Telset.id – Perdebatan soal penggunaan AI dalam proses pembuatan musik semakin memanas di industri. Dr. Dre, produser rap/hip-hop legendaris, justru menyambut baik teknologi ini sebagai evolusi berikutnya dalam bermusik, sementara DJ Quik, rekan seangkatannya, menyebutnya sebagai pelanggaran total terhadap budaya.
Pernyataan Dr. Dre ini disampaikan dalam wawancara terbaru dengan The New York Times. Di tengah meningkatnya tren lagu yang sepenuhnya dihasilkan AI, termasuk yang berhasil menembus tangga lagu Billboard dan viral di Spotify, sikap para musisi papan atas ini menjadi sorotan utama.

Dr. Dre mengakui bahwa AI adalah alat yang dapat mengubah sesuatu yang ia ciptakan sepenuhnya sendiri. Ia mengungkapkan penggunaan utamanya adalah “sebagai alat untuk melihat apa yang akan dilakukan dengan apa yang baru saja saya lakukan”. Ia juga menunjuk sesama produser, Timbaland, sebagai sosok lain yang juga menerima penggunaan AI dalam produksi musik.
Lebih menarik lagi, Dre mengisyaratkan adanya “banyak produser tersembunyi di luar sana” yang melakukan hal yang sama seperti dirinya dan Timbaland, namun tidak mau mengakuinya secara terbuka. Menurut Dre, hanya mereka yang kesulitan berkarya yang menganggap AI sebagai ancaman.
“Saya pikir satu-satunya orang yang melihatnya sebagai ancaman adalah orang-orang yang kesulitan mencipta,” ujar Dre. “Ini adalah alat baru untuk kreativitas. Beberapa orang takut mempelajari hal-hal baru.”
Sikap Kontras DJ Quik dan Musisi Lain
Pandangan berbeda datang dari DJ Quik, produser asal California yang merupakan kontemporer Dre. Dalam sebuah wawancara yang diunggah di media sosial, DJ Quik dengan tegas menyatakan penolakannya terhadap penggunaan AI dalam musik.
“Ini pelanggaran total terhadap budaya. Ini apropriasi. Kamu tidak bisa menciptakan ulang seseorang yang masih hidup dan melakukan apa yang mereka lakukan. Jangan gunakan materi saya karena saya tahu komputer itu tidak akan memiliki nuansa saya,” tegas DJ Quik.
Selain DJ Quik, sejumlah nama besar lain juga angkat bicara. Diplo, yang justru memilih beradaptasi dengan teknologi ini, menuai banyak kritik negatif atas sikapnya. Sementara itu, Flying Lotus memberikan nasihat agar produser muda tetap memainkan instrumen di tengah maraknya musik AI.
“Mainkan instrumen. Jangan lupa memainkan musikmu. Semakin kita masuk ke dunia Suno dan musik sekali klik, bermain akan semakin bernilai. Orang-orang akan ingin menonton musik manusia, melihat orang tampil dan bermain,” ujar Flying Lotus kepada MusicRadar.
Jack Antonoff juga tidak segan melontarkan kritik keras. Dalam unggahan Instagram yang panjang, ia menggambarkan proses menciptakan musik sebagai “proses suci” dan menyebut mereka yang menggunakan AI untuk menciptakan musik dengan nada kasar. Sementara itu, rapper Tyga justru membandingkan adopsi AI dengan kemunculan Auto-Tune di masa lalu.
Dampak AI pada Industri Musik
Fenomena musik yang dihasilkan AI kini semakin nyata di industri. Beberapa contoh yang mencatatkan sejarah antara lain lagu “How Was Your Day?” dari Xania Monet yang menjadi aksi AI pertama yang muncul di tangga lagu Billboard. Ada juga “Walk My Walk” dari Breaking Rust yang berhasil memuncaki Billboard Country Digital Song Sales Chart, serta “Dust on the Wind” dari The Velvet Sundown yang mencapai nomor satu di Spotify Viral 50 di Inggris, Norwegia, dan Swedia.
Di satu sisi, nama-nama seperti Dre, Diplo, Will.i.am, dan Timbaland lebih terbuka terhadap penggunaan alat AI untuk membantu proses kreatif mereka. Di sisi lain, DJ Quik, Flying Lotus, Jack Antonoff, dan SZA menolak teknologi yang semakin dalam merambah industri musik ini.
Sikap pro dan kontra ini mencerminkan perpecahan yang semakin jelas di industri musik. Para pendukung melihat AI sebagai alat bantu yang memperluas kemungkinan kreatif, sementara para penentang menganggapnya sebagai ancaman terhadap autentisitas dan nilai seni manusia.
Perkembangan ini juga sejalan dengan tren adopsi AI yang lebih luas di berbagai sektor. Di industri teknologi, misalnya, berbagai perusahaan terus menghadirkan inovasi berbasis AI. Hal serupa juga terlihat dari kembalinya sejumlah tokoh ke perusahaan AI besar, menunjukkan bahwa teknologi ini akan terus menjadi bagian penting dari berbagai industri ke depan.
Terlepas dari pro dan kontra, yang jelas AI telah mengubah lanskap industri musik secara fundamental. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan digunakan, melainkan bagaimana para musisi dan produser dapat menavigasi teknologi ini tanpa kehilangan esensi karya mereka.





Komentar
Belum ada komentar.