📑 Daftar Isi

Robot humanoid H2 Plus kolaborasi Nvidia dan Unitree dengan chip Thor T5000

Kolaborasi Nvidia dan Unitree Ciptakan Robot Humanoid H2 Plus

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Nvidia mengumumkan cetak biru robot humanoid H2 Plus hasil kolaborasi dengan Unitree.
  • Robot setinggi 6 kaki dan berat 150 pon ini menggunakan chip Nvidia Thor T5000 dan tangan dari Sharpa.
  • Chip Thor mampu menjalankan model AI untuk navigasi dan kontrol gerakan robot.
  • Harga versi dasar humanoid Unitree G1 sekitar $15.000, jauh lebih murah dari pesaing.
  • Kemitraan ini terjadi di tengah ketegangan teknologi AS-China dan kekhawatiran keamanan data.
  • CEO Ghost Robotics khawatir AS akan kehilangan pasar robotika komersial seperti kasus DJI.
  • Jensen Huang melihat peluang ekonomi triliunan dolar dari robot humanoid.

Telset.id – Nvidia mengumumkan cetak biru robot humanoid terbaru bernama H2 Plus hasil kolaborasi dengan startup robotika asal China, Unitree. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO Nvidia, Jensen Huang, pekan ini, menandai langkah strategis perusahaan chip AS tersebut di tengah ketegangan teknologi AS-China.

Robot H2 Plus memiliki tinggi 6 kaki dan berat 150 pon, menggabungkan tubuh robot dari Unitree dengan chip Thor T5000 buatan Nvidia. Selain itu, robot ini juga dilengkapi tangan humanoid canggih dari perusahaan Singapura, Sharpa, serta perangkat lunak baru yang memudahkan pemrograman dan pelatihan mesin. Kombinasi ini dirancang untuk membantu para peneliti, termasuk laboratorium akademis AS, dalam merakit robot humanoid mutakhir dan melatihnya dengan algoritma AI mereka sendiri.

Chip Thor T5000 mampu menjalankan model AI yang kuat, memungkinkan robot memahami lingkungannya dan mengendalikan gerakannya. Sementara itu, tubuh robot mengandalkan motor, aktuator, dan sensor dari Unitree. Tangan dari Sharpa disebut sangat lincah dan mampu melakukan berbagai tugas, mulai dari trik kartu hingga mengupas apel, mengatasi salah satu masalah utama dalam robotika yaitu kelincahan.

Strategi Nvidia dan Kekhawatiran Keamanan

Spencer Huang, direktur produk robotika Nvidia, menyatakan bahwa perusahaan ingin menyediakan kecerdasan silikonnya untuk sebanyak mungkin perusahaan humanoid. “Unitree adalah yang pertama, tetapi mereka bukan yang terakhir,” ujar Spencer Huang, yang juga merupakan putra Jensen Huang, kepada WIRED. Ia menambahkan bahwa teknologi dalam H2 berpotensi membuat robot China lainnya, termasuk lengan industri konvensional, menjadi lebih mumpuni.

Kemitraan ini terbilang tidak terduga mengingat robotika telah menjadi arena baru persaingan teknologi antara AS dan China. Beberapa politisi bahkan mengusulkan pelarangan robot humanoid China. Tahun lalu, peneliti keamanan mengklaim robot Unitree mampu menangkap dan mentransmisikan data, sehingga menimbulkan risiko keamanan. Menyadari hal ini, Nvidia membekali cetak biru H2 Plus dengan fitur keamanan yang dirancang untuk meyakinkan pengguna bahwa data dan model mereka aman.

Scott Singer, seorang fellow di Carnegie Endowment for International Peace yang mempelajari tata kelola AI dan China, menilai perkembangan ini menarik. “Kedua belah pihak memiliki bagian kunci dari rantai pasokan yang mungkin bisa mereka persenjatai, tetapi di sini mereka justru bekerja sama,” kata Singer. Ia menekankan bahwa AS perlu mencari cara untuk membina industri robotikanya sendiri, yang mungkin berarti bekerja sama dengan produsen China.

Chip Nvidia saat ini menjadi standar emas untuk melatih model AI besar, dan perusahaan telah berupaya besar untuk beralih ke robotika canggih dengan mengembangkan perangkat keras dan perangkat lunak khusus. Pemerintah AS melarang Nvidia menjual chip paling canggihnya ke China, namun akhir tahun lalu melonggarkan pembatasan untuk mengizinkan penjualan chip yang lebih canggih di sana.

Dominasi Harga dan Kekhawatiran Kompetisi

Robot Unitree sudah sangat populer di China dan luar negeri karena relatif mudah diprogram dan harganya yang luar biasa murah. Versi dasar humanoid G1 berharga sekitar $15.000, jauh lebih murah dibandingkan robot pesaing yang bisa mencapai ratusan ribu dolar. Robot Unitree sering terlihat melakukan parkour, kungfu, dan aksi akrobatik lainnya di video media sosial, serta digunakan dalam penelitian banyak laboratorium Barat.

Tidak semua pihak antusias melihat pertumbuhan pesat produsen robot China. Gavin Kenneally, salah satu pendiri dan CEO Ghost Robotics yang membuat robot berkaki untuk pertahanan dan keamanan, meyakini teknologi Unitree banyak mengadopsi inovasi dari laboratorium Barat. “Tanpa respons kebijakan jangka pendek yang serius, termasuk strategi robotika nasional, AS berisiko menyerahkan pasar robotika komersial kepada Unitree dan perusahaan China lainnya, seperti yang sudah terjadi di pasar drone dengan DJI,” ujar Kenneally.

Namun, Jensen Huang melihat banyak keuntungan dari bekerja sama dengan pembuat robot China. “Robot humanoid akan membawa AI fisik ke industri terbesar di dunia, membuka peluang ekonomi senilai triliunan dolar,” kata Huang. Pernyataan ini menegaskan visi Nvidia untuk menjadi pemasok utama chip dan perangkat lunak bagi ekosistem robot humanoid global, meskipun harus menghadapi dinamika geopolitik yang rumit.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada ketegangan, rantai pasokan teknologi antara AS dan China masih saling terkait erat. Nvidia, dengan chip canggihnya, dan Unitree, dengan keunggulan biaya produksi, menciptakan sinergi yang sulit diabaikan oleh para pelaku industri robotika.

Komentar

Belum ada komentar.