📑 Daftar Isi

Pekerja kantor lelah bekerja lembur di depan komputer desktop pada malam hari

Pekerja Pengguna AI Justru Kerja 90 Menit Lebih Lama Tiap Hari

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Analisis ActivTrak: pengguna berat AI kerja 8,4-9,1 jam per hari, non-pengguna 7,6 jam
  • Selisih setara hingga 90 menit kerja tambahan per hari bagi pengguna AI
  • Data dari 9.100+ karyawan di 450+ perusahaan periode April-September
  • Pengguna AI alami lebih banyak perpindahan aplikasi dan sesi fokus lebih pendek
  • Gabriela Mauch: AI mempercepat tugas, tapi memperpanjang hari kerja
  • Perusahaan dinilai menuntut output lebih tanpa keuntungan efisiensi nyata

Telset.id – Pekerja kantoran yang menggunakan AI setiap hari ternyata menghabiskan waktu kerja hingga 90 menit lebih lama dibandingkan rekan yang tidak memakai AI. Temuan ini berasal dari analisis terbaru perusahaan pemantau aktivitas kerja ActivTrak, yang dikutip Gizmodo, dan menjadi sinyal bahwa adopsi AI di tempat kerja belum tentu berbanding lurus dengan efisiensi.

Analisis ActivTrak membandingkan pola kerja karyawan yang rutin memakai AI dengan mereka yang tidak. Hasilnya, pengguna berat AI mencatat hari kerja aktif yang lebih panjang, disertai frekuensi perpindahan aplikasi yang lebih tinggi dan sesi fokus yang lebih pendek. Bagi pekerja, data ini menegaskan bahwa beban kerja bertambah, bukan berkurang, ketika AI masuk ke alur kerja harian.

Angka tersebut muncul empat tahun setelah AI pertama kali tersedia secara luas sebagai produk komersial. Janji industri teknologi bahwa AI akan menghadirkan alat yang lebih efisien daripada tenaga manusia belum terbukti dalam data produktivitas. Sebaliknya, dorongan mengotomatisasi pekerjaan kini menunjukkan gejala yang berlawanan dengan tujuannya.

Metodologi dan Angka di Balik Temuan ActivTrak

Untuk mendapatkan angka tersebut, analis ActivTrak menelusuri data aktivitas kerja anonim dari lebih dari 9.100 karyawan di lebih dari 450 perusahaan. Periode pengamatan berlangsung antara April hingga September. Dari data itu, rata-rata hari kerja aktif bagi pengguna non-AI tercatat 7,6 jam, sementara pengguna berat AI berada di rentang 8,4 hingga 9,1 jam.

Selisih itulah yang setara dengan tambahan waktu hingga 90 menit per hari bagi pekerja yang paling intens memakai AI. Temuan ini juga menyoroti bahwa pengguna berat AI lebih sering mengalami gangguan dalam pekerjaan dibandingkan pengguna ringan atau non-AI. Dari sudut pandang manajemen, kelompok ini tercatat harus mengalokasikan waktu billable tambahan untuk bekerja setelah jam kantor.

Tired male office worker working late at night, using desktop computer.

Kepala divisi riset produktivitas ActivTrak, Gabriela Mauch, menyatakan dalam laporan pers perusahaan bahwa AI “may help employees complete tasks faster, but our research shows it contributes to longer workdays, more application switching and shorter focus sessions.” Pernyataan itu menegaskan bahwa percepatan penyelesaian tugas tidak otomatis memangkas total waktu kerja.

Beban Kerja Bertambah, Efisiensi Belum Terbukti

Temuan ActivTrak memperkuat kumpulan bukti yang menunjukkan bahwa memilah dan memeriksa keluaran AI membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan mengerjakan tugas kantor secara manual. Pekerja yang harus menyesuaikan diri dengan alat AI menghadapi beban tambahan berupa penyaringan hasil, perpindahan antar aplikasi, dan sesi fokus yang terpotong. Kondisi ini menjelaskan mengapa jam kerja aktif mereka melebar.

Analisis tersebut juga mengindikasikan bahwa perusahaan tidak serta-merta memakai AI untuk menggantikan posisi kerja secara menyeluruh. AI lebih sering diposisikan sebagai dasar untuk menuntut lebih banyak tenaga dari tiap pekerja, terlepas dari ada atau tidaknya keuntungan efisiensi yang nyata. Dengan kata lain, durasi kerja yang memanjang menjadi konsekuensi langsung dari cara perusahaan menerapkan alat tersebut.

Di sisi lain, data ini menempatkan janji produktivitas AI dalam posisi yang perlu diuji ulang. Selama empat tahun sejak AI menjadi produk komersial, imbal hasil produktivitas yang dijanjikan industri sebagian besar belum terwujud. Alih-alih memangkas beban, penerapan AI yang dipaksakan justru membuat pekerja makin sibuk di luar jam kerja normal.

Persoalan adopsi AI di lingkungan kerja juga tercermin dari survei lain yang menyoroti alasan penggunaan AI yang tidak dipahami karyawan. Ketika pekerja diminta memakai alat tanpa pemahaman yang jelas, waktu kerja berisiko habis untuk menyesuaikan diri, bukan untuk menyelesaikan pekerjaan inti. Pola ini sejalan dengan temuan ActivTrak soal bertambahnya durasi kerja dan berkurangnya sesi fokus.

Selain itu, kesiapan pekerja menghadapi konsekuensi AI masih menjadi catatan tersendiri. Sebagian besar pekerja di Inggris dilaporkan belum menerima pelatihan ancaman siber AI, yang memperlihatkan bahwa pengenalan alat AI di tempat kerja belum diimbangi dengan pembekalan yang memadai. Kondisi ini menambah lapisan beban bagi pekerja yang harus beradaptasi sambil tetap mengejar target.

Tekanan terhadap tenaga kerja juga terlihat dari gelombang efisiensi di sektor lain. Sebelumnya, Netflix memangkas 1.000 karyawan dalam langkah pengurangan terbesar sejak 2022, menandakan bahwa penyesuaian jumlah tenaga kerja berjalan beriringan dengan ekspektasi produktivitas yang meningkat. Bagi karyawan yang tersisa, kombinasi tuntutan output dan alat baru berpotensi memperpanjang jam kerja.

Di ranah industri AI sendiri, dinamika internal perusahaan teknologi turut menjadi perhatian. OpenAI memecat 3 staf keamanan AI karena membocorkan informasi, menunjukkan bahwa tata kelola dan kepercayaan di sekitar teknologi ini masih menjadi isu yang belum tuntas. Isu semacam ini relevan bagi perusahaan yang mengandalkan AI sebagai tulang punggung operasional sehari-hari.

Yang paling penting dari temuan ActivTrak adalah pergeseran cara membaca produktivitas. Pengguna berat AI tidak digambarkan sebagai pekerja yang lebih cepat selesai, melainkan sebagai pekerja yang menambah jam aktif, berpindah aplikasi lebih sering, dan kehilangan sesi fokus yang panjang. Data dari lebih dari 9.100 karyawan dan lebih dari 450 perusahaan selama April hingga September itu memberikan gambaran yang jelas: AI menambah lapisan kerja baru yang harus dikelola.

Bagi pekerja, implikasinya bersifat praktis. Durasi kerja yang memanjang hingga 90 menit per hari berarti waktu pribadi tergerus, sementara gangguan yang lebih sering mengurangi ruang untuk berkonsentrasi pada tugas yang benar-benar penting. Bagi perusahaan, temuan ini menjadi cermin bahwa penerapan AI tanpa evaluasi beban kerja berisiko menciptakan inefisiensi yang tersembunyi di balik label modernisasi.

Kesimpulannya, analisis ActivTrak menunjukkan bahwa AI belum menjadi alat yang lebih efisien daripada tenaga manusia seperti yang dijanjikan industri. Sebaliknya, pekerja yang paling banyak memakai AI justru menanggung hari kerja yang lebih panjang dan fokus yang lebih terfragmentasi. Selama pola ini berlanjut, klaim produktivitas dari adopsi AI di tempat kerja akan terus menghadapi uji data yang tidak selalu berpihak pada narasi industri.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.