📑 Daftar Isi

Prosesor Nvidia Vera dengan desain monolitik 88 inti untuk data center

Nvidia Vera CPU Monolitik Siap Saingi Intel dan AMD di Pusat Data

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Nvidia resmi memperkenalkan Vera CPU dengan desain monolitik 88 inti kustom Olympus
  • Vera menggunakan Scalable Coherency Fabric (SCF) dengan bandwidth internal 3,4 TB/s
  • Nvidia telah mengirimkan ratusan ribu server Grace standalone sebelum Vera
  • Vera dalam produksi penuh bersama infrastruktur AI Rubin GPU, ConnectX-9, SpectrumX
  • Nvidia melihat peluang TAM CPU data center senilai $200 miliar
  • AI agentic mengubah rasio GPU/CPU dari 8:1 menjadi 1:1 di beberapa kasus
  • Rack Vera Rubin NVL72 sudah berjalan dengan beban kerja OpenAI
  • Vera menggunakan memori LPDDR5X dengan bandwidth agregat 1,2 TB/s
  • Buck akui trade-off pada beban kerja legacy demi performa AI optimal
  • Nvidia tidak berniat menggantikan seluruh pasar CPU, hanya mengisi celah spesifik

Telset.id – Nvidia secara resmi memperkenalkan Vera, CPU data center generasi terbaru yang menggunakan desain monolitik dengan 88 inti kustom buatan sendiri. Langkah ini menjadi strategi besar Nvidia untuk menantang dominasi Intel dan AMD di pasar prosesor server yang selama ini dikuasai oleh arsitektur x86.

Dalam wawancara eksklusif dengan Tom’s Hardware, Ian Buck, wakil presiden bidang hyperscale dan high-performance computing sekaligus penemu CUDA, mengungkapkan bahwa Nvidia telah mengirimkan “ratusan ribu server Grace” secara standalone. Angka ini melengkapi pengumuman sebelumnya pada Mei lalu, di mana Nvidia mengklaim telah mengirimkan lebih dari 2,5 juta unit CPU Grace secara total. Kemitraan dengan Meta untuk menyebarkan server Grace standalone juga telah diumumkan pada Februari lalu.

Vera hadir sebagai penerus Grace yang menggunakan 72 inti Arm Neoverse V2. Perbedaan mendasar terletak pada penggunaan desain inti kustom pertama Nvidia yang diberi nama Olympus. Vera juga mengadopsi Scalable Coherency Fabric (SCF) yang diperbarui, memungkinkan bandwidth internal mencapai 3,4 TB/s untuk komunikasi antar-inti tanpa hambatan. Angka ini jauh melampaui kemampuan chipset tradisional.

Nvidia Vera CPU data center dengan desain monolitik

Yang paling mencolok dari Vera adalah keputusan Nvidia untuk tetap menggunakan desain monolitik di era di mana Intel dan AMD sudah beralih ke arsitektur chiplet. “Salah satu alasan kami tidak memiliki 128 inti adalah karena kami mendedikasikan begitu banyak area die untuk fabric,” jelas Buck. “Bandwidth 3,4 TB/s di dalam CPU itu didedikasikan untuk memungkinkan setiap inti berbicara ke setiap cache, setiap pengontrol memori dengan kecepatan penuh tanpa tabrakan.”

Keputusan ini memang membawa konsekuensi. Dengan hanya 88 inti, Vera memiliki jumlah inti yang lebih sedikit dibandingkan pesaing yang bisa mencapai lebih dari 100 inti. Namun, Nvidia yakin bahwa pendekatan ini memberikan keunggulan dalam hal latensi dan koherensi data, yang sangat krusial untuk beban kerja AI agentic yang sedang berkembang pesat.

Strategi Nvidia di Pasar CPU Data Center

Langkah Nvidia memasuki pasar CPU data center bukan tanpa alasan. Perusahaan memperkirakan bahwa CPU mewakili peluang Total Addressable Market (TAM) senilai $200 miliar. Angka ini jauh lebih optimis dibandingkan estimasi industri lain yang berkisar sekitar $120 miliar pada 2030, meskipun beberapa perkiraan terbaru naik hingga $170 miliar. Morgan Stanley bahkan memperkirakan bahwa AI agentic dapat menambah $60 miliar ke pasar CPU data center pada April lalu.

Buck mengakui bahwa mayoritas beban kerja data center masih berupa tugas “legacy” yang telah dibangun oleh hyperscaler. Namun, ia menantang pesaing dengan pertanyaan: “Bisakah Intel dan yang lain membangun fabric yang kaya? Apakah mereka memiliki IP dan ekosistem untuk melakukannya dan menghubungkannya hingga ke memori LP? Mereka perlu memberi tahu kapan mereka akan melakukannya… tetapi trade-off itu akan datang dengan mengorbankan beban kerja legacy.”

Vera saat ini sudah dalam produksi penuh bersama infrastruktur AI generasi berikutnya Nvidia, termasuk GPU Rubin, NIC ConnectX-9, switch Ethernet SpectrumX, dan berbagai komponen untuk membangun rack Vera Rubin NVL72. Nvidia mengklaim ada sekitar 1,3 juta komponen yang masuk ke dalam satu rack, dengan lebih dari 300 mitra global untuk membangunnya.

Dalam kunjungan ke markas Nvidia pekan lalu, tim Tom’s Hardware melihat langsung rack Vera Rubin NVL72 yang sedang berjalan, menjalankan beban kerja untuk OpenAI. Ini menunjukkan bahwa Nvidia tidak hanya berbicara, tetapi telah mengimplementasikan teknologi ini secara nyata.

Meskipun Nvidia memiliki ambisi besar, Buck menegaskan bahwa “dunia tidak akan dilayani oleh satu SKU CPU, dan itu bukan niat kami.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Nvidia tidak berniat menggantikan seluruh pasar, melainkan mengisi celah spesifik di mana arsitektur mereka memberikan keunggulan kompetitif.

Perubahan beban kerja AI yang semakin mengarah ke agentic AI telah mengubah keseimbangan hardware. Jika sebelumnya rasio GPU per CPU bisa mencapai 8:1, kini dalam beberapa kasus berubah menjadi 1:1. Nvidia ingin memanfaatkan tren ini dengan Vera yang dirancang khusus untuk jenis beban kerja tersebut.

Prosesor Nvidia Vera dengan arsitektur monolitik

Vera menggunakan antarmuka memori LPDDR5X dengan bandwidth agregat hingga 1,2 TB/s atau setara 14 GB/s per inti. Angka ini menunjukkan bahwa Nvidia serius dalam menyediakan bandwidth memori yang memadai untuk beban kerja data-intensive.

Meskipun demikian, tantangan terbesar Nvidia adalah meyakinkan pasar bahwa pendekatan monolitik mereka lebih unggul untuk beban kerja spesifik. Seperti yang diakui Buck, trade-off akan terjadi pada beban kerja legacy yang masih mendominasi data center saat ini.

Namun, dengan pertumbuhan AI yang eksponensial, terutama AI agentic yang membutuhkan latensi rendah dan koherensi data tinggi, Vera memiliki posisi yang unik. Nvidia tidak perlu menguasai seluruh pasar; cukup merebut segmen yang paling menguntungkan dan berkembang cepat.

Dengan produksi yang sudah berjalan dan kemitraan dengan pemain besar seperti Meta dan OpenAI, Nvidia menunjukkan bahwa Vera bukan sekadar proyek eksperimental. Ini adalah langkah nyata untuk menjadi pemain serius di pasar CPU data center, melengkapi dominasi mereka di pasar GPU.

Ke depannya, persaingan di pasar CPU data center akan semakin menarik. Intel dan AMD harus merespons tidak hanya dari segi performa, tetapi juga dari segi arsitektur dan ekosistem. Sementara itu, Nvidia dengan Vera-nya telah membuka front baru dalam perang silikon yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.