Seorang pria mengenakan kacamata pintar Even Realities G2 dengan tampilan HUD di bidang penglihatannya

Krisis AI: Kacamata Pintar Bikin Hubungan Manusia Makin Terganggu?

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Kacamata pintar Even Realities G2 memicu perdebatan etis tentang dampak AI pada hubungan antarmanusia
  • Fitur Conversate pada kacamata ini mampu mentranskripsi panggilan telepon secara real-time
  • CEO Even Realities berargumen bahwa smart glasses adalah solusi, bukan masalah, untuk gangguan digital
  • Konsep "undisturbed connection" menjadi filosofi desain utama Even Realities
  • Penelitian Harvard menunjukkan over-reliance pada AI dapat menurunkan kemampuan kognitif

Telset.id – Penggunaan kacamata pintar atau smart glasses untuk membantu komunikasi justru memicu kekhawatiran baru tentang degradasi kemampuan kognitif manusia. Seorang jurnalis teknologi mengaku selamat dari pertengkaran rumah tangga berkat fitur transkripsi otomatis pada Even Realities G2, namun di saat yang sama mempertanyakan siapa sebenarnya yang menjalin hubungan dengan pasangannya: dirinya atau kacamatanya.

Insiden tersebut terjadi saat ia melakukan panggilan jarak jauh larut malam dengan istrinya yang tinggal di New York. Karena kelelahan, ia kehilangan fokus sejenak dan tidak mendengar apa yang dikatakan istrinya. Saat istrinya bertanya, “Apa kalimat terakhir yang saya ucapkan?”, fitur Conversate pada Even Realities G2 langsung menyelamatkannya dengan menampilkan ringkasan poin-poin penting percakapan di layar HUD kacamata.

Kejadian ini memunculkan pertanyaan etis yang mendalam: apakah kita sedang menyerahkan kemampuan mendengarkan aktif kita kepada kecerdasan buatan? Jika iya, bukankah kita sedang melatih otak kita untuk tidak peduli dan mudah teralihkan? Ini bukan sekadar pertanyaan filosofis, karena penelitian terbaru dari Harvard menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada alat AI dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis, retensi memori, dan fokus.

Fenomena ini disebut sebagai “cognitive hangover” atau mabuk kognitif. Kekhawatirannya adalah jika kita terus-menerus mengandalkan AI untuk mendengarkan, kita secara tidak sadar mengajarkan otak bahwa boleh saja untuk melamun dan tidak hadir secara penuh dalam sebuah percakapan. Hal ini mengubah hubungan antarmanusia menjadi tugas yang sangat teroptimasi dan otomatis.

Menanggapi kekhawatiran ini, CEO Even Realities, Will Wang, memberikan pembelaan yang menarik. Ia berargumen bahwa kerusakan kognitif sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum kacamata pintar hadir, yaitu akibat penggunaan Fitur Terbaru smartphone. “Pertanyaan ini muncul di setiap titik balik teknologi besar karena menantang status quo dan mengubah cara kita berinteraksi,” ujar Wang kepada Tom’s Guide.

Menurut Wang, sebelum smartphone, kekhawatiran serupa juga muncul. Ponsel, meskipun memberdayakan, justru menarik perhatian kita ke informasi digital dan membuat kita merasa kurang terhubung dengan keluarga. Namun, jurnalis tersebut menekankan perbedaan krusial: ponsel bisa disimpan di saku, sedangkan kacamata pintar dikenakan secara permanen. Salah satu dari keduanya jelas lebih invasif.

Wang kemudian memperkenalkan konsep “ambient computing” atau komputasi ambient sebagai solusi. “Layar di bidang penglihatan Anda bisa sangat mengganggu, tetapi jika dirancang dengan etos yang tepat, itu bisa menjadi satu-satunya cara untuk menampilkan informasi sambil membuat Anda tetap fokus pada dunia fisik,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa timnya memiliki istilah internal yang disebut “undisturbed connection” atau koneksi tanpa gangguan. Filosofi ini bertujuan untuk menjaga pengguna tetap terhubung dengan layanan digital tanpa terganggu. Bahkan, desain Even Realities G2 sengaja tidak dilengkapi kamera atau aplikasi mengganggu yang menuntut perhatian pengguna.

Wang menegaskan, perusahaan harus membangun produk dengan filosofi inti untuk membantu orang membangun koneksi antarmanusia. “Jika tidak, Anda akan menunduk melihat layar ponsel,” katanya. Ia mengklaim bahwa desain yang benar justru memungkinkan pengguna untuk tetap fokus pada dunia fisik, sebuah langkah maju dari kebiasaan buruk menatap ponsel saat bersama pasangan.

Namun, argumen Wang ini tetap tidak sepenuhnya meyakinkan. Jurnalis tersebut mengakui bahwa kacamata pintar memang membantunya menyelamatkan pernikahan dengan membuatnya tetap hadir secara verbal. Di satu sisi, fitur ini memungkinkan perilaku buruk dengan membiarkannya melamun. Di sisi lain, fitur ini juga menjadi penyelamat saat ia tidak bisa fokus.

Kita mungkin akan memasuki era di mana AI akan memediasi hampir setiap aspek kehidupan digital kita. Kita harus bergantung pada “tongkat digital” untuk mengelola banjir informasi yang luar biasa. Pertanyaannya, apakah kita rela menukar kemampuan mendengarkan alami kita dengan kemudahan yang ditawarkan teknologi?

Seperti yang diungkapkan oleh jurnalis tersebut, “Jika saya harus memilih tongkat, saya lebih suka yang sesekali memberi saya kata-kata yang tepat untuk diucapkan kepada istri saya, daripada yang mengalihkan perhatian saya darinya.” Perdebatan tentang peran AI dalam hubungan antarmanusia masih jauh dari selesai.

Untuk diketahui, Even Realities G2 bukanlah satu-satunya pemain di pasar ini. Berbagai merek lain juga berlomba menghadirkan inovasi serupa dengan pendekatan yang berbeda. Bahkan, beberapa laporan menyebutkan bahwa ada Spesifikasi Lengkap dari perangkat sejenis yang mulai beredar di pasaran.

Selain itu, kehadiran Acer Exclusive Store dan Asus Exclusive Store di berbagai pusat perbelanjaan menunjukkan bahwa ekosistem perangkat wearable dan komputasi semakin matang. Hal ini menandakan bahwa persaingan di segmen ini akan semakin ketat ke depannya.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan dampaknya adalah bagaimana kita menggunakannya. Apakah kita akan membiarkan AI mengikis kemampuan sosial kita, atau justru memanfaatkannya untuk memperkuat koneksi antarmanusia? Jawabannya ada di tangan kita masing-masing.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.