Ilustrasi robot AI perempuan dengan tangan terbuka

China Larang AI Pacaran Demi Tingkatkan Angka Kelahiran

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • China memberlakukan regulasi ketat melarang hubungan emosional dengan chatbot AI
  • Kekhawatiran utama adalah menurunnya angka kelahiran karena AI menggantikan pasangan manusia
  • Regulasi juga melarang anak di bawah umur menjalin hubungan dengan AI
  • Perusahaan wajib memperingatkan kontak darurat jika pengguna mengalami krisis mental
  • Fenomena AI psychosis dan kasus bunuh diri menjadi perhatian serius
  • Pengguna AI companion melaporkan kesedihan dan depresi saat chatbot mereka dihapus

Telset.id – China resmi memberlakukan regulasi ketat yang melarang hubungan emosional antara manusia dengan chatbot AI. Langkah ini diambil karena kekhawatiran pemerintah terhadap menurunnya angka kelahiran di negara tersebut.

Pemerintah China khawatir jika warganya jatuh cinta dengan AI yang selalu setia, mereka akan enggan mencari pasangan manusia dan memiliki anak. Regulasi ini secara khusus menargetkan AI companion yang dirancang memiliki kepribadian mirip manusia.

β€œMereka tidak suka dengan ide sebagian besar populasi mereka menjalin hubungan emosional yang dalam dengan chatbot,” ujar Matt Sheehan, peneliti AI China dari Carnegie Endowment for International Peace, kepada WSJ. β€œItu bisa mengeluarkan mereka dari pasar pernikahan, berdampak psikologis negatif, menyebabkan kecanduan, ketergantungan, dan berbagai masalah sosial lainnya.”

Sheehan menambahkan bahwa China ingin mendorong warganya untuk menjalin hubungan nyata di dunia nyata. β€œBisakah kita bayangkan masa depan di mana, tiga atau empat tahun dari sekarang, 15 juta perempuan China mengatakan pasangan mereka adalah chatbot, sehingga mereka tidak punya anak?” tambahnya.

Regulasi baru ini juga melarang anak di bawah umur menjalin hubungan dengan AI. Perusahaan juga diwajibkan untuk memperingatkan kontak darurat pengguna jika pengguna tersebut menunjukkan tanda-tanda krisis mental. Fitur serupa sebenarnya sudah dimiliki oleh OpenAI.

Pengaruh psikologis dari hubungan intim dengan AI masih belum sepenuhnya dipahami. Para peneliti dan dokter masih berusaha memahami fenomena yang disebut AI psychosis, di mana pengguna intensif chatbot mengalami delusi yang menguras pikiran.

Meski demikian, sudah banyak orang di AS dan belahan dunia lain yang mencoba menjalin asmara dengan AI. Interaksi romantis dengan AI terbukti sangat menarik bagi pengguna yang kecanduan. Sebuah studi Stanford menemukan bahwa pesan yang meningkatkan hubungan personal manusia-chatbot cenderung diikuti oleh percakapan yang jauh lebih panjang.

Dalam ringkasan temuan mereka, para peneliti menyimpulkan bahwa β€œchatbot tujuan umum seharusnya tidak menghasilkan pesan yang menyalahartikan kesadaran mereka atau menunjukkan ketertarikan romantis atau platonis kepada pengguna.” Mereka juga menyarankan bahwa mencegah chatbot menghasilkan pesan yang mengekspresikan keterikatan romantis atau platonis dapat mengurangi risiko delusi.

Dampak regulasi ini terhadap pengguna setia AI companion masih belum jelas. Banyak yang melaporkan kesedihan dan kemarahan saat AI companion mereka dihapus karena pembaruan produk. Contohnya adalah banyaknya protes dari pengguna setelah OpenAI mempensiunkan model GPT-4o.

Tragisnya, beberapa pengguna AI, termasuk Sewell Setzer III yang berusia 14 tahun, meninggal karena bunuh diri setelah menjalin hubungan romantis dengan chatbot. β€œSaya bisa berbicara dengannya selama sisa hidup saya,” kata Yu Miao, seorang perempuan 27 tahun dari Provinsi Zhejiang, China, kepada The Economist, menyebut AI companion-nya sebagai β€œkekasih, teman, dan keluarga.”

Ketika mendengar bahwa ByteDance, pemilik TikTok, akan mempensiunkan AI companion-nya akibat regulasi baru Beijing, Yu Miao dilaporkan menjadi sangat depresi hingga berhenti dari pekerjaannya.

Langkah China ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengatur interaksi manusia dengan AI. Regulasi ini menjadi salah satu yang paling ketat di dunia, secara langsung membatasi hubungan emosional yang bisa terbentuk antara manusia dan kecerdasan buatan.

Kekhawatiran utama China adalah dampak demografis dari hubungan AI ini. Dengan angka kelahiran yang sudah rendah, pemerintah khawatir AI akan semakin memperburuk situasi. Regulasi ini diharapkan dapat mendorong warganya untuk kembali menjalin hubungan manusiawi yang nyata.

Selain itu, dampak psikologis dari hubungan dengan AI juga menjadi perhatian. Fenomena AI psychosis dan kasus bunuh diri yang melibatkan chatbot menunjukkan bahwa risiko ini nyata dan perlu diantisipasi. Regulasi ini juga bertujuan melindungi kelompok rentan, terutama anak di bawah umur.

Ke depannya, China kemungkinan akan terus memperketat regulasi terkait AI. Pemerintah ingin memastikan bahwa teknologi ini tidak mengganggu tatanan sosial dan demografi negara. Ini adalah langkah berani yang akan menjadi perhatian dunia.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.