📑 Daftar Isi

Bendera FBI berkibar sebagai simbol klaim kenaikan penggunaan AI 605% oleh Kash Patel

FBI Klaim Penggunaan AI Naik 605%, Kash Patel Dipuji atau Dipertanyakan?

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Kash Patel klaim penggunaan AI di FBI naik 605% dalam wawancara Fox News
  • Angka 605% belum disertai data keras maupun periode pembanding yang jelas
  • Laporan Februari 2026 catat 50 kasus penggunaan AI di FBI, sembilan "high-impact"
  • Chief AI Officer FBI sebut 139 kasus penggunaan disetujui per Agustus
  • FBI ajukan pengadaan server AI senilai US$88 juta
  • Patel klaim AI bantu gagalkan penembakan di North Carolina dan sejumlah negara bagian

Telset.id – Direktur FBI Kash Patel mengklaim penggunaan kecerdasan buatan atau AI di biro tersebut melonjak 605%. Klaim itu ia sampaikan dalam sebuah wawancara dengan Fox News, di mana Patel menyebut AI sebagai “alat kritis untuk triase data” jika digunakan secara sah.

Pernyataan Kash Patel ini langsung memunculkan pertanyaan, karena hingga kini belum ada data keras yang secara spesifik menjelaskan apa yang dimaksud dengan angka kenaikan 605% tersebut. Tidak dijelaskan pula periode pembanding yang digunakan untuk menghitung lonjakan itu. Meski begitu, sejumlah dokumen dan pernyataan resmi yang beredar memberi petunjuk bahwa FBI memang tengah memperluas pemanfaatan AI.

Dalam wawancara yang sama, Patel menegaskan bahwa teknologi AI dapat sangat membantu upaya melindungi anak-anak dari insiden penembakan di sekolah. Ia mengklaim AI berperan penting dalam menindaklanjuti sebuah petunjuk yang berujung pada penggagalan aksi penembakan di North Carolina dan “setengah lusin negara bagian lain” sejak ia dilantik.

Jejak Data Penggunaan AI di FBI

Petunjuk paling anyar soal penggunaan AI di lingkungan Departemen Kehakiman (DOJ) datang dari laporan Februari 2026 mengenai inventaris kasus penggunaan AI pada 2025. Dari laporan itu, 50 kasus penggunaan diatribusikan ke FBI, dengan sembilan di antaranya ditandai sebagai “high-impact”.

Namun, pernyataan yang lebih baru dari Chief AI Officer FBI, Katie Noyes, pada Agustus menyebut jumlah kasus penggunaan yang disetujui mencapai 139, atau hampir tiga kali lipat dari jumlah pada Januari. Angka ini menjadi salah satu rujukan yang bisa menjelaskan arah ekspansi AI di biro tersebut.

Pada tahun sebelumnya, U.S. General Services Administration menyetujui Claude, Gemini, dan ChatGPT sebagai produk yang disetujui, sehingga tersedia bagi instansi pemerintah. Sebelumnya pada Mei, Pentagon juga meneken delapan kesepakatan dengan perusahaan AI.

Beberapa bulan lalu, FBI memposting dokumen pengadaan yang meminta proposal vendor untuk server AI senilai US$88 juta. Langkah ini tampaknya menandakan bahwa biro tersebut ingin memperluas layanannya.

Yang mungkin tak kalah penting, beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 15 September, Patel mengklaim dalam sidang Senat bahwa ia dapat menghubungi langsung CEO pemain AI besar. Menurutnya, “setiap dari mereka telah mematuhi permintaan kami dan bekerja sama dengan kami dalam urusan penegakan hukum.”

Ia juga menyebut bahwa akses ke model milik vendor akan memudahkan upaya menindak kejahatan berbantuan AI, mengingat sindikat kriminal kini mengembangkan model mereka sendiri dengan bantuan serangan distilasi. FBI kini mengklasifikasikan kejahatan terkait AI dengan deskriptor tersendiri, dan menyoroti investasi, percintaan, serta pekerjaan sebagai area umum aktivitas jahat dalam laporan Internet Crime Report terbarunya.

Klaim Tambahan dan Tantangan Verifikasi

Dalam op-ed yang diterbitkan pada Mei, Patel mengaitkan kenaikan 30% dalam penemuan anak hilang dan kenaikan 20% dalam penangkapan kasus kekerasan terhadap anak dengan penggunaan alat AI, termasuk pengenalan wajah. Ia juga menulis bahwa FBI kini menggunakan alat AI baru untuk menghasilkan transkripsi panggilan, menyediakan sinopsis ringkas, dan bahkan membantu mengorelasikan kontak dengan keluhan lain yang diterima.

Patel menyoroti bahwa pesan yang dikumpulkan berdasarkan surat perintah penggeledahan bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk diproses oleh sejumlah analis, sementara AI dapat melakukannya dengan mudah. Pernyataan ini memberi gambaran konkret soal bagaimana AI dipakai dalam alur kerja operasional FBI.

Meski demikian, pertanyaan soal basis perbandingan angka 605% tetap belum terjawab. Sejumlah pengamat menilai klaim tersebut kemungkinan merujuk pada penggunaan model bahasa besar (LLM) untuk tugas administratif, pencarian basis data, hingga pemeriksaan dokumen. DHS dan FBI sendiri diketahui telah lama menggunakan jaringan saraf untuk pencocokan wajah dan sidik jari, sehingga lonjakan yang dimaksud tampaknya bukan pada teknologi tersebut.

Sejumlah perkembangan lain turut memperkuat indikasi bahwa FBI memang memanfaatkan alat AI. Namun, seluruh rangkaian fakta itu belum cukup untuk memverifikasi angka “605%” yang disebut Patel, yang masih membutuhkan dasar perbandingan yang jelas.

Bagi publik, klaim ini menjadi penanda bahwa adopsi AI di lembaga penegak hukum terus berjalan, meski transparansi soal seberapa besar dan sejauh mana penggunaannya masih menjadi pertanyaan terbuka. Perkembangan terkait penggunaan AI di FBI juga sejalan dengan dinamika lain di sektor teknologi, seperti yang tergambar dalam pemberitaan soal Lokasi Sengketa dan langkah FBI Sita Domain dalam penegakan hukum siber.

FBI flag

Sejauh ini, yang bisa dipastikan adalah FBI berada di tengah fase ekspansi pemanfaatan AI, mulai dari pengadaan server, kemitraan dengan vendor, hingga penerapan alat AI dalam alur kerja investigasi. Angka 605% yang disebut Patel menjadi sorotan karena belum disertai data pembanding yang dapat diverifikasi secara independen.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.