📑 Daftar Isi

Tumpukan uang terbakar melambangkan biaya AI yang membengkak

Perusahaan Boros Rp8 Triliun untuk AI dalam Sebulan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Perusahaan tanpa nama boros Rp8 triliun untuk Claude AI dalam sebulan
  • Biaya melonjak akibat gagal batasi lisensi Claude untuk karyawan
  • Tren "tokenmaxxing" dorong penggunaan AI berlebihan tanpa manfaat jelas
  • Amazon tutup papan peringkat AI karena karyawan manipulasi skor
  • Microsoft batalkan lisensi Claude Code meski populer
  • Biaya AI diperkirakan terus naik seiring tarif dinaikkan penyedia

Telset.id – Sebuah perusahaan tanpa nama dilaporkan menghabiskan dana setengah miliar dolar AS atau sekitar Rp8 triliun hanya untuk biaya langganan Claude AI dalam satu bulan. Angka fantastis ini terungkap dalam laporan Axios yang menyoroti bagaimana organisasi yang terburu-buru mengadopsi kecerdasan buatan kini harus berhadapan dengan biaya selangit yang membengkak.

Menurut laporan tersebut, seorang konsultan AI mengungkapkan bahwa perusahaan itu mengalami kerugian besar akibat kelalaian kecil: gagal membatasi penggunaan lisensi Claude untuk para karyawannya. “Gagal menetapkan batas penggunaan lisensi Claude untuk karyawan,” demikian pernyataan konsultan AI itu kepada Axios. Angka ini mencerminkan biaya nyata penggunaan alat AI, terutama AI agent yang lebih canggih dan mahal, serta antusiasme korporat dalam mengadopsi AI secepat mungkin.

Fenomena ini menjadi perdebatan tentang mana yang lebih bertanggung jawab, tetapi jelas bahwa hiruk-pikuk seputar kemampuan AI untuk memaksimalkan efisiensi kini mulai berdampak buruk bagi para penginjil teknologi tersebut. Banyak perusahaan yang CEO-nya terdorong oleh euforia AI telah mendorong karyawan untuk menggunakan AI sebanyak mungkin, tren yang disebut “tokenmaxxing.” Meta kini menyertakan penggunaan AI dalam evaluasi kinerja karyawan, sementara Amazon memiliki papan peringkat internal yang melacak seberapa sering karyawannya menggunakan alat AI.

Biaya Tersembunyi di Balik Euforia AI

Amazon baru-baru ini menutup papan peringkat tersebut setelah menemukan bahwa beberapa karyawan yang terlalu bersemangat mengarahkan AI agent untuk melakukan tugas-tugas tidak berguna demi meningkatkan skor mereka, seperti dilaporkan Financial Times. Biaya tidak perlu lainnya mungkin kurang jelas; seorang chief technology officer memberi tahu Axios bahwa karyawan di perusahaannya menggunakan model AI hanya untuk memeriksa cuaca, sesuatu yang jelas tidak memerlukan AI.

CEO Velastegui Ventures dan mantan kepala AI di Microsoft, Sophia Velastegui, berpendapat bahwa penjelasan lain untuk biaya AI yang membengkak adalah bahwa “kebanyakan orang secara default mengotomatiskan tugas yang tidak mereka sukai daripada tugas yang paling bernilai bagi perusahaan,” demikian menurut Axios. Para pendukung AI mungkin berargumen bahwa kita sedang melalui fase eksperimentasi, dan setelah perusahaan menemukan cara cerdas menggunakan teknologi ini, biaya akan turun.

Namun, hal itu mungkin berarti mengurangi penggunaan AI, sesuatu yang tidak diinginkan industri AI, terutama karena para pemimpin seperti OpenAI dan Anthropic mendorong valuasi triliunan dolar. Beberapa penyedia AI bahkan telah menaikkan tarif yang mereka kenakan untuk menggunakan model mereka, serta menempatkan batas tarif yang lebih ketat. Ini menunjukkan bahwa tarif AI bisa terus naik seiring perusahaan AI sendiri bergulat dengan biaya komputasi besar yang mereka tanggung untuk menarik pelanggan dengan tarif lebih murah.

Microsoft mulai membatalkan lisensi Claude Code-nya bulan lalu, meskipun, dan mungkin karena, popularitasnya yang luar biasa di kalangan insinyur perangkat lunak. Fenomena ini mengingatkan kita pada tantangan adopsi teknologi yang tidak terkendali, mirip dengan Cara Mengatasi Force Close di aplikasi yang memerlukan penanganan khusus agar tidak membebani sistem.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi perusahaan yang tergoda untuk mengadopsi AI secara membabi buta tanpa perencanaan matang. Biaya setengah miliar dolar dalam sebulan bukanlah hal yang bisa dianggap remeh, terutama ketika manfaat yang diperoleh masih dipertanyakan. Laporan Axios menekankan bahwa organisasi yang cepat mengadopsi AI kini mulai merasakan dampak biaya yang melonjak, bersamaan dengan skeptisisme atas manfaat yang seharusnya diberikan teknologi tersebut.

Implikasinya jelas: perusahaan perlu lebih bijak dalam mengelola penggunaan AI, menetapkan batasan yang jelas, dan memastikan bahwa setiap investasi AI memberikan nilai tambah yang nyata. Tanpa pengelolaan yang tepat, risiko pemborosan dana besar seperti yang dialami perusahaan dalam laporan ini bisa menimpa siapa saja yang terlalu bersemangat mengejar tren tanpa perhitungan matang.

Komentar

Belum ada komentar.