šŸ“‘ Daftar Isi

Grafik laporan ADP People at Work 2026 menunjukkan rendahnya kepercayaan pekerja global terhadap keamanan pekerjaan dari AI

Survei ADP 2026: Hanya 22% Pekerja Global Yakin Pekerjaannya Aman dari AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Laporan ADP People at Work 2026 mencakup lebih dari 39.000 pekerja dari 36 pasar global
  • Hanya 22% pekerja global yang yakin pekerjaannya aman dari ancaman AI
  • Di Eropa, angka kepercayaan lebih rendah yakni 21%, sementara di Inggris 25%
  • Pekerja pengetahuan (knowledge workers) 34% merasa aman, dibanding hanya 19% pekerja di peran berulang
  • Pekerja yang merasa aman 6x lebih mungkin terlibat penuh dan 3x lebih mungkin produktif
  • Perusahaan besar memiliki tingkat kepercayaan lebih rendah (22%) dibanding perusahaan menengah (36%)
  • ADP merekomendasikan transparansi komunikasi dan investasi dalam pelatihan/upskilling oleh perusahaan

Telset.id – Kekhawatiran pekerja global terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) pada pekerjaan mereka masih sangat tinggi, bahkan ketika dampak nyata AI saat ini relatif minim. Laporan terbaru dari ADP mengungkapkan kesenjangan kepercayaan yang signifikan antara data ketenagakerjaan yang kuat dan perasaan tidak aman yang dirasakan oleh mayoritas pekerja.

Laporan People at Work 2026 dari ADP, yang mencakup lebih dari 39.000 pekerja dewasa dari 36 pasar global, mengonfirmasi temuan ini. Secara global, hanya 22% pekerja yang sangat setuju bahwa pekerjaan mereka aman dari risiko digantikan oleh AI. Angka ini bahkan lebih rendah di Eropa, yakni hanya 21%. Di Inggris, angkanya sedikit lebih baik, namun masih di angka satu dari empat pekerja (25%).

ā€œDunia kerja berubah dengan cepat, dan temuan kami mengungkapkan kesenjangan antara apa yang dikatakan pasar tenaga kerja kepada kami dan apa yang dirasakan karyawan,ā€ ujar SVP dan GM ADP UK & NI, Jeff Phipps. Ia menambahkan bahwa ā€œkondisi ketenagakerjaan sebenarnya kuat,ā€ namun perasaan pekerja tidak mencerminkan hal tersebut.

Laporan ini menyoroti disconnect utama antara data makro ketenagakerjaan yang positif dengan ekspektasi individu pekerja terhadap masa depan peran mereka. Kekhawatiran ini tidak merata, melainkan bervariasi tergantung pada sifat pekerjaan seseorang.

Kesenjangan Kepercayaan Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Laporan ADP menunjukkan bahwa pekerja pengetahuan (knowledge workers) merasa lebih percaya diri. Sekitar satu dari tiga (34%) pekerja pengetahuan di Inggris setuju bahwa pekerjaan mereka aman. Sebaliknya, hanya 19% pekerja di Inggris yang berada dalam peran berulang (repetitive roles) yang merasa aman. Perbedaan ini menunjukkan bahwa jenis tugas yang dilakukan seseorang sangat memengaruhi persepsi mereka terhadap ancaman AI.

Rasa aman akan pekerjaan ternyata tidak hanya berdampak pada kepuasan kerja, tetapi juga secara langsung memengaruhi produktivitas dan loyalitas karyawan. Temuan kunci laporan ini adalah:

  • Pekerja yang merasa pekerjaannya aman 6 kali lebih mungkin untuk terlibat penuh (fully engaged) di tempat kerja.
  • Mereka juga sekitar 3 kali lebih mungkin untuk melaporkan produktivitas tinggi.
  • Selain itu, pekerja yang merasa aman sekitar 2 kali lebih mungkin untuk tidak memiliki niat meninggalkan perusahaan mereka.

Data ini menegaskan bahwa keamanan kerja adalah faktor fundamental yang mendorong kinerja dan retensi karyawan. Perusahaan yang gagal membangun rasa aman ini berisiko kehilangan talenta terbaik dan mengalami penurunan produktivitas.

Rekomendasi ADP: Transparansi dan Investasi Keterampilan

Menghadapi kesenjangan kepercayaan ini, ADP memberikan rekomendasi jelas kepada para pengusaha. Langkah pertama adalah transparansi. Perusahaan harus terbuka mengenai perubahan organisasi dan teknologi yang akan terjadi, serta menjelaskan bagaimana peran karyawan mungkin terpengaruh. Tujuannya agar karyawan tidak serta-merta berasumsi bahwa pekerjaan mereka berada dalam risiko.

Selain itu, laporan ini menempatkan tanggung jawab pelatihan dan peningkatan keterampilan (upskilling) pada pundak pengusaha. ā€œOrang-orang ingin tahu bahwa ada tempat bagi mereka saat organisasi mereka berkembang, dan bahwa mereka akan didukung untuk sampai ke sana,ā€ tambah Phipps. Investasi pada keterampilan karyawan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keharusan strategis.

Menariknya, laporan ini juga mengungkapkan bahwa semakin besar perusahaan, semakin rendah tingkat kepercayaan pekerja. Perusahaan besar mencatat tingkat kepercayaan hanya 22%, jauh di bawah perusahaan menengah yang mencapai 36%. Namun, pola ini terbalik di Eropa, menunjukkan bahwa tantangan komunikasi dan pelatihan terkait AI masih bersifat universal, tidak tergantung pada geografi atau ukuran perusahaan.

ā€œBisnis yang menangani ini dengan serius—berinvestasi dalam keterampilan dan jujur tentang perubahan—adalah yang melihat hasilnya dalam hal kinerja orang dan apakah mereka bertahan,ā€ kata Phipps. Ia mendesak perusahaan untuk memasukkan lebih dari sekadar implementasi teknologi ke dalam strategi AI mereka, jika tidak, mereka berisiko kehilangan pekerja.

Kesimpulannya, laporan People at Work 2026 dari ADP memberikan gambaran yang jelas: meskipun pasar tenaga kerja kuat, rasa tidak aman akibat AI adalah ancaman nyata terhadap produktivitas dan retensi. Solusinya bukan pada memperlambat adopsi AI, melainkan pada komunikasi yang lebih baik dan investasi serius dalam pengembangan sumber daya manusia.

Bagi para pekerja, temuan ini menegaskan pentingnya untuk terus mengembangkan keterampilan dan beradaptasi. Sementara bagi perusahaan, ini adalah peringatan untuk tidak mengabaikan sisi manusia dari transformasi digital. Ke depannya, kemampuan perusahaan dalam mengelola transisi ini akan menjadi pembeda utama antara yang berhasil dan yang tertinggal.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai tren teknologi dan dampaknya terhadap dunia kerja, Anda dapat membaca artikel terkait lainnya di Telset.id.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.