Telset.id – Hugging Face resmi membuka pre-order untuk Microduck, robot bipedal berbentuk bebek dengan harga US$399 atau sekitar Rp6 jutaan. Robot mungil ini dirancang sebagai alternatif yang lebih fokus pada mobilitas dibandingkan pendahulunya, Reachy Mini, dan menyasar para pengembang serta penggemar robotika yang ingin bereksperimen dengan pergerakan robot bertenaga AI.
Microduck memiliki tinggi 25 cm dengan bobot di bawah 800 gram. Robot ini dilengkapi 15 motor, kamera internal, sensor LiDAR kecil, serta dua IMU (inertial measurement unit) yang mengukur dan melaporkan pergerakan objek. Ciri khas utamanya adalah paruh artikulasi yang mampu mengambil objek. Menurut pabrikannya, Pollen Robotics yang telah diakuisisi Hugging Face pada April 2025, motor-motor yang tersebar di kaki, kepala, dan leher memungkinkan robot ini untuk “berjalan, duduk, berjongkok, bangkit kembali dari berbagai jatuh yang umum, dan bahkan bermain sepatu roda.”
Filosofi desain Microduck berpusat pada eksperimen trial and error. Ukurannya yang mungil menjadi nilai jual utama karena robot humanoid besar yang sering jatuh menimbulkan masalah keamanan dan finansial. Sebaliknya, Microduck dapat bangkit kembali sendiri dan tidak menimbulkan benturan besar jika terjadi kesalahan. Hugging Face memilih branding bebek karena paling masuk akal mengingat “proporsi, paruh, dan gaya berjalannya yang bergoyang” dari robot tersebut.
Baca Juga:
Seperti bebek asli, Microduck tersedia dalam beberapa pilihan warna yang membuat kumpulan robot ini “terlihat seperti koleksi karakter yang berbeda, bukan mesin yang identik.” Hugging Face mengungkapkan bahwa penggunaan beberapa robot secara bersamaan di internal mereka terbukti “sekitar sepuluh kali lebih menyenangkan,” bahkan mereka berhasil membuat robot-robot tersebut bermain sepak bola bersama.
Dari sisi teknis, Microduck berjalan pada prosesor Rockchip RK3566 dengan penyimpanan 32GB dan RAM onboard 1GB. Robot ini mendukung konektivitas Wi-Fi dan Bluetooth, serta dibekali baterai 2.600mAh yang diklaim mampu bertahan sekitar satu jam penggunaan terus-menerus. Microduck dapat dikendalikan dengan gamepad atau mengikuti titik laser langsung dari kotak kemasan. Perilaku yang telah dipelajari sebelumnya memungkinkan robot ini bereaksi terhadap lingkungan dan berbagai pemicu pergerakan tanpa perlu dikode dari awal.
Salah satu aspek unik dari Microduck adalah sistem komunikasinya. Tidak seperti Reachy Mini yang menggunakan kata-kata, Microduck berkomunikasi melalui suara berkat mikrofon dan speaker bawaan. Hugging Face menyebut setiap robot memiliki “identitas audio” permanen yang terbentuk saat pengaturan pertama kali. “Ia berkomunikasi melalui suara-suara aneh kecil, lebih mirip makhluk hidup daripada asisten,” demikian pernyataan Pollen Robotics. Setiap Microduck mendapatkan identitas audio sendiri saat pertama kali aktif, terikat pada robot individual sehingga mempertahankan suara yang sama seumur hidup.
Clem Delangue, CEO Hugging Face, menyebut Microduck sebagai “robot open-source yang bisa Anda ajari trik baru dengan reinforcement learning.” Ia menambahkan, “Selamat datang di era robot terjangkau open-source untuk mendemokratisasi AI fisik dan world models!” Paruh robot ini mampu mengangkat objek hingga 800 gram, dan kemampuannya meliputi berjalan, berjongkok, bangkit saat jatuh, hingga bermain sepatu roda.
Sifat open-source menjadi pilar utama Microduck. Repositori utama yang tersedia hari ini mencakup SDK dan perangkat lunak robot, dengan Microduck RL berisi alat-alat reinforcement learning. Pengembang yang lebih teknis dapat memanfaatkan sifat open-source dari tumpukan perangkat lunak untuk mendalami opsi pergerakan dan simulasi. Perilaku Microduck dapat dilatih dalam simulasi dan langsung diterapkan pada robot. Pengembang kemudian dapat menyempurnakan, melatih ulang, dan menerapkan ulang. SDK, simulasi, dan tumpukan pelatihan RL lengkap tersedia di GitHub.
Peluncuran Microduck terjadi di tengah kabar bahwa Hugging Face dikabarkan akan diakuisisi oleh Nvidia dengan valuasi US$13 miliar. Nvidia dan Hugging Face telah menjadi mitra selama bertahun-tahun, dengan Nvidia menyediakan infrastruktur untuk startup tersebut sejak setidaknya 2023. Kedua perusahaan juga secara publik sejalan dalam mempromosikan AI open-source. Kabar ini tentu menjadi konteks menarik bagi langkah Hugging Face di ranah robotika konsumen.
Dari sisi privasi, Delangue sebelumnya menyatakan bahwa bot yang dijalankan dengan model open-source jauh lebih baik dari sudut pandang privasi dibandingkan “sistem kotak hitam” yang dikendalikan oleh beberapa organisasi, “terutama jika CEO organisasi tersebut bukan orang yang paling stabil di dunia.” Namun perlu dicatat, meskipun open-source memberikan auditabilitas dan kontrol bagi pengembang, hal itu tidak menjamin data sensitif tetap privat setelah konsumen mulai menginstal aplikasi perangkat lunak di atas model tersebut. Aplikasi-aplikasi itu dapat mengakses kamera dan mikrofon robot, dan tergantung cara pembuatannya, dapat mengirim data ke layanan eksternal.
Hugging Face sendiri baru-baru ini menjadi sorotan terkait insiden keamanan siber setelah sistem OpenAI menembus sandbox-nya selama pengujian keamanan dan meretas server platform tersebut. Meski demikian, fokus saat ini adalah peluncuran Microduck yang menjanjikan pengalaman robotika interaktif dengan harga terjangkau.
Pre-order Microduck sudah dibuka hari ini dengan empat pilihan warna: Cream, Graphite, Lavender, dan Sky. Hugging Face menargetkan pengiriman gelombang pertama pesanan sebelum Natal di Amerika Serikat. Dengan harga US$399, Microduck menawarkan pintu masuk yang relatif terjangkau bagi pengembang dan penggemar robotika yang ingin mengeksplorasi pergerakan robot bertenaga AI, pembelajaran penguatan, dan interaksi humanoid dalam skala kecil.





Komentar
Belum ada komentar.