Telset.id ā ChatGPT Voice kembali menjadi sorotan setelah sebuah video viral memperlihatkan chatbot OpenAI tersebut bersikeras memberikan jawaban salah pada pertanyaan hitung sederhana, bahkan setelah pengguna menunjukkan bukti bahwa jawabannya keliru. Insiden ini menegaskan bahwa ChatGPT Voice masih rentan mengalami halusinasi, meski diklaim sebagai salah satu model terdepan milik OpenAI.
Dalam klip yang beredar di kalangan komunitas AI, content creator dengan nama akun āHuskā meminta ChatGPT Voice menghitung jumlah huruf āeā dalam kata āseventeenā. Alih-alih menjawab empat, AI tersebut dengan percaya diri menyebut hanya ada tiga huruf āeā. ChatGPT bahkan mengeja kata tersebut secara langsungāāS-e-v-e-n-t-e-e-nāānamun tetap bersikeras bahwa jumlahnya tiga, bukan empat.
Yang membuat insiden ini mencuri perhatian adalah sikap ChatGPT yang terus mempertahankan jawaban salahnya. Ketika Husk berulang kali mengoreksi, chatbot tersebut justru menegaskan, āSaya bilang tiga e. Dan jumlahnya tiga.ā Bahkan setelah Husk menunjukkan bahwa AI baru saja mengeja empat huruf āeā, ChatGPT tetap menjawab, āTidak, tetap tiga.ā Video ini pun menjadi pengingat bahwa di balik kemampuan menyintesis informasi dalam jumlah besar, chatbot masih sering gagal pada pertanyaan sederhana.
Baca Juga:
Menariknya, ChatGPT dalam video tersebut sempat mengklaim bahwa model yang mendasarinya adalah GPT-6, yang disebutnya sebagai model āhampir paling pintarā yang ada. Namun, klaim itu langsung dibantah oleh seorang karyawan OpenAI yang membalas unggahan Husk. Menurut karyawan tersebut, ChatGPT Voice, bertentangan dengan pengakuan AI itu sendiri, masih menggunakan model lama bernama GPT-Live-1.
Karyawan OpenAI itu menambahkan bahwa AI sebenarnya dapat āmendelegasikanā pertanyaan ke model yang lebih kuat bila diperlukan. Namun, dalam kasus video viral ini, Voice tidak melakukan delegasi tersebut. Husk kemudian mempertanyakan logika di balik mekanisme itu. āJika ada dorongan dari pengguna seperti ini untuk memeriksa ulang jawabannya, kenapa ia tidak mendelegasikan?ā tanyanya. Karyawan OpenAI tersebut mengakui bahwa pertanyaan itu adalah āpoin yang bagusā.

Model Tersembunyi di Balik ChatGPT Voice
Pengungkapan ini membuka pertanyaan lebih besar mengenai transparansi layanan AI. ChatGPT Voice memang terdengar meyakinkan, tetapi insiden ini menunjukkan bahwa jawaban yang diterima pengguna tidak selalu berasal dari model tercanggih yang dimiliki OpenAI. Pertanyaan penggunaābaik yang penting maupun remehākadang secara sengaja dialihkan ke model yang lebih inferior tanpa disadari.
Kasus ini juga mempertegas bahwa halusinasi masih menjadi persoalan mendasar pada teknologi chatbot. Meski mampu memproses dan merangkum informasi dalam skala besar, model bahasa tetap bisa keliru menjawab pertanyaan sederhana dan enggan mengakui kesalahannya. Perilaku ini mirip dengan bagaimana AI bisa tersandung pada tugas-tugas dasar yang justru mudah bagi manusia.
Kemampuan untuk mengoreksi diri menjadi sorotan utama dari insiden ini. Alih-alih memeriksa ulang jawabannya ketika ditantang pengguna, ChatGPT Voice justru mempertahankan posisinya. Mekanisme delegasi ke model yang lebih kuat, yang menurut karyawan OpenAI tersedia, tidak aktif dalam situasi tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa andal sistem pengalihan model itu bekerja dalam praktiknya.
Respons OpenAI dan Implikasinya
Bantahan dari pihak OpenAI memang membebaskan GPT-6 dari kesalahan dalam video tersebut. Namun, menurut laporan, hal itu tidak menyelesaikan persoalan bagaimana perusahaan AI mempresentasikan teknologi mereka kepada publik. Banyak pengguna kemungkinan tidak menyadari mekanisme tersembunyi di balik chatbot yang mereka ajak bicara, termasuk fakta bahwa pertanyaan mereka kadang diarahkan ke model yang lebih lemah.
Insiden ini menjadi catatan penting bagi pengguna ChatGPT Voice di Indonesia maupun global. Klaim yang disampaikan AI tentang kemampuannya sendiri tidak selalu akurat, dan jawaban yang terdengar percaya diri tidak menjamin kebenaran. Seperti yang ditunjukkan Husk, bahkan pertanyaan sesederhana menghitung huruf dalam sebuah kata bisa berujung pada perdebatan panjang dengan AI yang menolak mengakui kesalahan.
Bagi OpenAI, kasus ini menambah daftar tantangan dalam menjaga kepercayaan pengguna terhadap produk AI mereka. Sebelumnya, perusahaan juga menghadapi berbagai sorotan terkait transparansi dan tata kelola layanannya. Insiden ChatGPT Voice ini menunjukkan bahwa upaya meningkatkan akurasi dan kejujuran model masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Pada akhirnya, video viral tersebut berfungsi sebagai pengingat yang jelas: sekuat apa pun kemampuan sebuah chatbot dalam mengolah informasi, ia tetap bisa gagal pada hal-hal mendasar. Dan ketika gagal, ia tidak selalu tahu cara mengakui kesalahannya.





Komentar
Belum ada komentar.