📑 Daftar Isi

CEO Meta Platforms Mark Zuckerberg menghadiri Konferensi Allen & Company Sun Valley di Sun Valley Lodge

Rencana Rahasia Zuckerberg Gantikan Staf Meta dengan AI Gagal Total

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Meta PHK sekitar 10 persen tenaga kerja global atau hampir 8.000 orang pada bulan Mei
  • Rencana rahasia Project OT ingin memangkas tim hingga 60 persen dengan agen AI
  • Gelombang PHK kedua dibatalkan karena rencana dianggap tidak realistis
  • Gugatan hukum oleh 26 karyawan menuduh AI internal targetkan penyandang disabilitas
  • Meta naikkan perkiraan belanja 2026 hingga 145 miliar dolar AS meski arus kas menurun
  • Zuckerberg akui teknologi agen AI berkembang lebih lambat dari harapan
  • Staf sibuk menangani lonjakan kode AI yang sebabkan insiden teknis dan keamanan
  • Meta klaim tidak melanjutkan semua skenario dari latihan Project OT

Telset.id – Rencana rahasia Mark Zuckerberg untuk menggantikan ribuan karyawan Meta dengan agen AI berakhir dengan kegagalan spektakuler. Proyek yang diberi kode nama Project Organization Transformation (Project OT) ini awalnya menargetkan pemangkasan tim hingga 60 persen, namun akhirnya batal total setelah gelombang PHK pertama memicu badai PR besar-besaran bagi perusahaan.

Pada bulan Mei, Meta memberhentikan sekitar sepuluh persen tenaga kerjanya secara global, yang berdampak pada hampir 8.000 orang. PHK massal ini terjadi di tengah janji berulang tentang revolusi teknologi berbasis AI yang akan membuat tenaga kerja manusia menjadi sesuatu yang tidak diperlukan lagi. Zuckerberg, CEO Meta, dikenal sangat terobsesi dengan gagasan tersebut.

Menurut laporan Reuters, para eksekutif Meta mengembangkan rencana radikal di bawah kepemimpinan Zuckerberg untuk membuat agen AI menggantikan peran ribuan staf manusia. Rencana ini awalnya ingin memangkas tim hingga 60 persen, sebuah angka yang mengejutkan namun ternyata sama sekali tidak realistis.

Gelombang PHK kedua yang direncanakan setelah pemutusan kerja brutal di bulan Mei akhirnya dibatalkan. Rencana Zuckerberg untuk membersihkan perusahaannya dari sumber daya manusia yang dianggap mahal dan merepotkan ini runtuh dalam sebuah kemunduran yang memalukan.

Dampak Buruk PHK Massal Meta

PHK di bulan Mei tersebut berkembang menjadi bencana PR dengan skala luar biasa. Satu gugatan hukum yang diajukan oleh 26 karyawan menuduh perusahaan menggunakan platform AI internal untuk memilih target PHK, yang secara tidak proporsional menyasar orang-orang dengan disabilitas.

Eksekusi PHK yang buruk juga membuat moral di tempat kerja menurun drastis. Para staf yang marah meluapkan kemarahan mereka melalui untaian kata-kata kasar di papan pesan internal, sementara Zuckerberg hanya menjanjikan camilan yang lebih baik dan hackathon.

Meta juga menerima kritik serius karena mencoba memasang perangkat lunak pengawasan di komputer para staf untuk melatih AI dengan segala sesuatu yang mereka ketik dan klik.

Investasi AI Tanpa Hasil Signifikan

Zuckerberg juga belum memiliki banyak hal untuk ditunjukkan dari upaya AI-nya, bahkan ketika ia mengakui bahwa PHK tersebut dimaksudkan untuk membebaskan dana bagi belanja modal yang membengkak. Tanpa gentar, Meta menaikkan perkiraan belanjanya untuk tahun 2026 hingga setinggi 145 miliar dolar AS, bahkan ketika arus kas perusahaan menurun tajam.

Sang CEO mengakui pada bulan Juli bahwa teknologi agen AI berkembang jauh lebih lambat dari yang ia harapkan. Menurut Reuters, para staf juga sibuk “memadamkan api” atas lonjakan besar kode yang dihasilkan AI yang menyebabkan insiden teknis dan keamanan.

Singkatnya, tidak mengherankan jika “playbook AI-native” Meta berakhir dengan kegagalan. Sementara Meta mengakui rencana untuk memangkas beberapa tim hingga 60 persen, perusahaan mengatakan kepada Reuters dalam sebuah pernyataan bahwa “pada akhirnya, kami tidak melanjutkan setiap skenario dari latihan tersebut — dan tidak pernah diasumsikan akan melakukannya.”

Meskipun Zuckerberg telah berjanji tidak akan ada lagi PHK di seluruh perusahaan tahun ini, para staf masih memperkirakan akan ada pemutusan kerja di masa depan berdasarkan kinerja. Kegagalan proyek AI ini menjadi pelajaran penting tentang risiko menggantikan tenaga kerja manusia dengan teknologi yang belum matang.

CEO of Meta Platforms Mark Zuckerberg attends the Allen & Company Sun Valley Conference at the Sun Valley Lodge.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa ambisi besar Zuckerberg untuk mentransformasi Meta menjadi perusahaan berbasis AI menghadapi hambatan serius. Rencana Project OT yang awalnya digadang-gadang sebagai masa depan perusahaan justru menjadi bumerang yang mempermalukan manajemen.

Para analis industri kini mengamati bagaimana Meta akan menyeimbangkan antara investasi besar di bidang AI dengan kebutuhan untuk mempertahankan tenaga kerja manusia yang berkualitas. Kegagalan Project OT juga menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan PHK berbasis kinerja yang masih akan diterapkan perusahaan.

Sementara itu, persaingan di industri AI semakin ketat dengan berbagai pemain besar berlomba mengembangkan teknologi terbaru. Meta kini harus berhadapan dengan kenyataan bahwa teknologi AI belum siap sepenuhnya menggantikan peran manusia, setidaknya untuk saat ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.