Telset.id – Sebanyak 82% pekerja pengetahuan (knowledge workers) Gen Z di Amerika Serikat kini menganggap diri mereka sebagai pekerja global, bukan sekadar karyawan Amerika. Temuan riset terbaru dari Pebl ini mengungkap perubahan fundamental cara pandang generasi muda terhadap karier, di mana batas geografis tidak lagi menjadi penghalang untuk meraih peluang terbaik.
Riset yang melibatkan 1.022 pekerja pengetahuan Gen Z di AS tersebut menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden (54%) menyatakan pencapaian ‘American Dream’ tidak harus berarti tetap tinggal di AS. Bagi mereka, definisi sukses adalah mengejar peluang karier terbaik di mana pun lokasinya. Konsekuensinya, 53% responden memilih bekerja untuk perusahaan terbaik di dunia dibandingkan perusahaan terbaik di Amerika.

Kolaborasi Lintas Negara Menjadi Prioritas
Para pekerja muda ini juga menunjukkan antusiasme tinggi untuk berkolaborasi dengan rekan kerja dari berbagai negara. Sebanyak 73% responden menilai kolaborasi internasional dapat memperluas perspektif, 71% percaya hal itu meningkatkan kemampuan kepemimpinan, dan 68% meyakini dapat mengasah kemampuan pemecahan masalah.
Meskipun berbagai studi sebelumnya menunjukkan kerja jarak jauh (remote working) menjadi syarat mutlak bagi banyak pekerja muda, riset Pebl menemukan mereka tetap antusias untuk bekerja secara internasional, baik secara langsung maupun remote. Dua dari lima responden (41%) membayangkan karier yang melibatkan pekerjaan di dua atau tiga negara berbeda. Bahkan, dua dari tiga responden (64%) menyatakan sangat tertarik dengan peluang kerja sementara di negara lain.
Jaringan dan Kepemimpinan Lebih Penting dari AI
Temuan menarik lainnya dari riset ini adalah prioritas pengembangan keterampilan di kalangan pekerja Gen Z. Membangun jaringan profesional yang kuat (28%) dan mendapatkan pengalaman kepemimpinan dan manajemen (26%) menduduki peringkat jauh lebih tinggi dibandingkan pengembangan keterampilan AI (11%).
CEO Pebl, Francoise Brougher, menjelaskan bahwa Gen Z tidak hanya terbuka terhadap karier internasional, tetapi semakin menganggap pengalaman global sebagai hal esensial untuk menjadi pemimpin yang lebih kuat. “Jika perusahaan menginginkan pemimpin berwawasan global di masa depan, mereka harus mulai menciptakan karier berwawasan global hari ini,” ujarnya.

Pebl juga menjelaskan peran AI sebagai penguat kemampuan manusia (human skill amplifier), bukan pengganti. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa pekerja muda tetap optimistis terhadap hubungan interpersonal dan peluang karier baru, setelah bertahun-tahun menghadapi gejolak besar dalam rutinitas kerja tatap muka maupun jarak jauh serta otomatisasi AI.
Implikasi bagi Dunia Kerja
Mandat kembali ke kantor (return-to-office) yang terus berlanjut juga menempatkan penekanan besar pada kolaborasi tatap muka, dan jelas bahwa pekerja muda sependapat. Temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan perlu memikirkan ulang strategi talenta mereka jika ingin menarik dan mempertahankan pekerja Gen Z terbaik.
Fenomena ini juga berpotensi mengubah lanskap ketenagakerjaan global, di mana perusahaan harus bersaing tidak hanya dengan kompetitor lokal tetapi juga global. Sementara itu, dinamika serupa juga terjadi di berbagai industri, termasuk sektor teknologi dan manufaktur yang kerap menghadapi tuntutan pekerja terkait kondisi kerja. Bahkan di industri game, isu ketenagakerjaan menjadi sorotan, seperti PHK massal di Xbox yang melepas 3.200 karyawan.
Riset Pebl ini memberikan gambaran jelas bahwa generasi muda tidak lagi memandang karier dalam kerangka batas negara. Mereka siap bergerak, berkolaborasi, dan bersaing di panggung global, dan perusahaan yang mampu mengakomodasi aspirasi ini akan memiliki keunggulan kompetitif dalam merebut talenta terbaik.





Komentar
Belum ada komentar.