Telset.id – Ekonomi dunia Barat disebut tengah berada dalam fase “late-stage bubble” yang memicu kekhawatiran pasar, seiring melonjaknya belanja modal untuk pengembangan AI. Temuan Capital Economics yang dikutip Fortune menyoroti bahwa tekanan pasar saat ini hanya memiliki preseden pada bulan-bulan sebelum pasar jatuh, seperti puncak booming dot-com.
Kondisi ini menempatkan Federal Reserve Amerika Serikat pada posisi krusial. Ketua The Fed, Kevin Warsh, dijadwalkan mengumumkan kenaikan suku bunga pada sore ini. Langkah tersebut akan membuat biaya pinjaman lebih mahal dan diharapkan menekan belanja konsumen serta bisnis, sehingga inflasi mendingin. Namun, keputusan itu diambil di tengah tanda-tanda bahwa inflasi bukan lagi masalah utama yang dihadapi perekonomian.
Analisis Capital Economics menyoroti delapan jenis indikator pasar, dan mayoritas berada pada atau mendekati level kritis. Indikator-indikator tersebut diibaratkan lampu peringatan di dasbor ekonomi yang secara historis hanya menyala sebelum euforia pasar anjlok. Beberapa di antaranya adalah lonjakan penerbitan ekuitas dan utang, konsentrasi kapitalisasi pasar pada segelintir saham teknologi raksasa, serta pertumbuhan pendapatan yang diharapkan untuk indeks utama yang kian tidak stabil.
“Secara keseluruhan, kami menilai data tampak konsisten dengan gelembung tahap akhir,” tulis James Reilly, ekonom pasar senior Capital Economics, dalam analisisnya. “Sebagian besar faktor yang kami pertimbangkan berada pada, atau mendekati, level yang telah mendahului puncak pasar saham di masa lalu.”

Tekanan ini tidak lepas dari besarnya belanja modal yang mengalir ke infrastruktur AI. Perusahaan teknologi global berlomba memperluas kapasitas komputasi mereka, termasuk langkah ekspansi data center besar-besaran. Salah satu contohnya adalah langkah Meta Investasi Tambahan untuk pembangunan fasilitas di Louisiana. Arus belanja sebesar itu menjadi salah satu pemicu utama misalokasi kapital yang disorot para ekonom.
Di sisi lain, analis menilai inflasi bukan lagi persoalan yang dibesar-besarkan. Laporan Fortune menyebut inflasi inti indeks harga konsumen (CPI), yang mengecualikan biaya fluktuatif seperti pangan dan energi, mencapai titik terendah pasca-pandemi pada Agustus. Fakta itu membuat firma analitik UBS memperkirakan The Fed justru akan menurunkan proyeksi inflasi jangka panjangnya sambil tetap menaikkan suku bunga.
“Itu sungguh, sungguh aneh, memang unik,” tulis seorang analis UBS, dikutip Fortune. Kombinasi kebijakan semacam itu disebut belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga:
Pertanyaan besar berikutnya adalah bagaimana keputusan suku bunga berdampak pada gelembung AI. Analisis CNN mencatat ada kemungkinan besar kenaikan suku bunga mendinginkan hampir semua sektor, kecuali investasi AI yang tetap melaju. Jika skenario itu terjadi, lampu peringatan di dasbor ekonomi bisa terus menyala meski rem kebijakan sudah ditarik sepenuhnya.
Dinamika ini memperlihatkan bahwa pasar keuangan tengah menanggung tekanan besar dari pembangunan infrastruktur AI. Preseden satu-satunya untuk momen seperti ini berasal dari bulan-bulan sebelum pasar jatuh, seperti puncak booming dot-com. Sejumlah indikator pasar yang dipantau Capital Economics pun telah berada di level yang biasanya mendahului koreksi tajam.
Ketegangan pasar juga tampak dari sisi industri yang terdampak langsung oleh euforia AI. Di sektor rantai pasok chip, persoalan etika dan regulasi turut mencuat, seperti kasus yang menimpa Supermicro terkait penyelundupan chip AI. Sementara di ranah platform, pengawasan terhadap praktik bisnis berbasis AI kian ketat, termasuk gugatan yang menyasar Meta soal iklan AI untuk anak.
Namun, inti dari peringatan Capital Economics bukan pada istilah teknis pasar. Yang menjadi sorotan adalah kenyataan bahwa pasar keuangan sedang berada di bawah tekanan luar biasa akibat pembangunan AI, dan satu-satunya preseden historis untuk situasi ini adalah bulan-bulan menjelang keruntuhan pasar. Reilly menegaskan bahwa sebagian besar faktor yang dipertimbangkan pihaknya berada pada atau mendekati level yang pernah mendahului puncak pasar saham sebelumnya.
Keputusan The Fed sore ini akan menjadi penentu arah. Jika suku bunga naik dan inflasi benar-benar bukan lagi masalah utama, maka alasan di balik kebijakan tersebut akan menjadi sorotan. Dampaknya terhadap gelembung AI akan sangat menentukan: apakah tekanan pasar mereda, atau justru lampu peringatan terus menyala sementara rem kebijakan dilepas sepenuhnya.





Komentar
Belum ada komentar.