Telset.id – Kerugian akibat penipuan deepfake secara global telah mencapai angka fantastis, yaitu USD 3,7 miliar atau setara lebih dari Rp60 triliun. Riset terbaru dari Surfshark mengungkap bahwa media sosial menjadi titik awal utama dari sebagian besar kasus penipuan ini.
Penelitian yang dilakukan oleh perusahaan keamanan siber Surfshark mencatat bahwa total kerugian akibat penipuan deepfake mencapai USD 3,7 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa deepfake telah berevolusi dari sekadar keingintahuan di internet menjadi ancaman finansial yang serius. Yang lebih mengkhawatirkan, laju kerugian ini semakin cepat dari tahun ke tahun.
Data Surfshark menunjukkan bahwa kerugian hanya mencapai USD 83 juta antara tahun 2020 hingga 2023. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi USD 335 juta pada tahun 2024, dan meledak menjadi USD 2,5 miliar pada tahun 2025. Sementara itu, pada paruh pertama tahun 2026 saja, kerugian sudah mencapai USD 764 juta. Jika digabungkan, kerugian pada tahun 2025 dan 2026 menyumbang 89 persen dari total seluruh kerugian yang tercatat.

Media Sosial sebagai Sumber Utama
Studi Surfshark juga melacak dari mana penipuan ini biasanya dimulai. Hasilnya, satu saluran menonjol di atas yang lainnya. Media sosial adalah titik awal tunggal terbesar, yang menyumbang 47 persen dari seluruh kerugian yang tercatat. Sebagian besar kerugian ini berasal dari penjahat yang menggunakan deepfake selebriti dan tokoh masyarakat untuk mendorong skema investasi palsu di media sosial.
“Satu video deepfake dapat menjadi viral dalam hitungan jam, menjangkau jutaan calon korban sebelum terdeteksi atau dihapus. Tidak ada saluran lain yang menawarkan jangkauan seperti itu dengan biaya nol,” jelas Luís Costa, Research Lead di Surfshark.
Meskipun tidak semua video viral menyebabkan kerugian, Costa mencontohkan deepfake tidak berbahaya tentang seorang pemain sepak bola selama Piala Dunia mungkin ditonton jutaan kali tanpa merugikan siapa pun. Sementara itu, unggahan palsu pemerintah yang mempromosikan skema investasi mencurigakan dapat menguras ribuan dolar dari satu korban.
Untuk panggilan dan pesan pribadi, Costa menyarankan untuk menyiapkan “kata sandi keluarga” yang dapat digunakan dengan orang terkasih untuk mengonfirmasi identitas saat ada permintaan yang mendesak atau tidak seperti biasanya. Pada panggilan video, “tes gangguan” juga dapat membantu. Minta lawan bicara untuk melambaikan tangan di depan wajah mereka, karena deepfake sering kali buram atau terdistorsi saat fitur wajah terhalang.
Ancaman Menyebar ke Berbagai Saluran
Media sosial hanyalah sebagian dari gambaran. Penipuan peniruan identitas, di mana penjahat menggunakan deepfake untuk menyamar sebagai orang nyata atau melewati pemeriksaan identitas, adalah kategori terbesar kedua dengan kerugian USD 911 juta atau 25 persen dari total kerugian.
Skema kandidat pekerjaan palsu, di mana wawancara yang dihasilkan AI digunakan untuk menyusup ke proses perekrutan, menambah kerugian USD 100 juta lagi. Skema-skema ini diperkirakan akan meningkat. Saluran komunikasi sehari-hari juga semakin menjadi sasaran, menyumbang USD 174 juta di antaranya: panggilan telepon (USD 71 juta), platform video (USD 62 juta), dan aplikasi pesan (USD 41 juta).

Laporan Kejahatan Internet terbaru FBI juga mencatat kerugian terkait AI sebesar USD 893 juta untuk tahun 2025, dengan penipuan investasi berbantuan AI saja menyumbang USD 632 juta. Eksperimen terpisah dari Surfshark menemukan bahwa hampir setengah dari orang tidak dapat membedakan bot dari manusia secara online.
Seperti yang diungkapkan Costa, “kesadaran adalah satu-satunya pertahanan yang efektif ketika suara atau wajah yang dikenal tidak lagi dapat dipercaya secara implisit.”
Penelitian Surfshark ini menjadi pengingat keras bahwa di era digital saat ini, kita tidak bisa lagi mempercayai apa yang kita lihat dan dengar secara membabi buta. Kewaspadaan ekstra diperlukan, terutama saat menerima permintaan mencurigakan yang melibatkan uang atau informasi pribadi, meskipun tampaknya berasal dari orang yang kita kenal.





Komentar
Belum ada komentar.