📑 Daftar Isi

Ilustrasi Peppa Pig marah karena suaranya dikloning AI

Hasbro Minta Pengisi Suara Anak Peppa Pig Serahkan Hak Suara ke AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Hasbro, pemilik waralaba Peppa Pig, minta pengisi suara anak serahkan hak suara ke AI melalui klausul kontrak baru.
  • Agents of Young Performers Association (AYPA) menentang keras dan teken surat terbuka yang ditandatangani 1.000+ anggota publik.
  • AYPA tegaskan anak tidak bisa berikan persetujuan hukum penuh, persetujuan orang tua bukan lisensi global untuk AI.
  • Hasbro klaim komitmen lindungi hak aktor cilik, tapi tak berkomentar soal kontrak spesifik.
  • Kasus ini bagian dari tren besar di industri hiburan yang mulai gunakan AI untuk voice acting dan animasi.
  • Sutradara Jorge Gutierrez batalkan proyek AI setelah kritik keras publik.

Telset.id – Industri hiburan kembali menghadapi kontroversi seputar kecerdasan buatan. Hasbro, pemilik waralaba global “Peppa Pig”, dilaporkan meminta para pengisi suara anak-anak dalam serial animasi populer tersebut untuk menyerahkan hak atas suara mereka kepada AI melalui klausul kontrak baru.

Langkah ini memicu kekhawatiran serius dari berbagai kalangan, terutama karena melibatkan anak di bawah umur. Seperti dilansir dari Futurism, permintaan tersebut merupakan bagian dari tren yang lebih besar di mana pemegang hak kekayaan intelektual mendorong anak-anak untuk menandatangani hak suara mereka.

“Di mana pelakunya adalah seorang anak, persetujuan harus diperlakukan dengan sangat hati-hati,” demikian bunyi surat terbuka dari Agents of Young Performers Association (AYPA). Surat yang telah ditandatangani oleh lebih dari 1.000 anggota masyarakat ini menegaskan bahwa “setiap perjanjian yang melibatkan suara anak harus sepenuhnya dikecualikan dari semua penggunaan AI.”

Meskipun surat tersebut tidak menyebutkan Hasbro secara eksplisit, sumber Deadline mengonfirmasi bahwa surat itu memang ditujukan kepada konglomerat tersebut terkait penanganan kontrak “Peppa Pig”. AYPA menekankan bahwa anak-anak tidak dapat memberikan persetujuan hukum yang sepenuhnya diinformasikan, dan persetujuan orang tua tidak boleh digunakan sebagai lisensi global untuk menangkap, mengkloning, melatih, atau menggunakan kembali suara anak tanpa batas waktu.

Respons Hasbro dan Dampaknya bagi Industri

Menanggapi tekanan publik, Hasbro berusaha meredakan situasi. Perusahaan tersebut menyatakan komitmennya untuk melindungi hak-hak aktor cilik sambil mengklaim ingin melakukan pendekatan AI secara bertanggung jawab dan transparan. “Perlindungan terhadap aktor cilik adalah inti dari siapa Hasbro, itu ada di DNA kami,” kata juru bicara Hasbro kepada Deadline.

Namun, pernyataan tersebut tidak memberikan kepastian mengenai isi kontrak yang dipermasalahkan. “Kami tidak bisa berkomentar mengenai negosiasi atau pengaturan kontrak tertentu,” tambah juru bicara tersebut. Ketidakjelasan ini justru memperkuat kekhawatiran bahwa hak suara anak-anak dapat dieksploitasi untuk kepentingan komersial jangka panjang.

Kasus Hasbro ini menjadi pengingat bahwa ancaman AI tidak hanya menyasar aktor dewasa. Sebelumnya, aktor Matthew McConaughey dilaporkan menggunakan trik hukum untuk melindungi suaranya dari AI. Kini, perhatian beralih ke anak-anak yang rentan secara hukum dan belum memiliki kapasitas penuh untuk mengambil keputusan.

Selain voice acting, produser juga mulai melirik AI untuk menggantikan animator manusia. Sutradara pemenang Emmy, Jorge Gutierrez, yang sempat menandatangani kesepakatan dengan Amazon MGM Studios untuk serial animasi berbasis AI, akhirnya membatalkan proyek tersebut setelah mendapat kritik keras dari publik. “Penggunaan AI menjadi sangat tidak populer, terutama ketika mengancam peran kreator manusia,” tulis Futurism.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap hak digital anak menjadi semakin mendesak. Organisasi advokasi mendesak industri hiburan untuk membuat aturan yang jelas dan mengikat mengenai penggunaan AI, terutama yang melibatkan anak-anak. Tanpa regulasi yang ketat, dikhawatirkan perusahaan besar akan terus memanfaatkan celah hukum untuk mengamankan aset digital dari talenta muda.

“Anak-anak tidak bisa memberikan persetujuan hukum yang sepenuhnya diinformasikan,” tegas surat AYPA. Pernyataan ini menjadi dasar bagi tuntutan agar semua kontrak yang melibatkan anak harus memiliki klausul khusus yang melarang penggunaan suara mereka untuk pelatihan AI tanpa batas waktu.

Kasus Hasbro dan “Peppa Pig” ini menjadi ujian bagi industri hiburan global. Apakah perusahaan akan mendahulukan etika atau justru terus mendorong batas-batas eksploitasi digital? Jawabannya akan menentukan masa depan industri kreatif dan perlindungan hak anak di era kecerdasan buatan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.