Telset.id – Fitur pencatatan asupan makanan (food tracking) pada Google Health yang terintegrasi di perangkat Fitbit menuai keluhan serius dari para pengguna. Banyak pengguna melaporkan bahwa alat bantu AI (artificial intelligence) ini menghasilkan data nutrisi yang tidak akurat, bahkan salah satu dari mereka menyebut kesalahan tersebut ‘hampir berbahaya’ (almost dangerous). Masalah ini memicu kekhawatiran tentang risiko penggunaan AI di bidang kesehatan dan nutrisi.
Keluhan tersebut bermula dari unggahan di Reddit, di mana seorang pengguna mengungkapkan bahwa pencatatan makanan Google Health “sangat tidak akurat hingga hampir berbahaya.” Ia memaparkan contoh konkret: Google Health secara drastis melebih-lebihkan jumlah kalori dalam seporsi telur, sementara di saat yang sama meremehkan asupan kalori dari seporsi yogurt Yunani (Greek yogurt). Pengguna itu pun mempertanyakan, “Di planet mana tingkat deviasi seperti ini dapat diterima untuk produk kesehatan?” Ia juga menambahkan bahwa basis data makanan di dalamnya penuh dengan fakta nutrisi yang salah.

Pengguna lain yang merasa frustrasi mengaku telah berusaha keras memberi kesempatan pada AI Google Health, namun akhirnya menyerah. “Saya sudah mencoba SANGAT KERAS untuk memberi manfaat dari keraguan ini, tetapi kerumitan untuk mendapatkan nutrisi yang benar di aplikasi akhirnya membuat saya menyerah… Aplikasi ini juga secara acak mengubah latihan saya, data yang diimpor dari sistem lain, dan lain-lain. Sejujurnya saya tidak pernah kecewa pada produk Google seperti ini dalam hidup saya,” tulisnya. Seorang pengguna lainnya menyebut pertarungan dengan AI ini “tidak akan pernah berakhir” karena AI sering lalai menambahkan makanan saat diminta, lalu mencatatnya secara tidak akurat saat akhirnya mau melakukannya.
Masalah Hallucination AI yang Berkelanjutan
Ini bukan pertama kalinya Google Health menjadi sorotan. Sejak transisi dari aplikasi pelacakan kesehatan Fitbit sebelumnya ke alternatif berbasis AI bernama Google Health, berbagai keluhan bermunculan. Sebelumnya, AI ini pernah dilaporkan memberikan saran kebugaran yang ‘tidak masuk akal’ (unhinged), berbohong tentang sesi latihan pengguna, dan dinilai ‘sangat buruk’ (unbelievably bad). Masalah yang berulang ini menunjukkan pola hallucination AI yang konsisten pada fitur-fitur penting aplikasi.
Besarnya tekanan dari pengguna membuat Google tampaknya mengakui kekurangan fitur tersebut. Hal ini terlihat dari pembaruan terbaru yang memungkinkan pengguna untuk menyembunyikan alat bantu AI sepenuhnya dari tampilan aplikasi. Langkah ini menjadi pengakuan implisit bahwa integrasi AI yang dipaksakan justru merusak pengalaman inti pengguna Fitbit dalam memantau kesehatan mereka.

Insiden ini menjadi pengingat serius tentang masalah yang dapat muncul ketika alat AI mulai bekerja di area yang berpotensi membahayakan seperti kesehatan dan nutrisi. Meskipun contoh telur dan yogurt dari pengunggah awal mungkin hanya menghasilkan metrik yang tidak akurat dan mengganggu, masalahnya bisa jauh lebih parah jika kesehatan seseorang bergantung pada tingkat konsumsi spesifik atau jika ada alergen yang terlibat.
Bagi pengguna dengan faktor risiko terkait makanan dan nutrisi, disarankan untuk memperlakukan AI Google Health di Fitbit dengan skeptisisme tinggi—atau menghindarinya sama sekali untuk saat ini. Kesalahan perhitungan kalori atau nutrisi bukan sekadar masalah teknis kecil, melainkan dapat berdampak langsung pada keputusan diet harian dan kondisi kesehatan pengguna.
Perlu dicatat bahwa masalah akurasi ini bukan hanya terjadi pada pencatatan makanan. Para pengguna juga melaporkan bahwa AI memberikan saran latihan yang tidak pantas dan mengubah data latihan yang telah diimpor dari sistem lain secara acak. Hal ini menunjukkan bahwa masalah mendasar mungkin terletak pada algoritma AI itu sendiri, bukan hanya pada basis data nutrisi.
Baca Juga:
Kekhawatiran lain yang muncul adalah tentang bagaimana AI ini menangani informasi kesehatan yang sensitif. Jika AI tidak dapat diandalkan untuk menghitung kalori dengan benar, bagaimana pengguna dapat mempercayainya untuk memberikan rekomendasi kesehatan yang lebih kompleks? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan mengingat Google terus mengintegrasikan AI ke dalam berbagai layanan kesehatannya.
Para pengamat industri melihat kasus ini sebagai contoh nyata bagaimana adopsi AI yang terlalu cepat tanpa pengujian memadai dapat merugikan pengguna akhir. Alih-alih meningkatkan pengalaman, AI yang tidak akurat justru menambah beban dan frustrasi bagi pengguna yang seharusnya mendapat manfaat dari kemudahan pelacakan kesehatan otomatis.
Menariknya, sebagian pengguna yang frustrasi memilih untuk kembali ke metode manual dalam mencatat makanan mereka, sementara yang lain mencari aplikasi pihak ketiga yang lebih dapat diandalkan. Namun, langkah ini dianggap sebagai kemunduran mengingat salah satu nilai jual utama Fitbit adalah kemudahan dan otomatisasi dalam pelacakan kesehatan.
Google sendiri belum memberikan pernyataan resmi yang detail mengenai kapan perbaikan untuk masalah akurasi ini akan dirilis. Sementara itu, para pengguna yang menggantungkan kesehatan mereka pada perangkat Fitbit harus tetap waspada dan tidak sepenuhnya bergantung pada angka yang diberikan oleh AI Google Health.
Kasus ini juga menjadi pelajaran berharga bagi industri teknologi secara lebih luas: ketika AI diterapkan pada domain yang berdampak langsung pada keselamatan dan kesehatan manusia, tingkat akurasi yang tinggi bukanlah pilihan melainkan keharusan. Kegagalan dalam hal ini tidak hanya merusak kepercayaan pada satu produk, tetapi juga pada seluruh ekosistem AI dalam layanan kesehatan.
Seiring berjalannya waktu, pengguna berharap Google dapat segera mengatasi masalah mendasar ini. Namun sampai saat itu tiba, kehati-hatian tetap menjadi kata kunci bagi siapa pun yang menggunakan Fitbit dengan fitur Google Health untuk memantau asupan nutrisi harian mereka.





Komentar
Belum ada komentar.