Drone tempur otonom YFQ-44A buatan Anduril Industries saat uji coba di Gurun Mojave

Drone Tempur AS Berhasil Uji Coba Tembak Rudal secara Otonom

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Angkatan Udara AS sukses uji coba tembak rudal hidup dari drone YFQ-44A
  • Drone buatan Anduril Industries lepaskan rudal AIM-120 AMRAAM ke target digital
  • Uji coba dilakukan di Gurun Mojave, California
  • Drone dirancang untuk mendukung pesawat tempur berawak seperti F-35 dan F-22
  • Otorisasi manusia tetap diperlukan sebelum drone menembak
  • Anggaran CCA capai USD 1,4 miliar untuk pengembangan dan USD 1 miliar untuk pengadaan
  • Target biaya drone sekitar sepertiga harga pesawat F-35A (USD 83 juta)
  • Produksi dijadwalkan dimulai Juni 2026
  • Anduril, Shield AI, dan Collins Aerospace bersaing untuk software otonom

Telset.id – Angkatan Udara Amerika Serikat (US Air Force) berhasil melakukan uji coba penting dengan menembakkan rudal hidup dari pesawat nirawak (drone) tempur otonom untuk pertama kalinya. Uji coba ini menandai lompatan signifikan dalam pengembangan sistem tempur otonom masa depan.

Drone YFQ-44A yang dikembangkan oleh Anduril Industries berhasil meluncurkan rudal AIM-120 AMRAAM ke sasaran digital di atas Gurun Mojave. Keberhasilan ini membawa Angkatan Udara AS selangkah lebih dekat untuk mengerahkan pesawat tanpa awak yang dirancang mendukung pilot manusia dalam operasi udara di masa depan.

Baca Juga:

Peluncuran rudal ini merupakan tahap lanjutan dari pengujian sebelumnya di mana para insinyur memastikan pesawat dapat membawa rudal dengan aman dan mempertahankan penerbangan yang stabil. Drone tersebut sebelumnya telah membawa versi inert dari AMRAAM sebelum memvalidasi tautan komunikasi yang diperlukan antara pesawat, sistem senjata, dan operator manusia.

Pejabat Angkatan Udara AS menegaskan bahwa uji coba ini lebih dari sekadar melepaskan rudal, karena senjata tersebut berhasil melacak target simulasi selama pertempuran. Jenderal Ken Wilsbach menggambarkan peristiwa ini sebagai perkembangan penting menuju pengiriman kemampuan Collaborative Combat Aircraft (CCA) kepada operator militer.

“It wasn’t just an AMRAAM that came off, it was tracking the target,” kata Wilsbach saat membahas uji coba tersebut. Angkatan Udara AS telah menekankan bahwa sistem otonom tidak akan secara independen memutuskan kapan harus menembakkan senjata, karena otorisasi manusia tetap diperlukan sebelum pertempuran.

YFQ-44A, yang juga dikenal secara internal sebagai Fury, merupakan bagian dari fase pengembangan CCA pertama bersama dengan YFQ-42A Dark Merlin milik General Atomics. Pesawat-pesawat ini dirancang untuk beroperasi bersama pesawat tempur berawak seperti F-35 dan F-22 dengan menyediakan sensor, senjata, dan dukungan operasional tambahan selama misi.

Drone tempur tanpa awak membawa rudal AIM-120 AMRAAM

Angkatan Udara AS memperkirakan platform CCA dapat melakukan berbagai peran di luar pengangkutan rudal, termasuk peperangan elektronik, pengintaian, dan tugas-tugas medan perang lainnya. Para pejabat percaya pesawat ini dapat meningkatkan efektivitas tempur dengan memungkinkan pilot mengelola beberapa sistem tanpa awak selama operasi kompleks.

Uji coba rudal yang sukses ini terjadi setelah Angkatan Udara AS menyetujui kedua desain CCA untuk bergerak menuju produksi pada Juni 2026. Anduril, Shield AI, dan Collins Aerospace bersaing untuk menyediakan perangkat lunak otonom bagi pesawat tersebut, sementara layanan terus mengembangkan versi masa depan melalui beberapa tahapan program.

Pejabat Angkatan Udara AS belum mengungkapkan total biaya program atau jumlah produksi untuk fase manufaktur pertama. Namun, dokumen anggaran menunjukkan layanan meminta sekitar USD 1,4 miliar untuk pengembangan CCA dan hampir USD 1 miliar untuk pengadaan selama fiskal 2027.

Angkatan Udara AS memperkirakan drone telah mencapai target biaya sekitar sepertiga dari pesawat F-35A, yang memiliki biaya terbang rata-rata sekitar USD 83 juta dalam lot produksi saat ini. Desain CCA di masa depan mungkin memerlukan jangkauan, kecepatan, dan daya listrik yang lebih besar, terutama untuk operasi potensial di wilayah di mana senjata jarak jauh mengancam pangkalan AS.

Namun, anggota parlemen AS berpendapat bahwa sistem masa depan perlu memiliki kemampuan untuk dikerahkan dari benua Amerika Serikat dan mencapai area pertempuran yang jauh. Perkembangan ini menunjukkan komitmen AS untuk mempertahankan keunggulan teknologinya di bidang pertahanan udara.

Uji coba ini juga menyoroti bagaimana teknologi otonom semakin terintegrasi ke dalam sistem militer modern. Meskipun drone dapat melakukan manuver dan menembak secara mandiri, keputusan akhir untuk menggunakan kekuatan mematikan tetap berada di tangan manusia, sebuah prinsip yang ditekankan oleh para pejabat militer.

Keberhasilan uji coba ini membuka jalan bagi pengembangan lebih lanjut dari sistem tempur otonom yang dapat beroperasi bersama pesawat berawak. Ini bisa mengubah cara pertempuran udara dilakukan di masa depan, dengan pilot manusia mengelola skuadron drone dari kokpit pesawat tempur mereka.

Dengan anggaran yang terus meningkat untuk program CCA, AS jelas serius dalam mengembangkan kemampuan tempur otonom. Investasi miliaran dolar ini menunjukkan keyakinan bahwa drone tempur akan menjadi komponen kunci dari kekuatan udara masa depan.

Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati mengingat pentingnya teknologi pertahanan udara modern. Kemampuan untuk mengintegrasikan drone tempur dengan pesawat tempur berawak bisa menjadi pertimbangan strategis bagi TNI AU dalam modernisasi alutsistanya.

Ke depannya, persaingan antara perusahaan seperti Anduril, Shield AI, dan Collins Aerospace dalam menyediakan perangkat lunak otonom akan menentukan seberapa canggih sistem ini nantinya. Setiap perusahaan membawa pendekatan berbeda dalam mengembangkan kecerdasan buatan untuk aplikasi militer.

Uji coba ini juga menimbulkan pertanyaan tentang etika penggunaan sistem senjata otonom. Meskipun otorisasi manusia tetap diperlukan, kemampuan drone untuk melacak dan menembak target secara mandiri menimbulkan kekhawatiran tentang potensi kesalahan atau penyalahgunaan.

Namun, para pendukung teknologi ini berpendapat bahwa drone otonom sebenarnya dapat mengurangi risiko bagi pilot manusia dengan mengambil alih misi paling berbahaya. Mereka juga dapat beroperasi lebih lama dan dalam kondisi yang tidak cocok untuk pesawat berawak.

Dengan produksi yang dijadwalkan mulai 2026, dunia mungkin akan melihat generasi baru pesawat tempur otonom dalam beberapa tahun ke depan. Ini akan menjadi era baru dalam peperangan udara, di mana manusia dan mesin bekerja sama dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Keberhasilan uji coba ini juga menjadi kabar baik bagi Anduril Industries, perusahaan rintisan pertahanan yang didirikan oleh Palmer Luckey. Perusahaan ini berhasil mengalahkan pemain mapan seperti Boeing dan Lockheed Martin dalam mendapatkan kontrak CCA.

Ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi baru dapat bersaing dengan raksasa pertahanan tradisional dalam mengembangkan sistem militer mutakhir. Inovasi dan pendekatan yang gesit menjadi kunci dalam industri pertahanan modern.

Dengan semua perkembangan ini, masa depan pertempuran udara tampaknya akan sangat berbeda dari apa yang kita kenal sekarang. Drone otonom yang dapat menembak rudal hanyalah awal dari transformasi besar dalam cara militer di seluruh dunia memandang kekuatan udara.

Bagi pengamat militer dan teknologi, perkembangan ini memberikan gambaran menarik tentang bagaimana perang di masa depan akan terjadi. Kolaborasi antara manusia dan mesin akan menjadi norma, bukan pengecualian.

Indonesia, sebagai negara yang terus memodernisasi kemampuan pertahanannya, perlu memperhatikan tren ini. Investasi dalam teknologi drone dan kecerdasan buatan mungkin menjadi prioritas di masa depan untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional.

Uji coba sukses ini juga menjadi pengingat bahwa perlombaan senjata tidak hanya tentang siapa yang memiliki rudal tercepat atau pesawat tercanggih, tetapi juga tentang siapa yang dapat mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam sistem tempurnya dengan paling efektif.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.