Telset.id – Amerika Serikat mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan kecerdasan buatan asal China jika terbukti melakukan pencurian kekayaan intelektual. Ancaman ini disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent, menandai eskalasi baru dalam persaingan teknologi antara kedua negara.
Dalam wawancara dengan Fox Business pada Selasa (22/4/2025), Bessent menyatakan bahwa pemerintah AS mendukung model open source, namun tidak akan mentolerir praktik pencurian IP. “Kami melihat banyak pembicaraan tentang model open source yang datang dan mengancam large language models di AS. Pemerintahan ini mendukung model open source, tetapi yang tidak kami dukung adalah pencurian kekayaan intelektual,” ujar Bessent.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kemampuan dan popularitas model AI China, termasuk Moonshot AI dengan Kimi K3. Model-model ini dinilai mengancam model bisnis perusahaan AI terkemuka AS seperti OpenAI dan Anthropic, serta kemampuan mereka untuk mengumpulkan modal guna mengembangkan model frontier.
Langkah Konkret Pemerintah AS
Bessent menegaskan bahwa AS memiliki kapasitas untuk menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan China jika terbukti mencuri kekayaan intelektual dari perusahaan Amerika. “Jika kami melihat, terutama, bahwa model luar negeri mencuri dari perusahaan-perusahaan hebat kami, kami memiliki kemampuan untuk memberikan sanksi kepada mereka karena pencurian ini,” tegasnya.
Komentar ini pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg dan menjadi sinyal paling jelas bahwa Washington kini siap menargetkan langsung model AI, bukan hanya akses ke chip canggih. Sebelumnya, AS telah membatasi akses China ke chip canggih dan memperketat kontrol ekspor.
Laporan Axios pada Senin (21/4/2025) menyebutkan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan larangan menyeluruh terhadap model open source asal China. Meskipun klaim ini masih diperdebatkan, hal ini menunjukkan keseriusan AS dalam menjaga dominasi di bidang AI.
Perusahaan AI telah lama memperingatkan kampanye aktor asing yang menyalin teknologi AI mereka dan menyebarkannya kembali sebagai open source. Pada April lalu, Gedung Putih menyatakan akan bekerja sama erat dengan perusahaan AI untuk memerangi pencurian tersebut.
Kontroversi Model Distillation
Salah satu teknik yang menjadi perhatian adalah model distillation, yaitu metode yang memungkinkan kemampuan model besar diterjemahkan ke sistem yang lebih kecil dan lebih mudah dijalankan. Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa teknik ini merupakan pencurian.
CEO Microsoft Satya Nadella mengkritik asumsi tersebut. “Meskipun inovasi besar dari penyedia model yang memiliki hak penggunaan wajar untuk melatih model pada data publik diperlukan, saya merasa ironis bahwa status quo kemudian berbalik menerapkan persyaratan ketat pada distillation,” ujarnya awal bulan ini.
Praktik pelatihan model AI terus menjadi sumber risiko hukum bagi perusahaan. Anthropic baru saja mendapat izin untuk mulai memotong pembayaran kepada penulis sebagai bagian dari penyelesaian $1,5 miliar, setelah hakim memutuskan perusahaan tersebut secara ilegal mengunduh dan menyimpan jutaan buku berhak cipta untuk melatih AI.
CEO Hugging Face Clem Delangue berpendapat bahwa distillation bukan satu-satunya alasan China mengejar ketertinggalan dari perusahaan AI AS. “Kami tahu distillation adalah faktor yang sangat kecil dalam kemampuan menciptakan model yang baik, dan ini praktik yang dilakukan semua orang, termasuk perusahaan di AS. Jika mudah hanya melakukan distillation untuk menjadi pandai membangun model AI, akan ada banyak negara lain, termasuk di AS, dengan open source AI yang jauh lebih baik. Kenyataannya, mereka memiliki tim riset yang sangat, sangat bagus di China… mengambil pendekatan yang jauh lebih terbuka dan kolaboratif terhadap AI dibandingkan di AS,” jelas Delangue.
Baca Juga:
Implikasi bagi Industri AI Global
Ancaman sanksi ini menambah daftar strategi yang digunakan pemerintah AS untuk mempertahankan keunggulan dalam perlombaan AI. Setelah membatasi akses China ke chip canggih dan memperketat kontrol ekspor, Washington kini mengisyaratkan akan menargetkan model AI itu sendiri.
Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam kompetisi teknologi antara laboratorium frontier dan alternatif open source China. Jika sanksi benar-benar diterapkan, dampaknya akan terasa di seluruh ekosistem AI global, termasuk pengguna dan pengembang di Indonesia.
Persaingan antara AS dan China di bidang AI kini memasuki babak baru. Dengan ancaman sanksi langsung terhadap model AI, pemerintah AS menunjukkan keseriusannya untuk melindungi perusahaan teknologi dalam negeri dari praktik yang dianggap merugikan.
Namun, perdebatan tentang apa yang dimaksud dengan pencurian kekayaan intelektual dalam konteks AI masih terus berlangsung. Teknik seperti model distillation masih menjadi area abu-abu yang belum memiliki definisi hukum yang jelas.





Komentar
Belum ada komentar.