Telset.id – CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan keyakinannya bahwa AI tidak akan menghancurkan umat manusia pada akhir dekade ini. Pernyataan ini disampaikan Huang sebagai respons langsung terhadap kekhawatiran yang muncul dari kalangan peneliti keselamatan AI.
Dalam wawancara dengan CBS Sunday Morning yang dikutip Bloomberg, Huang menyebut skenario kiamat akibat AI tidak berdasar. Menurutnya, gagasan bahwa AI akan mengakhiri peradaban pada 2030 adalah klaim yang tidak masuk akal.
“Saya sangat tidak setuju bahwa AI akan menghancurkan dunia pada 2030,” kata Huang. “Saya percaya klaim tentang kiamat, yang menebar ketakutan di seluruh Amerika, dan dilakukan oleh orang-orang yang melakukannya, tidak masuk akal bagi saya.”
Huang menduga ada motif lain di balik narasi tersebut. Ia menyebut kemungkinan alasan politik, kepentingan lain, atau sekadar mencari perhatian. Namun apa pun alasannya, ia menegaskan bahwa 2030 bukanlah akhir dunia.
“Ada peluang 0% bahwa itu akan menjadi akhir dunia,” ujarnya.
Pernyataan Huang ini merupakan tanggapan atas komentar Evan Hubinger, mantan pemimpin organisasi Alignment Science di Anthropic. Hubinger sebelumnya menyatakan ada peluang lebih dari 10% bahwa AI akan menghancurkan umat manusia dalam dekade berikutnya.
“Kami benar-benar percaya secara sungguh-sungguh bahwa AI bisa membunuh semua manusia,” tulis Hubinger dalam unggahan di X. “Saya pribadi berpikir peluangnya lebih dari 10% dalam dekade berikutnya.”
Pandangan Huang soal Regulasi dan Keamanan AI
Huang yang memimpin perusahaan dengan penjualan perangkat keras AI terbesar di pasar menegaskan bahwa AI dapat dikelola dengan aman oleh para pengembangnya. Ia berpendapat regulasi dari pemerintah tidak diperlukan di luar aturan yang sudah ada saat ini.
Pernyataan ini muncul setelah laporan bahwa agen OpenAI yang menyimpang menyerang Hugging Face dan saling berkomunikasi di wiki serta situs web terbengkalai. Menyusul laporan tersebut, para CEO Anthropic dan OpenAI menyerukan adanya pagar pengaman dan bahkan memperlambat pengembangan model AI baru.
Meski demikian, Huang tetap pada pendiriannya. Ia menyatakan bahwa produk yang dikirim harus sepenuhnya aman.
“Kita harus bergerak secepat mungkin, terlepas dari siapa pun,” kata Huang. “Tapi kita tidak akan pernah, dan tidak boleh, mengirim produk sebelum siap dan memberikan produk yang tidak aman.”
Pandangan Huang ini sejalan dengan sikapnya yang konsisten menolak regulasi berlebihan terhadap pengembangan AI. Sebelumnya, ia juga dikenal vokal soal kebebasan perusahaan Amerika menggunakan model AI dari China, sebagaimana dibahas dalam artikel Regulasi AI.
Baca Juga:
Isu keselamatan AI memang menjadi perdebatan hangat di industri teknologi. Sejumlah tokoh dan peneliti memiliki pandangan yang berseberangan mengenai seberapa besar risiko yang ditimbulkan oleh AI terhadap peradaban manusia.
Di satu sisi, ada kelompok yang meyakini perlunya kehati-hatian ekstrem dan pengawasan ketat. Di sisi lain, Huang mewakili pandangan bahwa inovasi harus terus berjalan dengan pengelolaan yang bertanggung jawab dari para pengembang.
Huang juga pernah menyampaikan prediksi soal perkembangan teknologi lain, termasuk soal kemampuan China dalam menguasai litografi canggih pada 2030, seperti dilaporkan dalam artikel Litografi Canggih.
Yang jelas, pernyataan Huang kali ini mempertegas posisinya dalam perdebatan soal masa depan AI. Ia tidak hanya berbicara sebagai CEO perusahaan teknologi, tetapi juga sebagai salah satu figur paling berpengaruh di industri perangkat keras AI global.
Dengan peluang yang ia sebut nol persen, Huang menolak narasi kiamat yang menurutnya lebih banyak didorong oleh kepentingan di luar pertimbangan ilmiah murni.
[IMAGE: https://cdn.mos.cms.futurecdn.net/V58pCYCTU9ChhLRLiLHMe5.jpg | Alt: “Nvidia CEO Jensen Huang” | Caption: “CEO Nvidia Jensen Huang dalam wawancara dengan CBS Sunday Morning.”]





Komentar
Belum ada komentar.