Grammarly Nonaktifkan Fitur AI yang Pakai Nama Penulis Tanpa Izin

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Bayangkan Anda sedang menulis sebuah esai, lalu sebuah alat bantu menulis terkenal memberi masukan dengan label “Disarankan oleh George Orwell” atau “Tinjauan dari Neil Gaiman”. Keren, bukan? Ternyata, para penulis tersebut mungkin sama sekali tidak tahu kalau nama mereka dipakai. Inilah kontroversi yang melanda Grammarly dan fitur AI terbarunya, Expert Review, yang akhirnya terpaksa dinonaktifkan setelah menuai protes dan bahkan gugatan kelas.

Superhuman, perusahaan di balik Grammarly, sepertinya perlu mengingat pepatah lama: niat baik belum tentu berujung baik. Pada Agustus lalu, mereka meluncurkan Expert Review, sebuah fitur yang menjanjikan umpan balik AI atas tulisan pengguna yang seolah-olah datang dari para penulis, akademisi, atau pemikir ternama. Dari ilmuwan legendaris hingga novelis best-seller, nama-nama besar itu muncul sebagai “pemberi saran” virtual. Masalahnya, menurut laporan, fitur ini menggunakan informasi dari model bahasa besar (LLM) pihak ketiga yang bersumber dari data publik, sebuah proses yang mengundang tanya soal legalitas pengumpulan datanya. Yang lebih pelik, baik penulis yang masih hidup maupun yang telah tiada, namanya digunakan tanpa sepengetahuan atau izin mereka.

Dalam disclaimer-nya, Grammarly berusaha melindungi diri dengan menyatakan bahwa referensi kepada para ahli itu “hanya untuk tujuan informasi dan tidak menunjukkan afiliasi dengan Grammarly atau dukungan dari individu atau entitas tersebut.” Namun, penjelasan itu tampaknya tidak cukup meredam kemarahan. Begitu fitur ini mulai diperhatikan khalayak, banyak dari penulis yang masih hidup merasa hak mereka dilanggar. Respons awal Superhuman adalah dengan memberi opsi “opt-out” atau memilih keluar dari platform. Solusi yang, tentu saja, tidak terlalu membantu bagi para penulis yang sudah meninggal atau mereka yang hidup tetapi tidak mengikuti berita teknologi secara ketat.

Teknologi AI memang membawa kemudahan, seperti yang juga terlihat dalam Google Docs yang semakin praktis, atau inovasi saran sinonim dari Grammarly sendiri untuk memperkaya variasi tulisan. Namun, batasan etisnya sering kali kabur. Kasus Expert Review ini menjadi contoh nyata bagaimana penerapan AI yang gegabah dapat menginjak hak kreator. Teknologi seharusnya menjadi mitra, bukan pihak yang mengambil alih identitas tanpa konsensus.

Dari Gugatan Hingga Pernyataan Maaf

Dampaknya tidak main-main. Tekanan publik yang meningkat akhirnya diikuti dengan langkah hukum. Dilaporkan telah ada upaya gugatan kelas (class action suit) yang diajukan terhadap Superhuman terkait fitur kontroversial ini. Puncaknya, pada Maret 2026, CEO Superhuman Shishir Mehrotra mengumumkan melalui postingan LinkedIn bahwa mereka akan menonaktifkan sementara Expert Review untuk mengevaluasi ulang fitur tersebut. Dalam pernyataannya, Mehrotra mengatakan bahwa agen AI itu dirancang untuk membantu pengguna menemukan perspektif dan karya akademis yang berpengaruh, sekaligus memberikan cara yang berarti bagi para ahli untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan penggemar mereka. Pernyataan yang, bagi banyak kalangan, terasa ironis. Bagaimana mungkin seseorang seperti Carl Sagan bisa “membangun hubungan” dari alam baka?

Keputusan untuk menonaktifkan ini adalah pengakuan tersirat bahwa model bisnis yang mengkomodifikasi reputasi dan gaya kepenulisan seseorang tanpa izin adalah wilayah yang berbahaya. Ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh industri teknologi, termasuk para pemain lain yang bergerak di bidang AI kreatif. Inovasi harus berjalan beriringan dengan rasa hormat terhadap kepemilikan intelektual dan persona individu.

Masa Depan AI dan Etika Kreativitas

Kasus Grammarly ini membuka diskusi yang lebih dalam tentang masa depan AI dalam dunia penulisan dan kreativitas. Di satu sisi, alat seperti peramban AI berlangganan menawarkan efisiensi baru. Di sisi lain, di mana batas antara “terinspirasi oleh” dan “menyamarkan diri sebagai” menjadi begitu tipis? Expert Review bukan sekadar alat yang menganalisis tata bahasa; ia menyematkan otoritas dan kredibilitas orang lain ke dalam saran yang dihasilkannya. Ini adalah lompatan dari asistensi teknis ke wilayah penipuan identitas yang halus.

Langkah Grammarly untuk mundur sejenak adalah langkah yang diperlukan. Ini memberi waktu bagi perusahaan untuk tidak hanya meninjau ulang teknologi, tetapi juga, yang lebih penting, mengevaluasi etika di baliknya. Apakah ada cara untuk menghormati kontributor intelektual dengan cara yang transparan dan adil, mungkin melalui sistem royalti atau persetujuan eksplisit? Atau, apakah fitur semacam ini pada dasarnya bermasalah?

Bagi Anda pengguna setia alat bantu tulis, cerita ini mengingatkan untuk selalu kritis. Kemudahan yang ditawarkan teknologi tidak boleh membuat kita tutup mata terhadap asal-usul dan implikasi etisnya. Fitur Grammarly lain seperti pemeriksa typo yang terintegrasi tetap sangat berguna. Namun, ketika AI mulai bermain peran sebagai “pakar” dengan wajah orang lain, sudah saatnya kita bertanya: siapa sebenarnya yang berbicara? Dan atas izin siapa? Masa depan AI yang bertanggung jawab bergantung pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sulit semacam ini.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI