitur ini juga menjadi sinyal bahwa peran agent dalam belanja tidak lagi sebatas eksperimen. Shopify telah menyiapkan jalur lengkap, mulai dari penemuan produk di katalog, aturan yang ditetapkan pembeli, persetujuan transaksi, hingga pengembalian pesanan ke aplikasi Shop. Kombinasi ini menjadikan agent sebagai perantara baru antara penjual dan pembeli, dengan Shop Pay sebagai simpul pembayaran yang menyatukan pengalaman tersebut.

Seiring makin banyak agent yang bisa mengakses katalog Shopify, persaingan di ruang agentic commerce diprediksi semakin ketat. Google dan Amazon disebut tengah berinvestasi pada alat belanja berbasis AI, sementara perseteruan antara Amazon dan perusahaan AI soal belanja oleh agent masih berlanjut. Shopify memilih jalur yang lebih terbuka dengan mengizinkan agent apa pun, selama terhubung ke akun Shop dan disetujui pembeli. Bagi pengguna, yang berubah adalah cara berbelanja: dari menelusuri sendiri halaman produk menjadi memberi instruksi kepada agent, dengan batas anggaran dan preferensi pengiriman sebagai rambu-rambu.

Dengan lebih dari satu miliar listing yang kini dapat dijelajahi agent, dan mekanisme persetujuan yang tetap dipegang pembeli, fitur ini menegaskan arah Shopify dalam membangun belanja yang dimediasi AI. Perusahaan tidak hanya menyediakan katalog, tetapi juga platform Shop dan Shop Pay sebagai infrastruktur transaksi. Dalam lanskap yang masih diperdebatkan soal siapa yang boleh berbelanja atas nama pelanggan, langkah Shopify memperjelas posisinya: agent boleh berbelanja, selama pembeli tetap memegang kendali.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.