Telset.id – Character.AI resmi mengajukan perlindungan Chapter 11 bankruptcy atau pailit di Amerika Serikat. Langkah ini ditempuh untuk memfasilitasi penjualan perusahaan dan asetnya, dengan Disney sebagai penawar utama (stalking horse bidder) yang menawarkan US$20 juta atau sekitar Rp326 miliar untuk membeli sebagian aset perusahaan.
Perusahaan rintisan AI generatif yang memungkinkan pengguna membuat karakter chatbot sendiri itu mencatat liabilitas atau utang antara US$50 juta hingga US$100 juta. Character.AI memperkirakan proses penjualan akan selesai pada awal Desember 2026, dan menyatakan layanan platformnya akan tetap berjalan selama proses berlangsung, meski berpotensi ditutup jika tidak ada pembeli yang ditemukan.
Sebagai penawar utama, Disney tidak hanya akan membeli aset tertentu, tetapi juga memberikan dukungan transisi dengan menggunakan staf yang sebelumnya direkrut dari Character.AI. Penawaran Disney masih bersifat sementara dan terbuka bagi penawar lain yang menawarkan harga lebih tinggi.

Character.AI memungkinkan pengguna membuat karakter lengkap dengan kepribadian, serta mengatur parameter spesifik seperti nama, suara, deskripsi, dan sapaan. Karakter tersebut kemudian dapat dipublikasikan ke komunitas untuk diajak berinteraksi oleh pengguna lain, atau ditempatkan dalam skenario tertentu. Karakter bisa didasarkan pada sumber media fiksi maupun sepenuhnya orisinal.
Situs yang pertama kali muncul pada 2022 ini menghadapi berbagai masalah yang lazim dialami perusahaan AI sejenis. Negara bagian Pennsylvania menggugat Character.AI terkait chatbot yang berpura-pura menjadi dokter. Perusahaan juga diselidiki oleh Texas atas apa yang disebut Jaksa Agung negara bagian tersebut sebagai klaim kesehatan mental yang “menyesatkan”. Disney pernah melayangkan perintah cease-and-desist terhadap perusahaan atas penggunaan karakter kartunnya, dan melarang remaja berbicara dengan chatbot Character.AI pada tahun lalu.
Baca Juga:
Meski pernah menuduh Character.AI merusak mereknya, Disney pada tahun lalu justru merekrut mantan CEO perusahaan tersebut, Karandeep Anand, sebagai chief technology officer. Sebelumnya, Google menghabiskan US$2 miliar untuk merekrut sebagian besar talenta Character.AI, terutama para co-founder perusahaan, Noam Shazeer dan Daniel De Freitas.
Keputusan Character.AI mengajukan Chapter 11 bankruptcy menandai babak baru dalam perjalanan singkat perusahaan rintisan AI generatif tersebut. Selama masa hidupnya yang relatif pendek, Character.AI kehilangan sejumlah karyawan kunci dan menghadapi berbagai tantangan hukum. Penawaran Disney atas aset perusahaan menjadi salah satu momen paling signifikan dalam proses ini.
Langkah Disney untuk mengakuisisi sebagian aset Character.AI menunjukkan pergeseran menarik dalam hubungan antara kedua perusahaan. Dari sempat berseteru melalui perintah cease-and-desist, Disney kini mengambil peran sebagai penyelamat aset Character.AI. Hal ini juga sejalan dengan langkah Disney sebelumnya yang telah merekrut mantan CEO Character.AI sebagai CTO.
Bagi pengguna platform Character.AI, kelangsungan layanan menjadi pertanyaan utama. Perusahaan menyatakan layanan akan terus berjalan selama proses penjualan berlangsung, namun potensi penutupan tetap ada jika tidak ada pembeli yang ditemukan. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian bagi komunitas pengguna yang telah membangun karakter dan berinteraksi di platform tersebut.
Proses penjualan aset Character.AI kepada Disney masih menunggu penawaran yang lebih tinggi dari pihak lain. Jika tidak ada penawaran yang melebihi US$20 juta, maka Disney akan menjadi pembeli utama aset perusahaan. Character.AI memperkirakan proses ini akan rampung pada awal Desember 2026.
Kisah Character.AI mencerminkan dinamika industri AI generatif yang bergerak cepat, di mana perusahaan rintisan dapat mengalami pasang surut dalam waktu singkat. Dari peluncuran pada 2022 hingga pengajuan pailit pada 2026, perjalanan perusahaan ini menyoroti tantangan yang dihadapi startup AI dalam menghadapi tekanan hukum, persaingan talenta, dan keberlanjutan bisnis.
Bagi pengamat industri, langkah Disney mengakuisisi aset Character.AI menunjukkan strategi perusahaan hiburan besar dalam mengintegrasikan teknologi AI ke dalam ekosistem mereka. Dengan memiliki aset dan talenta dari Character.AI, Disney berpotensi memperkuat kemampuan AI-nya di masa depan, meski detail rencana tersebut belum diungkap secara resmi.
Pengajuan Chapter 11 bankruptcy Character.AI juga menjadi pengingat bahwa tidak semua perusahaan AI generatif dapat mempertahankan posisinya di pasar yang kompetitif. Faktor seperti tuntutan hukum, kehilangan talenta kunci, dan model bisnis yang belum terbukti dapat menjadi penyebab utama kegagalan sebuah startup teknologi.





Komentar
Belum ada komentar.