CEO Microsoft Satya Nadella memberikan peringatan tentang penggunaan AI pihak ketiga dalam wawancara CNN

Nadella Peringatkan Bisnis Jangan Terlalu Bergantung pada AI Pihak Ketiga

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Microsoft Satya Nadella memperingatkan bahaya ketergantungan berlebihan pada AI pihak ketiga
  • Perusahaan harus mempertahankan data penggunaan AI untuk melatih model open-weight sendiri
  • AI gateway berfungsi sebagai perantara pelindung antara perusahaan dan model AI eksternal
  • Model open-weight menjadi alternatif lebih murah dibandingkan AI proprietary dari laboratorium terkemuka
  • Microsoft diuntungkan karena menyediakan infrastruktur cloud untuk menjalankan model open-weight
  • Nadella membedakan pendekatan keamanan data antara konsumen individu dan perusahaan

Telset.id – CEO Microsoft Satya Nadella memberikan peringatan keras bagi perusahaan yang terlalu bergantung pada kecerdasan buatan atau AI dari pihak ketiga. Menurutnya, praktik ini dapat menjadi bumerang dan mengancam keberlangsungan bisnis itu sendiri.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Nadella menegaskan bahwa setiap perusahaan harus memiliki kendali penuh atas data yang digunakan bersama model AI. Ia memperingatkan agar tidak sembarangan membagikan data kepemilikan hingga prompt yang dimasukkan ke model AI pihak ketiga.

“Perusahaan mana pun yang tidak memiliki kendali ini, saya akan katakan tidak akan bertahan sebagai perusahaan karena Anda pada dasarnya telah mengalihdayakan pemikiran Anda,” ujar Nadella dalam acara Fareed Zakaria GPS, seperti dikutip TechCrunch.

Pernyataan ini cukup mengejutkan mengingat Microsoft sendiri merupakan vendor utama teknologi AI. Namun, Nadella memiliki pandangan bahwa ketergantungan berlebihan pada perangkat lunak AI proprietary justru bisa menjadi kehancuran perusahaan.

Sebagai solusi, Nadella merekomendasikan agar bisnis mempertahankan semua data tentang bagaimana karyawan menggunakan alat AI. Data ini nantinya dapat digunakan untuk melatih atau menyempurnakan model open-weight milik perusahaan itu sendiri.

Langkah ini bisa diwujudkan dengan menggunakan AI gateway yang berfungsi sebagai perantara pelindung. Dengan cara ini, perusahaan tetap bisa mengontrol data dan proses berpikir mereka tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pihak ketiga.

Konsep open-weight model menjadi sorotan utama dalam pernyataan Nadella. Dalam dunia AI, “weights” adalah nilai numerik yang menentukan bagaimana model memproses informasi. Model disebut “open” karena bobot ini dapat diakses publik dan gratis untuk diunduh.

Berbeda dengan model open-weight, alat AI agentic seperti Claude Code dari Anthropic bersifat closed-source. Alat-alat ini juga hadir dalam “harness” yang merupakan perangkat lunak tempat model dasar berada.

Nadella menyarankan perusahaan untuk meninggalkan AI harness dan beralih menggunakan platform AI kustom. Platform semacam itu memungkinkan perusahaan merekrut beberapa model AI sekaligus, termasuk model open-weight yang lebih murah.

“Dengan menjaga harness tetap terpisah dari model dan konteks serta memori tetap terpisah dari model, Anda benar-benar dapat menggunakan beberapa model untuk apa yang mereka kuasai,” jelas Nadella dalam wawancara tersebut.

Ia menambahkan bahwa dengan pendekatan ini, setiap model bisa hilang dan perusahaan masih tetap bisa mengendalikan nasibnya sendiri. Fleksibilitas ini menjadi kunci dalam menghadapi perkembangan teknologi AI yang sangat cepat.

Pernyataan Nadella ini menarik karena Microsoft sendiri memiliki kepentingan dalam mendorong adopsi model open-weight. Perusahaan ini menyediakan infrastruktur cloud tempat bisnis dapat menjalankan model open-weight mereka. Semakin banyak yang beralih ke hosting model sendiri, semakin besar keuntungan bagi Microsoft.

Microsoft Satya Nadella is seen clasping his hands together.

Dalam beberapa waktu terakhir, model open-weight semakin populer sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan model dari laboratorium AI terkemuka. Tren ini mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan kembali strategi adopsi AI mereka.

Namun, Nadella juga memberikan pandangan yang tampak kontradiktif. Dalam wawancara yang sama, ia menyebutkan bahwa pengguna biasa seharusnya tidak terlalu khawatir tentang data yang mereka bagikan dengan model AI.

“Sampai batas tertentu, harus ada pertukaran nilai di ruang konsumen di mana Anda mendapatkan sesuatu secara gratis, mungkin untuk data Anda,” ujarnya.

Ia membandingkan hal ini dengan model bisnis periklanan yang sudah berjalan selama ini. Pernyataan ini menunjukkan perbedaan pendekatan antara konsumen individu dan perusahaan dalam hal keamanan data AI.

Bagi perusahaan yang ingin menerapkan strategi ini, langkah pertama adalah mengaudit penggunaan AI saat ini. Identifikasi model AI mana yang digunakan dan data apa yang dibagikan dengannya.

Selanjutnya, perusahaan dapat mulai membangun infrastruktur untuk mengumpulkan data penggunaan AI internal. Data ini akan menjadi aset berharga untuk pelatihan model di masa depan.

Penerapan AI gateway juga menjadi langkah penting. Gateway ini akan memantau dan mengontrol aliran data antara perusahaan dan model AI eksternal.

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang menyadari risiko ketergantungan pada AI pihak ketiga, prediksi Nadella tentang masa depan bisnis mungkin akan menjadi kenyataan. Perusahaan yang tidak mengendalikan data AI mereka berpotensi kehilangan daya saing.

Bagi pelaku bisnis di Indonesia, peringatan ini patut diperhatikan. Adopsi AI yang semakin masif harus diimbangi dengan strategi pengelolaan data yang matang.

Microsoft sendiri terus mengembangkan berbagai solusi AI untuk bisnis. Perusahaan baru-baru ini meluncurkan Project Perception untuk keamanan siber dan juga menyiapkan Windows 11 berlangganan lewat AI Agent.

Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen Microsoft dalam mengembangkan ekosistem AI yang aman dan terkendali. Namun, pesan Nadella tetap jelas: kendali atas data AI harus tetap berada di tangan perusahaan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.